MARKET DATA

Ini Titik-Titik Kritis IHSG Setahun Terakhir, Kapan Bangkitnya?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
29 January 2026 10:50
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (23/6/2025). (CNBC Indonesia/ Faisal Rahman)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (23/6/2025). (CNBC Indonesia/ Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengalami pembekuan sementara (trading halt) pada Kamis (29/1/2026). Ini menandai hari kedua berturut-turut otoritas bursa harus menghentikan perdagangan akibat penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menyentuh batas bawah 8.00% akibat MSCI dan penurunan weighting Goldman Sachs terhadap pasar saham Indonesia.

IHSG terperosok ke level 7.654 pada trading halt, menghapus sebagian besar keuntungan yang telah dikumpulkan sejak akhir tahun lalu. Penurunan ini terjadi sangat cepat dan drastis, mengingat hanya berselang sembilan hari sebelumnya, tepatnya pada 20 Januari 2026, IHSG sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High) di level 9.134.

Jika ditarik data sepekan ke belakang, indeks telah kehilangan lebih dari 1.400 poin atau terkoreksi sekitar 16,20% dari titik puncaknya. Fenomena ini membalikkan euforia pasar yang sempat terjadi di awal tahun, di mana IHSG tercatat mencetak rekor ATH baru sebanyak 21 kali dalam periode reli sebelumnya.

Koreksi tajam dalam dua hari terakhir ini mengindikasikan adanya aksi jual masif (panic selling) dari para investor.

Level 7.654 saat ini membawa IHSG kembali ke posisi harga yang sama dengan periode September 2025, yang secara efektif menghapus tren bullish yang telah dibangun selama empat bulan terakhir.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular