Rupiah Juara 3 Asia... Dari Bawah

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
10 August 2022 15:04
Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan hari ini. Maklum, investor sedang memasang mode waspada karena menunggu rilis data inflasi Negeri Adidaya.

Pada Rabu (10/8/2022), US$ 1 setara dengan Rp 14.870 kala penutupan perdagangan pasar spot. Rupiah melemah 0,13% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Saat pembukaan pasar, rupiah melemah tipis 0,07%. Mata uang Ibu Pertiwi sempat menguat, tetapi ternyata tidak bertahan lama. Rupiah pun menghabiskan hari berkubang di zona merah.


Tidak cuma rupiah, mayoritas mata uang utama Asia pun cenderung melemah di hadapan dolar AS. Depresiasi rupiah pun bukan yang terdalam, masih ada yang lebih parah. Namun, rupiah menjadi mata uang terlemah ketiga hari ini, hanya unggul dari baht Thailand dan won Korea Selatan.

Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang utama Benua Kuning pada pukul 15:02 WIB:

Malam ini waktu Indonesia, US Bureau of Labor Statistics akan mengumumkan data inflasi. Konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan inflasi AS pada Juli 2022 sebesar 8,7% year-on-year (yoy). Memang masih tinggi, tetapi melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang 9,1% yoy.

Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi AS pada Juli 2022 diperkirakan ada di 0,2%. Jauh melandai ketimbang bulan sebelumnya yang sebesar 1,3%.

Data ini sangat mungkin membuat The Fed mengkaji ulang menaikkan suku bunga acuan secara agresif. Inflasi sudah melambat, tentu sebuah alasan yang kuat untuk agak mengerem pengetatan kebijakan moneter.

"Inflasi yang melambat akan memberi konfirmasi bahwa kebijakan moneter ketat sudah membuahkan hasil," kata Rober Schein, Chief Investment Officer di Blanke Schein Welth Management, seperti diwartakan Reuters.

Namun sembari menunggu data inflasi, rasanya investor akan memilih untuk bermain aman. Lebih baik tidak 'bermain' di aset-aset berisiko, apalagi di negara berkembang.

Pilihan investor untuk menahan diri tersebut membuat arus modal ke pasar keuangan Asia menjadi seret, termasuk Indonesia. Akibatnya, rupiah pun melemah.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sedih, Rupiah Melemah 3 Bulan Beruntun...


(aji/aji)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading