Presiden Venezuela Ditangkap AS, Harga Minyak Tak Bergeming
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Harga minyak dunia nyaris stagnan pada awal pekan ini, Senin (5/1/2026) pukul 10.10 WIB, di tengah pasar yang masih mencerna guncangan geopolitik dari Venezuela.
Melansir Refinitiv minyak Brent berada di US$ 60,76 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) di US$ 57,26 per barel.
Posisi ini memperpanjang fase melemah yang sudah terjadi sejak awal Desember. Jika ditarik ke belakang, Brent sempat berada di kisaran US$ 63-64 per barel pada awal Desember 2025, sebelum meluncur bertahap hingga ke area US$ 60 pada akhir tahun dan bertahan di zona tersebut hingga awal Januari. WTI juga bergerak serupa, turun dari kisaran US$ 60 ke sekitar US$ 57. Pola harga Refinitiv ini menunjukkan tekanan turun yang konsisten, bukan sekadar fluktuasi harian.
Di balik pelemahan tersebut, pasar global sedang menghadapi kombinasi yang jarang bersahabat bagi harga, pasokan yang melimpah dan permintaan yang tidak cukup kuat untuk menyerapnya.
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat memang sempat memicu kekhawatiran gangguan pasokan. Namun pasar dengan cepat menilai bahwa dampaknya justru bisa memperbesar suplai dalam jangka menengah, bukan sebaliknya.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan memperkuat persepsi itu. Ia menegaskan sanksi terhadap industri minyak Venezuela tetap berlaku, tetapi perusahaan-perusahaan Amerika akan membantu membangun kembali infrastruktur dan menghidupkan produksi negara tersebut.
Bagi pasar, ini berarti satu hal: minyak Venezuela yang selama ini terhambat bisa kembali masuk ke pasar global, meskipun prosesnya tidak instan. Venezuela memang kini hanya menyumbang kurang dari 1% pasokan dunia, tetapi di tengah pasar yang sudah kelebihan pasokan, tambahan kecil saja sudah cukup untuk menekan harga.
Tekanan itu datang bersamaan dengan posisi OPEC+ yang memilih untuk menunda kenaikan produksi pada kuartal pertama, menunggu kejelasan dari Venezuela. Kartel yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia itu sadar bahwa pasar saat ini sedang menuju surplus besar, seiring negara-negara non-OPEC juga meningkatkan produksi, sementara konsumsi global tidak tumbuh agresif. Dalam situasi seperti ini, bahkan kebijakan menahan pasokan pun belum tentu mampu mengangkat harga.
CNBCÂ Indonesia
(emb/emb)[Gambas:Video CNBC]