Dirut Bursa RI Mundur: Ini 12 Momen Paling Kritis IHSG
Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya. Iman mundur setelah bursa saham Indonesia hancur lebur pada Rabu dan Kamis pekan ini (28-29/1/2026).Â
Keputusan mundur disampaikan langsung dalam pernyataan terbuka kepada awak media pagi hari ini, Jumat (30/1/2026) menyusul kondisi pasar modal yang bergejolak dalam dua hari terakhir.
Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa pengunduran diri tersebut merupakan bentuk tanggung jawab pribadi atas dinamika yang terjadi di pasar. Meski perdagangan pagi ini menunjukkan perbaikan, ia menilai langkah mundur adalah keputusan terbaik demi menjaga kepercayaan dan stabilitas pasar modal nasional.
"Sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, saya menyatakan mengundurkan diri dari jabatan ini. Saya berharap ini adalah yang terbaik bagi pasar modal Indonesia, dan semoga ke depan pasar kita bisa menjadi lebih baik," ujarnya.
Dia menekankan bahwa keputusan tersebut diambil secara sadar sebagai bentuk akuntabilitas kepemimpinan di tengah tekanan pasar.
IHSGÂ Kerap Tertekan Hebat
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa kali mengalami momen kritis sampai terkena trading halt dalam setahun terakhir.
Data yang dianalisis Tim Riset CNBC Indonesia menunjukkan sejak Januari 2024- Januari 2025, setidaknya ada 12 episode di mana IHSG mengalami 'panic attack', anjlok antara 1,1% hingga lebih dari 9% dalam rentang waktu singkat kurang lebih selama 30 menit.
Penurunan terdalam bahkan memicu suspensi perdagangan sementara (trading halt) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Berikut rincian-nya:
Lantas, apa sebenarnya katalis yang memicu kepanikan investor pada hari-hari tersebut? Berikut adalah hasil riset kami, diurutkan dari penurunan terdalam.
1. 08-Apr-25 (-9,159%)
Peristiwa: Trading Halt 30 Menit.
Katalis: Ini adalah panic selling terparah, terjadi pada hari pertama perdagangan pasca libur panjang Lebaran. Pasar "kaget" dan mengakumulasi semua sentimen negatif global selama liburan, terutama ketakutan akan perang dagang baru setelah pengumuman "Tarif Trump".
2. 29 Jan 2026 : Langsung trading halt anjlok 8% di awal sesi
Katalis: terjadi panic selling karena Goldman Sach menurunkan rating saham Indonesia menjadi underweight.
Menariknya pada perdagangan Kamis hari ini (29/1/2026), IHSG mulai bangkit lagi dengan candle berhasil ditutup hijau.
Setelah sesi pertama kena trading halt, IHSG bangkit dengan pelemahan yang menyempit hanya -1,06% menjadi 8.232,20.
3. 28 Jan 2026 : IHSG jatuh kisaran 7% di awal sesi dan mengalami trading halt di sesi kedua
Katalis: terjadi panik jualan karena MSCI menarik rem darurat menghentikan sementara indeks review termasuk yang paling dekat pada Februari 2026 menggugurkan semua ekspektasi pasar terhadap saham yang mau masuk MSCI.
Selain itu, MSCI juga menuntut regulator untuk lebih transparan mengenai data free float. Kalau tidak ditindaklanjuti, mereka bisa menurunkan IHSG menjadi Frontier Market yang berpotensi menarik keluar dana asing sampai Rp150 triliun.
4. 01-Sep-25 (-2,687%)
Peristiwa: Panic selling di awal sesi.
Katalis: Kombinasi maut sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, aksi demonstrasi di Jakarta meningkatkan risiko politik. Dari luar negeri, investor wait and see menanti data krusial tenaga kerja AS untuk menebak arah suku bunga The Fed.
5. 14-Oct-25 (-2,310%)
Peristiwa: Panic selling di awal sesi.
Katalis: Reaksi instan terhadap berita buruk makroekonomi perang dagang AS-China. Rilis data defisit APBN per September 2025 yang diumumkan melebar signifikan memicu kekhawatiran investor akan kesehatan fiskal negara.
6. 27-Oct-25 (-1,964%)
Peristiwa: MSCI dan aksi profit taking.
Katalis: Perubahan metodologi MSCI. Pada pagi ini data menunjukkan IHSG dibuka menguat. Penurunan secepat ini disebabkan karena potensi perubahan kebijakan free float terhadap pasar di Indonesia oleh MSCI.
7. 18-Mar-25 (-1,950% & -1,443%)
Peristiwa: Trading Halt 30 Menit. (Data menunjukkan dua kali penurunan tajam di hari ini).
Katalis: Ini adalah puncak dari krisis kepercayaan pasar di bulan Maret. Dipicu oleh akumulasi isu negatif: mulai dari kekhawatiran defisit APBN, pelemahan daya beli, hingga aksi jual brutal pada saham-saham blue chip perbankan dan teknologi.
8. 07-Feb-25 (-1,708%)
Peristiwa: Penurunan berbasis sektoral.
Katalis: Pemicu utamanya adalah tekanan jual yang sangat berat di sektor energi dan infrastruktur. Sektor ini rontok dan langsung menyeret IHSG turun bersamanya dalam beberapa saat.
9. 04-Mar-25 (-1,445%)
Peristiwa: Penurunan akibat saham Big Caps.
Katalis: IHSG "disandera" oleh beberapa saham konglomerasi besar. Terjadi kejatuhan tajam pada saham-saham seperti AMMN (Amman Mineral), BREN (Barito Renewables), dan TPIA (Chandra Asri), yang bobotnya besar ke indeks.
10. 08-Sep-25 (-1,317%)
Peristiwa: Kelanjutan tren negatif (Bearish Momentum).
Katalis: Tidak ada pemicu tunggal yang spesifik. Ini lebih mencerminkan sentimen pasar yang memang sedang bearish dan merupakan kelanjutan dari tren pelemahan dari minggu sebelumnya akibat ketidakpastian politik dan makroekonomi.
11. 24-Mar-25 (-1,298%)
Peristiwa: Kelanjutan tren negatif (Bearish Momentum).
Katalis: Mirip dengan 8 September, ini adalah bagian dari "cerita" pelemahan umum pasar sepanjang bulan Maret, yang puncaknya adalah trading halt pada 18 Maret.
12. 15-Okt-25 (-1,169%)
Peristiwa: Lanjutan Risk-Off (Aksi Jual Lanjutan).
Katalis: Ini adalah efek domino dari hari sebelumnya (14 Oktober). Pasar masih merespons negatif ancaman perang dagang AS-China dan jebolnya Rupiah. Investor asing melanjutkan aksi jual (net sell), dan semua aset berisiko (termasuk saham dan kripto) kompak terkoreksi, sementara emas mencetak rekor baru.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
Â
(saw/saw)