Saham Emiten Tambang Emas Ngacir Usai AS Tangkap Presiden Venezuela
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham emiten pertambangan dan perdagangan emas Indonesia kompak melesat merespons gejolak geopolitik global usai Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicholas Maduro untuk diadili di New York.
Harga emas global pada perdagangan hari ini Senin (5/1/2026) di pasar spot tercatat sempat melesat lebih dari 1% menjadi $4.383,99 per troy ons. Kenaikan ini merespon ketegangan yang terjadi antara pemerintahan AS dengan Venezuela.
Emas diketahui merupakan salah satu instrumen lindung nilai yang paling disukai oleh investor apabila adanya ketegangan geopolitik yang berpotensi memberikan gejolak pada perekonomian global.
Hingga pukul 9.35 WIB, saham Hartadinata Abadi (HRTA) memimpin penguatan di sektor tambang dan perdagangan emas RI dengan kenaikan 11% ke Rp 2.390 per saham.
Kemudian ada saham Bumi Resources Minerals (BRMS) yang naik nyaris 10% ke Rp 1.295 per saham. Saham Archi Indonesia (ARCI) naik 7% lebih ke Rp 1.765 per saham. Saham J Resources Asia Pacific (PSAB) naik 4,5% ke Rp 580 per saham.
Lalu ada saham emiten tambang emas BUMN, Aneka Tambang (ANTM), yang melesat 4% lebih ke Rp 3.340 per saham, disusul oleh saham Merdeka Copper Gold (MDKA) dan Amman Mineral Internasional yang masing-masing naik 3% dan 2%.
Adapun saham saham United Tractors (UNTR) yang mayoritas melakukan bisnis di sektor tambang batu bara, namun juga mengoperasikan bisnis tambang emas milik Grup Astra tercatat stagnan pada perdagangan hari ini.
Diketahui, akhir pekan lalu AS menyerang Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro pada akhir pekan. Harga minyak sedikit turun karena pasar mempertimbangkan potensi dampak ketegangan geopolitik.
Otoritas AS mengatakan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diterbangkan ke New York setelah operasi tersebut dan didakwa dengan konspirasi terorisme narkoba dan kejahatan lainnya. Dakwaan tersebut menyatakan bahwa perdagangan narkoba telah "memperkaya dan memperkuat elit politik dan militer Venezuela."
Harga minyak turun setelah eskalasi yang melibatkan negara kaya minyak tersebut. Harga minyak mentah Brent turun lebih dari 1% sebelum mengurangi kerugian, dan terakhir diperdagangkan 0,25% lebih rendah, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate turun 0,4%.
Venezuela, salah satu anggota pendiri OPEC, memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia, yaitu 303 miliar barel, atau sekitar 17% dari total global, menurut Badan Informasi Energi AS.
[Gambas:Video CNBC]