IHSG Lagi on Fire, Kutukan "Sell ini May and Go Away" Tak Lagi Sakti?
Jakarta, CNBCÂ Indonesia -Â Fenomena anomali pasar 'Sell in May and Go Away' kembali menghantui pasar saham Indonesia bulan ini. Namun, perjalanan bursa saham Tanah Air dalam dua hari terakhir memberi kabar gembira dan menjauhkan dari kutukan "Sell in May and Go Away".
Namun sepertinya dalam dua hari perdagangan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.971,95 (+0,22%) pada perdagangan Senin (4/5/2026) dan pada level 7.057,11 (+1,22) pada perdagangan Selasa (5/5/2026).
Historis IHSG pada Bulan Mei dan Tren Aliran Dana Asing
Berdasarkan pencatatan data selama 10 tahun terakhir sejak tahun 2016, bulan Mei cenderung memberikan hasil negatif bagi kinerja IHSG. Peluang IHSG untuk ditutup pada zona hijau hanya terjadi sebanyak 3 kali, sementara 7 kali sisanya berakhir di zona merah.
Rata-rata pelemahan IHSG pada periode tersebut mencapai -0,55%. Pelemahan terdalam tercatat pada tahun 2023 sebesar -4,08%, disusul oleh tahun 2019 dengan koreksi mencapai -3,81%. Kinerja positif pada bulan Mei hanya terlihat pada tahun 2017, 2020, dan lonjakan anomali pada tahun 2025 sebesar 6,04%.
Tekanan eksternal sebenarnya sangat kuat menjelang Mei dan tercermin secara eksplisit dari pergerakan aliran dana asing di bursa domestik. Berdasarkan data transaksi harian terbaru hingga pertengahan April 2026, terlihat adanya tren aksi jual bersih yang sangat masif oleh para investor asing.
Pada tanggal 16 April 2026, tercatat pengeluaran dana asing sebesar Rp 8,21 triliun dengan volume perdagangan yang sangat tinggi, disusul rentetan aksi jual berkelanjutan hingga akhir April.
Pada tanggal 28 April 2026, arus modal kembali keluar sebesar Rp 2,34 triliun, berlanjut dengan Rp 1,19 triliun pada hari berikutnya serta hari terakhir ditutup dengan outflow sebesar Rp1,48 triliun.
Tren distribusi modal keluar dengan volume yang tebal ini mengindikasikan sikap defensif investor institusional yang mulai membatasi eksposur pada aset berisiko di negara berkembang atau selama seminggu terakhir hanya dalam 4 hari perdagangan, IHSGÂ mengalami outflow sebesar Rp 7,06 triliun.
Sehingga hanya untuk hari perdagangan April 2026 kemarin, total net outflow dari IHSG sangatlah besar mencapai level Rp -17,02 triliun.
Paralel Krisis Minyak 1973 dan Ancaman Inflasi Global
Selain faktor musiman domestik, arah pergerakan pasar saham amat bergantung pada kondisi bursa Amerika Serikat. Terdapat indikasi sistemik bahwa pasar saham global saat ini menghadapi kondisi komoditas yang memiliki kemiripan dengan krisis minyak tahun 1973.
Pada krisis tersebut, pemotongan pasokan minyak global sekitar 5% sampai 7% memicu guncangan awal yang kuat. S&P500 langsung mengalami koreksi sebesar 20% saat embargo diumumkan pada Oktober 1973.
Akan tetapi, kerusakan pasar yang sesungguhnya belum terjadi. Penurunan indeks terparah yang mencapai 40% justru terjadi setelah embargo dicabut pada Maret 1974.
Hal tersebut terjadi karena kerusakan struktur ekonomi, inflasi yang struktural hingga ke seluruh aset perekonomian global, dan pelemahan daya beli konsumen baru sepenuhnya tercermin dalam laporan keuangan emiten setelah jeda waktu beberapa bulan.
Kondisi komoditas hari ini menunjukkan pola linier yang serupa. Gangguan pasokan energi global kembali meningkat secara ekstrim, yang diperparah dengan penutupan rute distribusi strategis Selat Hormuz pada Maret 2026.
Indeks S&P 500 telah merespons hal ini dengan ayunan koreksi awal sebesar 10%. Meskipun indeks utama Amerika Serikat tersebut terlihat menguat kembali untuk menguji level tertingginya di level 7.272,52, dampak makroekonomi dari lonjakan harga bahan baku diproyeksikan akan segera membebani margin profitabilitas korporasi global tidak dalam waktu dekat.
Asumsi mayoritas investor yang memproyeksikan kemungkinan adanya soft landing pada perubahan harga komoditas global ini dapat berbalik drastis ketika laporan kuartalan mendatang memperlihatkan resesi laba yang signifikan yang mungkin terjadi di kuartal II hingga kuartal IV 2026.
Risiko Kredit Swasta dan Terbatasnya Ruang The Fed
Risiko sistemik berikutnya bukan hanya datang dari sektor energi, namun juga dari keadaan likuiditas finansial, yakni pasar kredit swasta. Terdapat peningkatan penarikan dana secara masif dari reksa dana kredit swasta seperti yang beberapa waktu terakhir terjadi di BlackRock sehingga korporasi harus membatasi aksi penarikan tersebar dengan batas cap.
Di waktu yang sama, tingkat rasio pinjaman bermasalah atau gagal bayar menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level 5,8% pada awal tahun 2026 dalam lini perusahaan private credit.
Penggunaan instrumen leverage dalam portofolio kredit ini membuat setiap potensi gagal bayar dapat merambat langsung menjadi beban likuiditas sektor perbankan konvensional yang menjadi penyedia funding utama mereka.
Dalam memitigasi krisis ini, posisi The Federal Reserve berada pada level yang paling dilematis. Institusi bank sentral umumnya hanya dapat mencetak likuiditas masif ketika krisis terjadi, seperti yang diimplementasikan pasca pandemi.
Saat ini, Ketua The Fed secara spesifik mengkonfirmasi bahwa tingkat inflasi kembali merangkak naik, sehingga menutup keran pelonggaran moneter. Jika tekanan inflasi menghambat The Fed untuk memberikan dana talangan, pasar diproyeksikan akan terkoreksi secara bertahap selama berbulan-bulan.
Skenario yang lebih esktrem dan destruktif berpotensi terjadi mengarah pada kemungkinan terjadinya kebangkrutan institusional besar layaknya krisis Lehman Brothers di tahun 2008.
Hal ini dapat berujung pada teraktivasinya skema bail-in sesuai regulasi perbankan masa kini, yang membebankan kerugian langsung kepada para nasabah bersaldo besar guna mencegah runtuhnya perbankan tersebut.
Indikasi Puncak Valuasi dan Dampak Korelasinya Terhadap IHSG
Beberapa komponen teknikal pasar di Amerika Serikat telah mengeluarkan sinyal bahwa indeks tengah berada di batas atas valuasinya. Indikator utama dapat dilihat dari kurva imbal hasil obligasi pemerintah AS dan berbagai negara lainnya yang masih berada dalam fase inversi.
Secara historis, kurva terbalik ini selalu mendahului siklus resesi AS dalam lima dekade terakhir. Selanjutnya, terdapat lonjakan penjualan saham perusahaan oleh pihak manajemen dan orang dalam secara luar biasa tinggi.
Tren aksi ambil untung oleh orang dalam perusahaan kerap kali menandakan validasi bahwa valuasi emiten terkait sudah melampaui batas kewajaran.
Terakhir, indeks selera risiko investor global saat ini menyentuh rekor tertinggi, mencerminkan euforia yang ekuivalen dengan puncak pasar sebelum krisis likuiditas historis.
Meskipun S&P 500 belum tentu langsung mengalami penurunan pada bulan Mei, potensi koreksi pasar yang signifikan dalam jangka dekat hingga menengah masih sangat terbuka lebar.
Tingginya korelasi IHSG dengan bursa global menuntut kewaspadaan tambahan walaupun tidak terlalu mirip di pembukaan 2026 ini. Namun, jika S&P 500 terkoreksi tajam, efek dominonya akan memicu arus keluar modal asing secara masif akibat sell-off mengamankan modal dari volatilnya emerging market.
Di pasar domestik, tekanan distribusi ini diproyeksikan semakin kuat menjelang pengumuman rebalancing indeks MSCI pada 12 Mei 2026, yang sangat mungkin untuk memicu volatilitas tinggi pada seluruh saham di Indonesia terutama saham yang menggunakan metode MSCIÂ Play untuk menggenjot harga sahamnya.
Dari sisi makroekonomi dalam negeri, pasar juga ditekan oleh ketidakpastian fiskal dan moneter akibat pelemahan nilai tukar Rupiah yang telah menembus level Rp17.300 per dolar AS. Kondisi kurs ini berisiko menggerus margin laba korporasi secara luas dan menekan daya beli masyarakat di tengah naiknya harga minyak.
Kombinasi antara probabilitas siklus 'Sell in May', depresiasi Rupiah, sentimen MSCI, dan kerentanan bursa AS memvalidasi perlunya sikap defensif menunggu arah kebijakan bank sentral domestik maupun yang lainnya, walaupun kemungkinan akan kenaikan bursa secara keseluruhan masih berpotensi akibat penurunan yang sudah terlampau lama dengan valuasi yang sudah cukup murah.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Addsource on Google