Minyak Turun Lagi! Sinyal Damai AS-Iran, Pasar Berbalik Arah
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali terkoreksi pada perdagangan Rabu (6/5/2026) pagi waktu Indonesia. Setelah sempat melonjak tajam pekan lalu, arah pasar berubah cepat seiring munculnya harapan meredanya konflik di Timur Tengah.
Mengacu data Refinitiv per pukul 09.55 WIB, harga minyak Brent berada di level US$108,12 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) tercatat di US$100,75 per barel. Keduanya melanjutkan pelemahan dari hari sebelumnya, di mana Brent masih di US$109,87 dan WTI di US$102,27.
Pergerakan ini memperpanjang tren koreksi dalam dua hari terakhir. Padahal, jika ditarik ke awal pekan, harga sempat menyentuh level tinggi Brent di US$114,44 pada 4 Mei dan bahkan sempat berada di atas US$118 pada akhir April. Artinya, dalam hitungan hari, tekanan jual datang cukup dalam.
Arah pasar berubah setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membuka peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran. Ia menyebut adanya progress menuju perjanjian komprehensif, meski detailnya belum diungkap ke publik.
Pernyataan tersebut langsung menggeser ekspektasi pasar. Selama ini, konflik di sekitar Selat Hormuz membuat pasokan global tertekan. Jalur ini memegang peran vital karena menyalurkan sekitar seperlima suplai minyak dan gas dunia. Ketika jalur ini terganggu, harga terdorong naik. Sekarang, harapan terbukanya kembali aliran pasokan membuat tekanan harga muncul.
Trump juga menyampaikan penghentian sementara operasi pengawalan kapal tanker oleh militer AS untuk memberi ruang negosiasi. Di sisi lain, blokade terhadap pelabuhan Iran masih berjalan. Situasi ini membuat pasar berada dalam fase tarik-menarik antara risiko geopolitik dan potensi normalisasi suplai.
Dari sisi fundamental, data persediaan minyak AS memberi lapisan cerita tambahan. Stok minyak mentah dilaporkan turun 8,1 juta barel dalam sepekan terakhir. Penurunan juga terjadi pada bensin sebesar 6,1 juta barel dan distilat 4,6 juta barel. Angka ini mengindikasikan pasokan global sebelumnya memang dalam kondisi ketat.
Namun untuk saat ini, sentimen geopolitik lebih dominan. Pasar mulai menghitung ulang skenario terburuk yang sebelumnya mendorong reli harga. Jika jalur distribusi kembali lancar, tekanan ke atas harga bisa mereda lebih jauh.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb) Add
source on Google