Walau Pasar Sedang Galau, Rupiah Tetap Hijau

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
09 August 2022 09:35
Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Luxury Valuta Perkasa, Blok M, Jakarta, Kamis, 21/7. Rupiah tertekan pada perdagangan Kamis (21/7/2022) (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Luxury Valuta Perkasa, Blok M, Jakarta, Kamis, 21/7. Rupiah tertekan pada perdagangan Kamis (21/7/2022) (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat tipis pada perdagangan hari ini. Pelaku pasar sedang menanti kejelasan arah kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) sehingga memilih bermain aman.

Pada Selasa (9/8/2022), US$ 1 setara dengan Rp 14.860 kala pembukaan perdagangan pasar spot. Rupiah menguat 0,1% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sementara mayoritas mata uang utama Asia bergerak variatif di hadapan dolar AS dengan rentang terbatas. Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang utama Benua Kuning pada pukul 09:04 WIB:

Sepertinya investor memang sedang gamang. Penyebabnya adalah penantian rilis data ekonomi di Negeri Paman Sam yang akan menentukan arah kebijakan moneter.

Besok malam waktu Indonesia, US Bureau of Labor Statistics akan mengumumkan data inflasi. Konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan inflasi AS pada Juli 2022 sebesar 8,7% year-on-year (yoy). Memang masih tinggi, tetapi melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang 9,1% yoy.

Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi AS pada Juli 2022 diperkirakan ada di 0,2%. Jauh melandai ketimbang bulan sebelumnya yang sebesar 1,3%.

Data ini sangat mungkin membuat The Fed mempertimbangkan untuk kembali menaikkan suku bunga acuan secara agresif. Inflasi sudah melambat, pasar tenaga kerja pun masih kuat. Tentu sebuah alasan yang kuat untuk mengetatkan kebijakan moneter.

"Inflasi yang melambat akan memberi konfirmasi bahwa kebijakan moneter ketat sudah membuahkan hasil. Data inflasi juga akan memberi konfirmasi bahwa dibutuhkan pengetatan moneter lebih lanjut," kata Rober Schein, Chief Investment Officer di Blanke Schein Welth Management, seperti diwartakan Reuters.

Sembari menunggu data inflasi, rasanya investor akan memilih untuk bermain aman. Lebih baik tidak 'bermain' di aset-aset berisiko, apalagi di negara berkembang. Pilihan investor untuk menahan diri tersebut membuat arus modal ke pasar keuangan Asia menjadi seret.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rupiah Makin Melemah, Ini Dampak Buruk yang Harus Diatasi


(aji/aji)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading