Kiamat Baru Ancam Eropa, Harga Batu Bara Cetak Rekor!

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
01 December 2022 06:15
Batu Bara Black Diamond (Dok: Black Diamond Resources) Foto: Batu Bara Black Diamond (Dok: Black Diamond Resources)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran akan pasokan gas di Eropa membuat harga gas dan batu bara melambung. Harga batu bara bahkan sudah menguat selama 10 hari beruntun. Penguatan selama 10 hari beruntun adalah rekor baru sepanjang tahun ini.

Pada perdagangan Kamis (30/11/2022), harga batu bara kontrak Januari di pasar ICE Newcastle tercatat US$ 389 per ton. Harga batu bara menguat 4,15% dibandingkan hari sebelumnya.

Dengan penguatan kemarin maka harga batu bara tidak pernah di zona merah sejak 16 November 2022. Batu bara menanjak naik dalam 10 hari perdagangan terakhir.


Kenaikan selama 10 hari beruntun ini belum pernah terjadi sepanjang tahun ini. Rekor sebelumnya adalah menguat selama sembilan hari yang terjadi pada 30 Juni-12 Juli 2022.
Selama 10 hari penguatan terakhir, harga pasir hitam sudah melambung 20,8%.

Dalam dua tahun terakhir, harga batu bara juga hanya pernah naik 10 hari beruntun selama tiga periode yakni pertengahan September dan Desember 2021 serta November 2022.
Penguatan kemarin juga mendekatkan pasir hitam kembali ke level US$ 400 per ton.

Dalam sepekan, harga batu bara sudah melonjak 9,24% secara point to point. Dalam sebulan terakhir, harga batu bara juga melesat 9,25% dan dalam setahun masih melesat 173,65%.

Penguatan batu bara kemarin ditopang oleh pergerakan harga gas alam Eropa. Kekhawatiran mengenai pasokan gas, suhu yang akan lebih dingin pada Desember, serta kenaikan penggunaan listrik membuat harga gas melambung. Lonjakan harga gas ikut mengerek batu bara karena batu bara adalah sumber energi alternatif.

Harga gas alam EU Dutch TTF (EUR) melonjak 14,3% kemarin ke 146,40 euro per megawatt-jam (MWh). Harga tersebut adalah yang tertinggi sejak pertengahan Oktober 2022.

Pasokan gas di Eropa rata-rata dilaporkan berada di 93,6% pada Senin pekan ini (28/11/2022), turun dibandingkan hari sebelumnya yakni 93,9%.
Pasokan gas diperkirakan akan menipis dengan cepat karena suhu yang lebih dingin. Padahal, Eropa dihadapkan pada persoalan besar dalam mencukupi pasokan gasnya.

"Suhu di Eropa diperkirakan akan jauh lebih dingin dalam beberapa minggu ke depan. Kondisi ini bisa meningkatkan penggunaan gas alam dan listrik. Pasokan gas memang masih aman untuk saat ini," tutur Norbert Rücker, analis dari Julius Baer, dikutip dari Nasdaq.

Rucker menambahkan persoalan gas bukanlah untuk mencukupi pasokan tahun ini tetapi untuk tahun depan.

Pasokan gas dari Norwegia belum maksimal karena ada gangguan sementara pasokan dari Rusia jauh berkurang setelah Rusia memutus pasokan melalui jairngan Nordstream 1.

Di sisi lain, kapasitas listrik yang dihasilkan dari nuklir dan tenaga angin jauh berkurang pada bulan ini, terutama di Inggris, Prancis, dan Jerman.

ING Group mengingatkan Eropa akan menghadapi risiko besar pada tahun depan jika hanya mengandalkan pasokan gas Rusia melalui Ukraina dan TurkStream.
"Dengan mengasumsikan pengiriman gas pada level yang sekarang maka pengiriman gas Rusia ke Eropa bisa anjlok 60% menjadi sekitar 23 miliar kubik meter (bcm) pada 2023. Ini jelas risiko yang sangat nyata," tulis ING Group dalam laporannya.

Severe-weather.eu memperkirakan suhu di wilayah Eropa bagian utara akan turun drastis pada Desember. Maxar Technologies Inc memperkirakan suhu udara di Eropa akan lebih dingin dari pada prakiraan sebelumnya menjelang Desember. Suhu di Berlin diprakirakan mencapai minus (-)3,5 derajat Celcius pada 3 Desember mendatang.

Suhu di kota-kota utama Eropa seperti Amsterdam, Helsinki, dan Stockholm juga akan jauh lebih dingin dibandingkan normalnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sabotase Gas Mengancam Eropa, Harga Batu Bara Ikut Membara


(mae/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading