Efek Merger! BSI Tembus 6 Besar, Pangsa Syariah Naik ke 9%

Zefanya Aprilia, CNBC Indonesia
Selasa, 24/02/2026 17:23 WIB
Foto: Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu saat menyampaikan pemaparan dalam Sarasehan 99 Ekonom Syariah: Sharia Investment Forum 2026 di Jakarta, Selasa (24/2/2026).(CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia — Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu mengatakan bahwa pemerintah harus turun tangan untuk membesarkan industri keuangan syariah. 

Dia mencontohkan Bank Syariah Indonesia (BRIS) yang merupakan hasil merger dari BNI Syariah, Bank Mandiri Syariah, dan BRI Syariah kini sudah menjadi bank dengan aset terbesar ke-6 di Indonesia. 

Padahal saat tiga anak usaha bank BUMN itu masih berdiri sendiri-sendiri, bahkan tidak ada yang berhasil masuk ke dalam daftar 20 bank terbesar di Indonesia.


"Memang sizenya harus besar bank itu harus besar, modalnya harus kuat. Kalau dia butuh ekspansi dia butuh capital, kalau capital gak cukup gak mungkin. Contoh Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, BRI Syariah tumbuh sekarang. Begitu merger tumbuhnya cepat," kata Anggito dalam Sarasehan 99 Ekonom Syariah Indonesia 2026 bertema "Pengarustamaan Ekonomi Syariah Sebagai Pilar Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional" di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Kehadiran BSI pun akhirnya ikut mendorong percepatan pertumbuhan pangsa pasar syariah di Indonesia menjadi 9%. Sebelum kehadiran BSI, pangsa pasar bank syariah di Tanah Air hanya sekitar 6%.

Setelah BSI, industri keuangan syariah juga kedatangan pemain baru yang dapat diperhitungkan, yakni Bank Syariah Nasional (BSN) yang lahir dari merger Bank Victoria Syariah dengan unit usaha syariah (UUS) BTN. Bermodal aset sekitar Rp 70 triliun, Anggito yakin BSN akan juga mampu tumbuh dengan cepat.

Oleh karena itu, Anggito meminta pemerintah dapat kembali intervensi untuk mendorong merger unit usaha syariah (UUS) milik bank pembangunan daerah (BPD). 

"Saya lagi berpikir, BPD syariah kalau merger, (aset) lebih dari Rp 100 triliun," katanya. 

Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta mengatakan ukuran sangat berpengaruh di industri perbankan. Oleh karena itu memupuk kapital adalah hal yang utama di industri perbankan.

Oleh karena itu BSI menjadi game changer di industri keuangan syariah. Akan tetapi satu tantangan saat ini adalah literasi dan inklusi keuangan syariah.

"Literasi keuangan syariah sudah naik sekarang 43%, tapi inklusi hanya naik dari 12% jadi sekarang 13,7% selama tiga tahun terakhir," katanya.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kinerja Solid BSI 2025 & Berhasil Cetak Laba Rp7,57 Triliun