Selamat, Rupiah! Jadi Runner-Up Asia Walau Fed Naikkan Bunga

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
28 July 2022 15:27
Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan hari ini. Rupiah mampu melaju karena dolar AS sedang lesu, meski bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunga acuan.

Pada Kamis (28/7/2022), US$ 1 setara dengan Rp 14.930 kala penutupan perdagangan pasar spot. Rupiah menguat 0,53% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Tidak hanya rupiah, berbagai mata uang utama Asia pun berhasil membukukan apresiasi di hadapan greenback. Apresiasi 0,53% membawa rupiah jadi yang terbaik kedua di Asia, hanya kalah dari yen Jepang.

Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang Benua Kuning pada pukul 15:24 WIB:

Ternyata bukan cuma di Asia, kelesuan dolar AS memang mengglobal. Pada pukul 15:24 WIB, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) melemah 0,15% ke 106,279. Dalam sepekan terakhir, indeks ini berkurang 0,59%.

Dini hari tadi waktu Indonesia, Komite Pengambil Kebijakan The Fed (Federal Open Market Committee/FOMC) sepakat untuk kembali menaikkan suku bunga acuan. Federal Funds Rate didongrak 75 basis poin (bps) menjadi 2,25-2,5%.

"Komite memutuskan untuk menaikkan kisaran target Federal Funds Rate menjadi 2,25-2,5%. Ke depan, kami mengantisipasi kenaikan lebih lanjut sebagai hal yang layak (appropriate)," sebut keterangan tertulis The Fed.

The Fed memang sangat agresif. Untuk meredam inflasi yang sudah di atas 9%, suku bunga acuan dinaikkan dengan sangat cepat. Sepanjang tahun ini, Federal Funds Rate sudah naik 225 bps. Suku bunga acuan Negeri Adikuasa sudah berada di titik tertinggi sejak Juni 2019, sebelum pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19).

Biasanya kenaikan suku bunga acuan akan menjadi 'obat kuat' bagi mata uang suatu negara, tidak terkecuali dolar AS. Sebab, kenaikan suku bunga acuan akan ikut mendongkrak imbalan investasi aset berbasis mata uang tersebut. Arus modal menjadi deras mengalir sehingga menopang apresiasi mata uang.

Namun saat ini, agresivitas The Fed sudah diperkirakan sebelumnya oleh pasar. Sudah priced in, tertebak, ketaker. Tidak ada kejutan.

"The Fed memang hawkish. Namun Anda sudah bisa menebak itu beberapa bulan lalu. Secara teoretis, dolar AS memang semestinya menguat dalam iklim seperti ini. Akan tetapi, situasi semacam ini sudah diperkirakan sebelumnya, sesuai dengan ekspektasi," kata Marvin Loh, Senior Global Markets Strategist di State Street yang berbasis di Boston (AS), seperti dikutip dari Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Artikel Selanjutnya

Rupiah Dekati Rp 15.000/US$, Begini Kondisi Money Changer


(aji/aji)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading