Internasional

Masyarakat Ingin Kereta Cepat Malaysia-Singapura Dilanjutkan

News - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
29 May 2018 15:20
Masyarakat Ingin Kereta Cepat Malaysia-Singapura Dilanjutkan
Singapura, CNBC Indonesia - Harapan masyarakat agar proyek kereta cepat (High Speed Rail/ HSR) tetap berjalan tidak runtuh. Mereka masih berharap proyek yang akan menghubungkan Kuala Lumpur dan Singapura hanya dengan 90 menit perjalanan itu akan kembali dijalankan ketika keuangan Malaysia membaik.

Pada hari Senin (28/5/2018), Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan proyek tersebut akan dibatalkan. Pengumuman itu sontak memicu perdebatan warganet di media sosial.


"Perlu memperlambat langkah ketika keuangan atau perekonomian bermasalah," kata seorang warganet, Richard Koh, lewat komentarnya di salah satu akun situs berita di Facebook, dilansir dari The Star, Selasa (29/5/018).


Koh berharap kereta cepat itu nantinya tidak hanya menghubungkan Kuala Lumpur, tapi juga Penang dengan Negeri Singa.

"Saat [kondisi] Anda cukup baik untuk melakukannya, bagus juga untuk mengoperasikan HSR ke Penang dan seterusnya," tulis Koh.

Sependapat dengan Koh, Robert Lim juga berharap pemerintah Malaysia bisa mempertimbangkan sebuah konsorsium yang terdiri dari beberapa perusahaan Malaysia untuk mengambil alih proyek pembangunan kereta cepat. Menurut dia, pilihan itu akan lebih baik ketimbang membatalkan proyeknya.

"Merevisi HSR dari Penang ke Singapura, sehingga pada akhirnya akan menggantikan KTM [Keretapi Tanah Melayu] yang menua," tulisnya.

Ia menyebutkan Genting Group, sebuah konglomerasi Malaysia, sebagai salah satu pihak yang berpotensi dilibatkan dalam konsorsium.


Dalam pengumuman yang disampaikan, Mahathir yang dilantik sebagai Perdana Menteri ketujuh Malaysia 19 hari lalu, mengatakan Malaysia akan membayar 500 juta ringgit (Rp 1,7 triliun) sebagai kompensasi untuk Singapura karena membatalkan proyek tersebut.

Proyek yang dijadwalkan selesai tahun 2026 itu kabarnya membuat Malaysia menggelontorkan dana sekitar 50 miliar ringgit dan 60 miliar ringgit.

Selain itu, ada juga usulan baik dari masyarakat agar Singapura menolak kompensasi itu.

"Saya yakin ini adalah peluang luar biasa bagi Singapura untuk membangun relasi yang lebih kuat dengan Malaysia. Yakni, Singapura melupakan ongkos hukum atau apapun yang terkait dengan pembatalan proyek HSR," tulis Wah Ng.

"Malaysia dan Singapura layaknya saudara dan Malaysia benar-benar sedang menghadapi tsunami keuangan. Meskipun jumlah yang dikorbankan, untuk membatalkan proyek dengan Singapura, tidak sedikit, itu akan menunjukkan kapasitas Singapura. Saya yakin jika melakukan hal itu, pemimpin akan memperoleh pandangan yang lebih baik, tidak hanya dari warga Singapura tapi juga masyarakat ASEAN," jelas Ng.

Meskipun begitu, Andrew Goh nampaknya memiliki gagasan yang lebih baik. Meskipun dia tidak setuju dengan gagasan menolak kompensasi karena "itu adalah uang para wajib pajak," dia menyarankan "apa yang bisa dinegosiasikan adalah memberi pinjaman antar pemerintah [government-to-government] ke Malaysia yang dapat dibayarkan dalam periode, misalnya, 10 sampai 20 tahun."

"Alternatifnya, menyesuaikan pembagian struktur 60% dan 40% dari usaha gabungan Malaysia-Singapura."

Mahathir sendiri mengatakan kereta cepat tidak menguntungkan Malaysia karena membuat negara itu membayar dalam jumlah yang besar. Dia berkata Malaysia tidak akan menghasilkan satu sen pun dari proyek itu karena relnya yang pendek.


Menurut perhitungan UOB Kay Hian Malaysia Research, kereta cepat membutuhkan dana sekitar 40 juta ringgit per kilometer, sudah termasuk sistem dan rel.

Proyek kereta cepat sepanjang 350 kilometer dengan menjangkau 15 kilometer wilayah Singapura itu dijadwalkan untuk selesai tahun 2026.

Pada bulan Desember 2016, Malaysia, di bawah kepemimpinan mantan Perdana Menteri Najib Razak, menandatangani perjanjian bilateral tentang kereta cepat dengan Singapura.
(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading