Peringatan Keras Defisit Perdagangan dan Rapuhnya Ekonomi RI

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
15 March 2018 16:21
Defisit neraca perdagangan sudah terjadi tiga bulan berturut-turut. Apa yang salah?
Bank Indonesia (BI) juga menyampaikan kekhawatian serupa. Agus DW Martowardojo, Gubernur BI, mengatakan impor (terutama bahan baku) sudah meningkat sejak akhir tahun lalu. 

Tingginya impor, lanjut Agus, disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang lebih baik pada 2018. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini di kisaran 5,1-5,5%, lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 5,07%. 

Ketika impor melonjak, maka aktivitas pengiriman barang dari luar negeri pastinya juga ikut naik. Maka biaya pengiriman (freight) ikut naik, yang memberikan terkanan terhadap neraca jasa.  


Neraca perdagangan dan neraca jasa merupakan komponen dari transaksi berjalan (current account), sebuah neraca yang menggambarkan arus devisa di sebuah negara dari sektor riil. Ketika transaksi berjalan surplus, maka devisa yang tersedia cukup memadai sementara ketika defisit maka yang terjadi adalah sebaliknya. 

Betul, Indonesia memang masih mengalami defisit di transaksi berjalan. Namun dalam kondisi seperti ini, di mana neraca perdagangan dan neraca jasa tertekan, defisit transaksi berjalan cenderung semakin dalam. Pada 2017, defisit transaksi berjalan tercatat 1,7% terhadap produk domestik bruto (PDB) dan tahun ini diperkirakan naik menjadi 2,1% PDB. 

"Ini sesuatu yang perlu diwaspadai," tegas Agus.

Defisit Perdagangan dan PR Industrialisasi yang Belum TuntasReuters
Fundamental Rapuh, Jangan Heran Rupiah Melemah
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading