Special Interview

BI: Stance Netral untuk Hadapi Risiko Global 2018

Profil - Prima Wirayani & Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
15 January 2018 09:35
BI: <em>Stance</em> Netral untuk Hadapi Risiko Global 2018
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan dan perekonomian di Indonesia. Kondisi perekonomian di dalam negeri pada tahun 2017 memang penuh dengan banyak tantangan.

Bagaimana kondisi sesungguhnya perekonomian Indonesia tahun 2017 dan proyeksi tahun 2018? Bagaimana arah kebijakan BI di tengah gejolak ekonomi global?

Editor Prima Wirayani dan Reporter Chandra Gian Asmara mewakili CNBC Indonesia melakukan wawancara khusus dengan Asisten Gubernur dan Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo akhir pekan lalu, Jumat (12/1/2018).


Berikut hasil petikan wawancaranya :

Bisa dijelaskan, bagaimana BI melihat kondisi ekonomi Indonesia 2017 dan 2018?

Kalau 2017 kita lihat progress, performance perekonomian kita cukup positif. Artinya, pertama stabilitas makro ekonomi terjaga. Di tengah stabilitas itu, kita mampu terus mendorong momentum pertumbuhan. Memang kita masih menunggu angka pertumbuhan (kuartal IV-2017) di Februari nanti. Tapi kalau kita lihat sekarang, bisa dibilang ekonomi kita sudah masuk fase ekspansi sejak tahun 2015. Kita ekspansi meskipun memang kecepatan ekspansi tidak begitu tinggi. Tetapi kita improve setelah mengalami penurunan pertumbuhan di sekitar 4-5 tahun sebelumnya. Jadi kita sudah di titik yang bawah, dan kita sedang naik ke atas.

Stabilitas itu terjaga paling tidak kita lihat dari inflasi. Inflasi angka 3,61% itu inflasi tiga tahun terakhir kita masuk dalam sasaran. Jangan dilihat kita dibawah target, tapi itu kita masuk di sasaran 4 plus minus satu persen. Jadi 3-5%. Bahkan kita di bawah mid 4%. Kalau dilihat dari komponen, inflasi inti mencapai 2,95%. Ini adalah yang terendah dalam 15 tahun terakhir.

Di dalamnya, faktor utamanya adalah kemampuan BI dalam menjaga ekspektasi inflasi itu terjangkar pada targetnya, Ini yang paling sulit. Kalau kita bicara inflasi, paling sulit kemampuan bagaimana mengelola ekspektasi. Kalau ekspektasi sudah mengatakan inflasi tinggi, mau apapun kita lakukan kebijakan masyarakat selalu akan mengatakan inflasi tinggi. Jadi managing ekspektasi itu di semua bank sentral menjadi semacam art, dan itu perlu konsistensi kebijakan. Disini kita lihat keberhasilan BI pemerintah di tiga tahun terakhir itu mengelola ekspektasi.

BI: <em>Stance</em> Netral untuk Hadapi Risiko Global 2018Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Luthfi Rahman


Yang kedua ada juga masalah kita mampu menjaga stabilitas nilai tukar. Sehingga pass through daripada nilai tukar ke inflasi rendah, Meskipun kita tahu permintaan masyarakat cenderung memang turun, karena pertumbuhan ekonomi relatif tidak seperti yang diharapkan. Kemudian kalau kita lihat lagi dari inflasi pangan atau volatile food. Angkanya 0,71 itu juga terendah dalam 13-14 tahun terakhir. Jarang-jarang kita dapat volatile food yang biasanya sering double digit, sekarang sampai nol koma sekian. Ini keberhasilan pemerintah, BI, TPID (Tim Pengelola Inflasi Daerah), jaga pasokan, jaga distribusi, itu membantu volatile food rendah.

Untuk administered prices, memang kita mengalami kenaikan inflasi sampai 8,6%. Dan ini lebih kepada di paruh pertama, pemerintah menerapkan kebijakan penyesuaian tarif listrik. It’s okay karena itu bagian structure reform di bidang energi dan fiskal. Di paruh kedua, bisa dikatakan pemerintah BI bisa menjaga second round effect dari perubahan apapun yang terkait dengan harga bbm agar tidak pass through kepada inflasi. Jadi itu adalah pencapaian yang baik di tahun lalu.

Nilai tukar bisa dikatakan cukup stabil, meskipun kita mengalami pelemahan di awal kuartal IV. Tapi setelah itu relatif kita baik. Kita tahu Fed Fund Rate dinaikan tiga kali, bahkan di periode itu pun kita masih mengalami nett inflow. Sepanjang tahun lalu, iflow kita US$9,6-9,7 billion, meningkat dari US$ 9,3 di 2016, in nett pada saat tekanan eksternalnya cukup besar. Kemudian kalau dilihat dari yang lahit, dari current account hanya defisit sekitar 2% untuk suatu pencapaian yang selama ini bisa diatas 2-2,5%. Jadi cukup baik untuk kita katakan eksternal cukup positif.

Nah, bagaimana dengan 2018? 2018 kita punya risiko eksternal tetap terbuka, bagaimana pengaruh normalisasi kebijakan moneter di berbagai negara, di advance country. Bagaimana pelaksanaan tax reform Amerika terhadap emerging coutries, apakah positif atau negatif bagi emerging. Di domestiknya juga kita masih punya masalah seperti konsolidasi di korporasi dan perbankan yang mungkin masih terus berlangsung, sehingga dari sisi kredit juga belum begitu ekspansif, kegiatan ekspansinya juga belum optimal dari dunia usaha. Sehingga kalau kita lihat 2018 memang yang pertama, kita masih meyakini pertumbuhan ekonomi akan lebih baik. Artinya di dalam range proyeksi kita 5,1-5,5%. Di 2017 mungkin 5,05%. Jadi ada suatu kenaikan. Memang kenaikan ini belum tentu tinggi, karena risiko yang masih kita hadapi. Tetapi kalau dalam proyeksi outlooknya BI, kita melihat pertumbuhannya lebih baik.

Faktornya adalah, investasi itu kemungkinan akan tumbuh diatas tahun lalu. Ini relatif lebih berimbang antara kombinasi pemerintah melalui infrastruktur, termasuk swasta yang sudah mulai ekspansi meksipun masih basis investasinya komoditi primer dan manufaktur. manufaktur menjadi kunci, karena bagaimanapun juga ini adalah lapangan usaha yang menyerap tenaga kerja begitu besar. Termasuk konstribusnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Kemudian juga kalau kita lihat yang kedua, dari sisi stimulus fiskal.

Kalau bicara mengenai stimulus fiskal, kita melihat perimbangan antara stimulus melalui infrastruktur yang sifatnya jangka menengah panjang dengan keseimbangan spending pemerintah melalui belanja barang dan belanja pegawai yang merupakan stimulus jangka pendek, itu lebih berimbang kalau kita lihat di postur fiskal tahun ini. Kalau tahun lalu, bobot lebih banyak ke infrastruktur, sehingga tidak heran kita lihat pengaruh fiskal ke perekonomian tidak begitu cepat, karena memang selesainya infrastruktur butuh leg waktu, dan akan berdampak pada ekonomi setelah itu. Kalau kita inginkan adanya perimbangan, karena ekonominya butuh jangka pendek, harus alokasikan sebagian dana infrastruktur ke yang belanja barang. Dan itu kita lihat posturnya di tahun ini.

Kemudian yang kedua, kita juga lihat dana bansos, dana bantuan desa, cash for work yang dilakukan pemerinah sebagian besar alokasinya di 2018. Ini yang menjadi income policy pemerintah non fiskal. Karena ini akan membantu daripada belanja konsumsi kelompok menengah kebawah. Permasalahan konsumsi akan tetap menjadi permasalahan seperti tahun lalu. Mungkin konsumsi kita akan lebih tinggi dari tahun lalu, meskipun tidak pesat. Kunci ketiga adalah confidence. Ini sangat menyangkut pada masalah kelompok menengah keatas, dari sisi konsumsi dan investasi. Confidence bagwa future income mereka terjaga, confidence bahwa dari dunia usaha tidak terganggu. Karena kita akan melihat event-event politik di tahun ini dan tahun depan.

Bagi kita risiko kita sudah masuk hitungan terakurasi kPealau kita lihat series event politik sejak 2004, termasuk 2015-2017 pada Pilkada. Pengaruh positinya ada, yaitu konsumsi terbantu. Pengaruh negatifnya ada, kalau keamanannya memburuk. Tapi kalau lihat pengalaman selama ini, event politik dan event ekonomi itu relatif bisa jalan bersama, artinya kita sudah termasuk mature dari sisi politik. Dulu memang menganggu ekonomi, tapi di beberapa tahun terakhir relatif sudah smooth. Sepanjang keamanannya dijaga, saya rasa dampak ke ekonominya tidak besar. Bahkan kita akan mengalami dua event besar lainnya seperti Asian Games, dan IMF-World Bank Annual Meeting ditengah-tengah politiknya yang sedang melakukan event lima tahunan. Jadi di 2018 risiko tetap ada, tapi terakurasi. Oleh karena itu outlook kita masih meyakini pertumbuhan ekonomi akan lebih baik dari tahun lalu, stabilitas akan menjadi mandat BI menjaga.

Inflasi volatile food sepanjang 2017 terjaga. Tapi awal tahun ini, pemerintah memutuskan untuk mengimpor beras. Risikonya seperti apa?

Kalau harga beras, inflasi beras itu jadi pr kita sejak September tahun lalu. Masalah dari HET memang sedikit banyak berpengaruh pada di petani, pada akhirnya mengurangi pasokan. Kuncinya, pertama sepanjang iklim bagus, produksi bagus, panennya bagus sama seperti tahun lalu. Ini kan hanya masalah di supply, apakah pasokan ada, apakah distribusinya ada. Sehingga tidak ada permasalahan penimbunan. Kalau pasakan berkurang karena cuaca, tahun ini prediksi BMKG adalah kondisnya tidak akan terlalu mengancam, artinya supply produksi tidak akan terganggu,

Kedua adalah masalah impor. Kalau masalah impor mungkin ini harus menjadi semacam breaker kalau kondisi supply domestik terganggu. Kondisi impor memang sekarang ini masih dalam pembahasan pemerintah. Kalau memang kondisi terakhir pasokannya berkurang, tidak ada pilihan bagi pemerintah untuk tidak melakukan itu. Hanya yang penting adalah timingnya. Jangan sampai kita impor pada saat panen. Ini sering kali begitu. Harusnya impor itu pada saat kondisi supply terbatas. Kemduian, kalau masalah distribusinya itu menganggu, harusnya dari sisi pemerintah, TPID, kita juga punya satgas pangan, harusnya bisa mengatasi masalah itu.

Kami melihat harga beras itu isu strategis bagi siapapun di negara ini karena menyangkut rakyat banyak. Jadi harusnya tidak akan menjadi isu yang akan berlangsung selama satu tahun. Tahun awal ini kita akan melakukan pertemuan di level pemerintah untuk masalah beras, dan mudah-mudahan ada solusinya.

BI: <em>Stance</em> Netral untuk Hadapi Risiko Global 2018Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Luthfi Rahman


Berarti memang solusinya harus jaga supply?

Jaga supply, jaga distribusi.

Core inflation rendah, apakah ada indikasi purchasing power juga rendah? Tahun ini seperti apa?

Komponen terbesar core inflation adalah ekspektasi. Kedua, dari sisi pass through nilai tukar, dan ketiga demand. Dan kalau kita lihat dari ketiga-tiganya, memang demand ada disitu karena dari sisi konsumsi tidak begitu tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Artinya dengan (konsumsi) 4,98%, sekitar 5%, itu masih sama dengan pertumbuhan rata-rata konsumsi kita 5%. Konsumsi bisa dikatakan, apapun kondisi ekonominya, masyarakat akan consume. Memang ada satu dua kelompok menengah keatas yang shifting, dia lebih rasional, lebih efisien. Kurangi belanja, pindahkan ke sifatnya leisure, atau pindahkan ke investasi atau simpanan. Tetapi mayoritas masih akan consume. Sehingga masih disekitar situ. Sehingga konsumsi itu tidak akan drop sekali.

Dengan 260 juta masyarakat, dia akan consume. Dia tidak akan bisa drop di 4% level bawah, atau naik sampe 6%. Kita akan bergerak di 5%. Sehingga kalau melihat inflasi inti, yang berperan adalah ekspektasinya. Adanya keyakinan yang terjangkar, bahwa inflasi akan dijaga bank sentral, sehingga tidak akan melebih target. Sehingga itu yang membangun ekspektasi rendah, itu yang membangun kebijakan yang kredibel di mata masyarakat. Ini proses, dan butuh waktu yang panjang sekali. Ini semacam gaining kebijakan kredibel, komunikasi yang transparan, untuk masyarakat mengatakan inflasi tidak naik.

Event-event besar seperti Pilkada, Asian Games, IMF-World Bank, apakah bisa membantu mendorong konsumsi masyarakat tahun ini?

Pertama tergantung belanja partai. Kalau di 2004 awal-awal lalu belanja jor-joran. Mungkin sekarang kondisinya berbeda. Itu kalau kita bicara Pilkada, Pileg, Pemilu. Ada juga event Asian Games dan IMF-World Bank Meeting.

Memang dalam hitungan kita, itu punya pengaruh ke petumbuhan bisa menambah sekitar 0,03% secara kalkulasi kita. Itu juga telah memperhitungkan dibelanjakan. Pengaruh yang lain apakah kemudian ke investasi atau konsumsi karena khawatir, berangkat dari yang pertama, ekonomi dan politik itu bisa berjalan beriring. Artinya tidak kemudian dia memengaruhi atau mengkhawtirkan pelaku ekonomi, sepanjang dia kondisi kemananan menjadi buruk. Ini yang kita tidak harapkan. Tapi saya tidak melihat tahun ini menjadi penghalang, tapi menjadi pendorong.

Memang konsumsi itu tidak di 5%, tapi di kisaran 5%. Jarang konsumsi melonjak sampai 7%. Ini kisaran 5%. Dan konsumsi itu bisa menjadi penggerak pertu pertmbuhan, karena bobot di pertumbuhan itu sekitar 54-60%. Jadi sekali kenaikan kecil ke konsumsi, dengan kelipatan bobot yang besar, akan pengaruh ke PDB.

Harga minyak kemarin sampai US$ 70 per barel, efek ke inflasinya seperti apa?

Kalau harga minyak, siapapun tidak akan tau harga minyak seperti apa. Pertama, dengan harga minyak tinggi akan menguntungkan Amerika untuk genjot produksi. Tapi dengan harga minyak yang tinggi, mungkin bagi negara OPEC, mereka akan khawatir semua negara akan berlomba untuk ekspansi.

Jadi muncul range harga yang besar. Kalau untuk ke fiskal, akan berdampak pada penerimaan pajak. Positif bagi fiskal. Bagi ke inflasi, dengan harga bbm yang naik, ada bbm non subsidi Pertamax, Pertadex, yang sekarang ini sudah adjust ke harga pasar, ini akan naik. Otomatis, tidak perlu harus menunggu pemerintah. Kalau naik, pasti akan ada pengaruh ke inflasi.

Sementara, pemerintah tidak akan menaikan untuk yang subsidi. Sehingga tentunya tidak akan menganggu subsidi fiskal yang harus ditambah. Jadi akan membantu pemerintah, pemerintah akan ekspansi lebih banyak, spending lebih banyak, dan defisit lebih rendah dari perkiran di awal. Itu konteks utama.

Kalau ada pass through harga minyak ke core inflation, kepada nilai tukar, policy rate akan disesuaikan. Karena setiap kali kita menetapkan policy rate, kalau teman-teman dengarkan, kita akan melihat ekspektasi. Inflasi akan apa kedepan, nilai tukar akan apa kedepan, current account seperti apa kedepannya. Ekspektasi yang akan kita lihat, untuk menetapkan policy rate kita. KIta juga akan melihat pengaruh dari risiko global, eksternal dalam perekonomian di policy rate kita. Misalnya selisih suku bunga, atau riil interest rate kita seperti apa.

Jadi stance moneter BI tahun ini bagaimana?

Kita akan tetap jaga stance netral. Netral artinya dengan kondisi hari ini 4,25%, ini adalah suku bunga yang fit untuk ekonomi. Kita telah menangkap risiko internal eksternalnya, juga menangkap risiko domestik. Artinya domestiknya, ekspektasi inflasi sudah tertangkap 4,25%. Ekspektasi depresiasinya juga sudah cukup tertangkap 4,25% suku bunga kita. Risiko lainnya kalau misalnya ada capital revearsal karena eksternal, juga sudah kami anggap cukup kompetitif dibandingkan suku bunga di luar.

Bagaimana kedepannya? Tentu akan sangat berpengaruh, inflasi dan nilai tukar. Sepanjang ekspektasi kita katakan tidak dalam suatu ancaman, tidak perlu kita sesuaikan. Dan kit ada piranti lainnya, yaitu bauran melalui sistem pembayaran yang akan kita kedepankan.

Kenaikan harga minyak kepada inflasi, apakah BI memiliki kalkulasi tersendiri?

Kami tidak bisa langsung begitu. Misalnya kalau harga bbm naik, itu bisa hit transportasi, ke pangannya karena angkutan, bisa juga hit ke konsumsi. Tapi tidak langsung seperti fiskal akan meningkatkan penerimaan pajak, jalur subsidi. Kalau kita jalurnya sangat panjang, karena lebih luas. Jadi tidak bisa kalau harga minyak naik sekian persen, ke inflasi sekian.

Bagaimana cara BI memitigasi berbagai risiko-risiko global, seperti normalisasi kebijakan moneter bank sentral dunia, reformasi pajak AS, dan lain-lainnya?

Pertama, kebijakan yang kami keluarkan selau mengkalkulasi risiko. Kita masukan komponen di dalamnya. Seperti kemarin kita menurunkan suku bunga, kita hitung berapa risiko kalau kalau terjadi capital revearsal. Berikutnya, bagaimana kita antisipasi itu. Sepanjang angka suku bunga kita itu bisa menampung potensi-potensi revearsal dana, atau risiko yang muncul dari global, itu harus terlihat dari antisipasi kita.

Kemudian, kita punya bentuk dalam menstabilisasi nilai tukar melalui intervensi. Sudah pasti kita menjaga nilai tukar kita sesuai fundamentalnya. Dan itu bisa dilakukan baik melalui intervensi langsung, maupun intervensi melalui nilai tukar valas dan dengan SUN. Jadi kombinasi itu yang akan kita gunakan.

Pertama, kita tidak bisa menghindar rupiah imun dari kondisi eksternal. Kalau regionalnya bergerak melemah, biasanya rupiah terbawa. Tapi kita punya positifnya, sepanjang domestiknya bisa kita jaga, dan ini menjadi poin, tetap ada nett inflow masuk. Ini positifnya kemarin kita kenaikan Fed Fund Rate ketiga, kita masih mengalami inflow ke perekonomian. Dan pada saat itu juga kita jelang koreksi peringkat rating meningkat. Cadangan devisa sudah diumumkan ke level yang lebih tinggi. Kita hanya memberikan confidence.

Ekspektasi kenaikan The Fed tahun ini berapa?

Masih tiga kali untuk tahun ini.

Dari sisi domestik, apakah tahun ini masih ada konsolidasi?

Kalau konsolidasi lebih cepat, itu jadi faktor penambah outlook kita menjadi lebih tinggi. Karena ini masih menjadi risiko perekonomian. Konsolidasi korporasi yang belum selesai, konsolidasi perbankan yang bsia dikatakan masih terus berlansung, dan ini menahan pengusaha investor untuk mau meningkatkan ekspansi usahanya untuk kemudian perbankan mau landing.

Sebenarnya permasalahan lending, ini demand dan supply. Kalau tidak ada demand, bagaimana kita berikan lending. Meskipun ada demand, kalau misalnya supply perbankan ketat, lending standard tinggi, juga tidak. Jadi itu akan menjadi faktor menentu outlook kita semakin tinggi.

Memang kecepatan akan sangat bergantung. Ini di korporasi adalah bagaimana confidence ada di mereka. Sekarang dalam kondisi permasalahan event politik yang terkait sama Polhukam, memang selalu masalah confidence ada disitu. Kalau memang confidence bisa terus dibangun, diberikan nuansa positif, masalah konsolidasi itu akan berkurang. Orang tidak lagi keep dananya, orang tidak lagi menahan capexnya. Harusnya ini menjadi poin. Kalau masalah confidence, ujungnya pada komunikasi.

Instrumen yang paling kuat untuk confidence, selain kebijakan itu sendiri adalah komunikasi. Komunikasi menjangkar pada ekspektasi pengusaha, bahwa future income mereka baik, future economic growth kita cukup baik. Itu adalah semacam art daripada ekonomi disitu. BIcara, bukan hanya kebijakan saja.
Kalau fiskal sudah pasti stimulus, apalagi harga minyak bisa bantu penerimaan. Kalau bisa saya tambahkan, eksternalnya bisa saja membantu outlook kita lebih baik kalau saja tax reform Amerika itu berjalan, ekonomi Amerika bisa lebih tinggi, dan pasti akan membuka ekspor kita.

Apabila konsolidasi lebih cepat, eksternalnya mendorong, apakah outlook ekonomi tahun ini bisa berubah?

Kita hanya punya range 5,1-5,5%. Jadi masih di dalam range itu.

Lebih ke batas bawah atau batas atas?

Batas atas.

Bagaimana prospek kredit perbankan tahun ini?

Tahun lalu, angka di Desember itu 8,1%. Angka masih belum keluar, tapi angka sementara 8,1%. Jadi masuk di dalam koreksi angka kredit 8-10%. Penyebabnya jelas, demand tidak begitu tinggi karena korporasi masih belum ekspansi. Dari sisi supply juga relatif perbankan masih coba untuk lebih prudent, kualitas kredit dijaga supaya NPL tidak begitu meningkat. Jadi dua sisi masih berpengaruh.

Tahun ini, confidence ada, demand ada, supply dan likuiditas sangat besar dan ample, harusnya pertumbuhan 10% itu bisa fit untuk perekonomian.

Para pelaku pasar masih mengingat siklus 10 tahunan yang terjadi. Bagaimana BI menjelaskan hal ini?

Kita tidak ada mengatakan 10 tahunan. Artinya anggap seperti biasa, tahun ini punya risiko yang sama, atau lebih buruk dari tahun lalu. Kalau siklusnya berkaitan dengan tahun politik, toh kita politik sudah mulai beriring dengan ekonominya. Ekonominya kemudian tidak stop, tapi bisa tumbuh. Saya rasa juga stabilitas keamanan dijaga, ini juga taruhan pemerintah sekarang.

Kami tidak melihat masalah ini perlu dikhawatirkan. Toh juga kita meyakinkan, ada event internasional yang dibawa kesini. Keyakinan harusnya dibaca untuk menjaga kekuatan ekonomi kita.

Artinya dalam kondisi sekarang dibandingkan 10 tahun yang lalu sudah berbeda ya?

Saya rasa berbeda ya. Dari sisi kematangan demokrasi kita jauh lebih baik dari negara lain. Sektor keuangan juga. Kuncinya kalau inflow masih banyak ke perekonomian, itu jaminan bahwa masih ada keyakinan dari luar. Keyakinan dari investor asing. Ini harus dikikis oleh temen-temen. Ini contoh dari ekspektasi. Kalau dibiarkan, pasti akan ada apa-apa.

Jadi sebenarnya Indonesia lebih cocok inflasinya rendah?

Kita masih di era inflation, kita belum di era deflasi. Jadi kita kecenderungan harga itu bergerak naik, tetapi yang diupayakan bergerak dalam kenaikan yang rendah dan stabil. Dan itu sudah terjadi tiga tahun terakhir. Kita sudah bisa bersainglah dengan regional, karena selama ini 7-8%. Sementara di regional 2-3%. Kalau di negara maju, kenaikan harga itu bukan lagi karena supply dan demandnya. Ada demand meningkat, output supply tersedia. Meskipun di Indonesia agak unik, karena banyak pulau jadi distribusi menjadi satu faktor. Oleh karena itu, kita masih di konteks inflasi. Sehingga kalau kita melihat inflasi itu rendah, itu adalah suatu pencapaian, bukan sebaliknya. Karena kita selalu ada di atas.

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading