RI Siap Hadapi Efek Kebijakan The Fed di Bawah Powell

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
26 January 2018 12:02
RI Siap Hadapi Efek Kebijakan The Fed di Bawah Powell
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, diperkirakan tetap akan menerapkan kebijakan pengetatan moneter yang bertahap dan perlahan walaupun pucuk pimpinannya akan berganti bulan depan.

Senat AS beberapa hari lalu telah menyetujui penunjukan Jerome Powell sebagai gubernur The Fed menggantikan Janet Yellen. Bank Indonesia (BI) maupun ekonom optimistis Powell, yang saat ini menjabat sebagai anggota dewan gubernur The Fed, akan meneruskan kebijakan Yellen yang moderat atau dovish.


Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya, Fed Fund Rate, sebanyak tiga kali tahun ini.


Tahun lalu, The Fed menaikkan suku bunganya sebanyak dua kali masing-masing sebesar 25 basis poin.

Kenaikan suku bunga kebijakan The Fed tahun ini tentu berpotensi menyebabkan arus modal asing keluar dari negara-negara berkembang, tak terkecuali Indonesia, kata Andry. Namun, tambahnya, hal tersebut masih bisa direspon oleh BI.

“Pada pasar obligasi, kemungkinan bond yield-nya akan sedikit naik. Kalau bonds market relatif aman, karena ada standby buyer, yaitu BI,” kata Andry.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat bahwa reformasi pajak AS yang salah satunya memangkas pajak korporasi menjadi 21% dari 35% akan menggerakkan perekonomian AS.

“Inflasi [AS] akan naik lagi. Ada ekspektasi ke sana, dan ini akan menjadi pertimbangan [dalam menaikkan Fed Fund Rate],” jelasnya.

Oleh karenanya, dibutuhkan bantalan yang cukup untuk meminimalisir gejolak eksternal. Dari posisi cadangan devisa saat ini, menurut Josua, Indonesia masih mampu mengkompensasi terjadinya arus modal keluar dari pasar keuangan.

Cadangan devisa Indonesia tercatat berjumlah US$130,20 miliar (Rp 1,7 kuadriliun) pada akhir tahun lalu, lebih tinggi dibandingkan posisi akhir November 2017 sebesar $125,97 miliar.

Jumlah tersebut cukup untuk membiayai 8,6 bulan impor atau 8,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.


Di samping itu, tambah Josua, persepsi investor asing terhadap perekonomian Indonesia masih cukup baik, seiring dengan peringkat layak investasi yang disematkan sejumlah lembaga pemeringkat internasional.

“Maka dari itu, stance BI akan tetap netral dan flat untuk menjaga [kestabilan moneter dalam negeri],” katanya.

Sebelumnya, dalam wawancara khusus dengan CNBC Indonesia, Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo mengatakan BI selalu menghitung berbagai risiko, termasuk risiko eksternal, sebelum mengambil kebijakan moneter.

“Kemudian, kita punya bentuk dalam menstabilisasi nilai tukar melalui intervensi. Sudah pasti kita menjaga nilai tukar kita sesuai fundamentalnya,” ujarnya.

Upaya intervensi itu dapat dilakukan baik melalui intervensi langsung maupun intervensi melalui nilai tukar valuta asing (valas) dan dengan surat utang negara (SUN)

“Kita tidak bisa menghindar rupiah imun dari kondisi eksternal. Kalau regionalnya bergerak melemah, biasanya rupiah terbawa,” kata Dody. “Tapi kita punya positifnya. Sepanjang domestiknya bisa kita jaga, dan ini menjadi poin, tetap ada net inflow masuk.”

BI masih memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya sebanyak tiga kali tahun ini. (prm/prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading