IHSG & Rupiah Anjlok Parah, Ada Apa Dengan Indonesia?

Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
06 January 2023 13:34
Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Gejolak di pasar saham Indonesia diperkirakan masih akan berlanjut pada sepanjang tahun 2023. Namun, sejumlah ekonom menyebut indeks saham Indonesia masih berpotensi menguat.

Head Economic and Research UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja menjelaskan, sentimen pasar keuangan di tanah air masih akan bergejolak, karena dampak adanya ramalan ekonomi global ke depan.

"Kalau kita lihat banyak mungkin beberapa negatif market performance, karena mungkin risiko resesi global dan mungkin slow down di Tiongkok, menyebabkan reversetion di market," jelas Enrico kepada CNBC Indonesia.

Hal tersebut, menurut Enrico sangat wajar, karena investor biasanya akan melakukan trading berdasarkan ekspektasi dan price in.

Price in merupakan istilah di mana pergerakan harga pasar sudah mencerminkan sentimen yang terjadi.

Ketika terjadi aksi korporasi perusahaan, rilis data laporan keuangan perusahaan, dan sentimen dari makroekonomi maka hal tersebut berdampak terhadap pergerakan saham.

"Tapi saya tetap melihat meskipun kondisi market kita (bergejolak), dan ada risiko resesi, (pertumbuhan ekonomi Indonesia) akan cenderung melambat," jelas Enrico lagi.

Oleh karena itu, para investor kemungkinan saat ini mulai mengincar saham-saham di China dan Hong Kong, yang valuasinya sudah turun. Atau mungkin juga ke bursa saham Asia Utara lainnya, seperti Korea Selatan.

Kendati demikian, Enrico optimistis bahwa pasar saham di tanah air akan bisa menanjak lagi, tembus dengan indeks 7.000. Hal ini karena selama dua tahun berturut-turut terjadi mengalirnya dana asing yang masuk.

"Dua tahun berturut-turut dia net inflows dari asing. Ada chance mungkin konsolidasi bisa tembus 7.000 akan lanjut," jelas Enrico.

Senada juga disampaikan oleh Ekonom Bank Danamon Irman Faiz. Faiz menyebut melemahnya IHSG karena pasar cenderung khawatir adanya resesi ekonomi global dan tingginya suku bunga kebijakan The Fed.

Sehingga investor asing cenderung wait and see, untuk menunggu perkembangan dari pergerakan ekonomi dunia terlebih dahulu. Sehingga ini sangat berpengaruh ke bursa-burse negara berkembang termasuk Indonesia.

"Kita lihat mungkin di kuartal I hingga pertengahan kuartal II pressure-nya masih akan ada," jelas Faiz. Namun memasuki semester II-2022, pasar keuangan domestik masih dapat menguat.

"Karena bunga acuan domestik dan The Fed seharusnya sudah peak di akhir kuartal I, sehingga aset domestik menjadi lebih menarik," kata Faiz lagi.

Sementara itu, David kurang optimistis dengan pasar modal Indonesia. Karena instrumen investasi ini sangat volatile atau bergejolak, dan berisiko di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Mungkin agak volatile untuk pasar modal, dan kurang optimis. Ada yang bilang indeks bisa mencapai 8.000, namun saya kurang optimis itu bisa tercapai," ujar David.

"Kelihatan banyak layer di tingkat global mengutamakan safety dan dampak kenaikan The Fed dulu, seperti apa," kata David lagi.

(cap/cap)
Pages

Tags


Related Articles
Recommendation
Most Popular