Newsletter

Tunggu Keputusan Suku Bunga The Fed, IHSG Lanjut Reli?

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
25 July 2022 06:29
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak menguat tajam pekan lalu setelah terkoreksi dalam sepekan sebelumnya. Penguatan IHSG ini sejalan dengan pergerakan bursa saham global.

Akhir pekan lalu, IHSG menutup perdagangan dengan menguat tipis sebanyak 0,33% ke posisi 6.886,962.

Menurut data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), selama perdagangan periode 18-22 Juli 2022 atau sepanjang pekan lalu, IHSG bergerak menguat 3,53% secara point-to-point, setelah pada pekan sebelumnya terkoreksi 1,31%.


Sepanjang pekan lalu, investor asing mencatatkan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 420,06 miliar di pasar saham domestik. Masuknya dana asing, meski dalam jumlah kecil, merupakan berita gembira mengingat dalam sebulan terakhir asing telah melepas kepemilikan saham di bursa domestik hingga Rp 7,72 triliun di seluruh pasar.

Meski sempat waswas, investor menyambut baik keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan di level terendah sepanjang masa. Pekan lalu bank sentral Tanah Air kembali menetapkan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di angka 3,50% dan telah bertahan selama 18 bulan.

Inflasi per Juni yang melonjak ke 4,35% secara tahunan, dinilai masih relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan negara lain di dunia. Tidak hanya itu, inflasi inti yang berada di 2,63% masih berada di kisaran target BI di 2-4%. Sehingga, BI menilai belum ada urgensi untuk menaikkan suku bunga acuannya.

Di level Asia, IHSG rupanya tidak sendirian, mayoritas bursa saham juga menguat. Sementara itu di level dunia, bursa global juga ramai-ramai menguat, termasuk tiga indeks utama Wall Street dan bursa Eropa.

Dari pasar keuangan lainnya, kurs rupiah terkoreksi tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pekan lalu, meskipun indeks dolar AS malah tercatat melemah tajam di pasar spot.

Melansir Refinitiv, pekan lalu rupiah membukukan pelemahan sebesar 25 poin atau terkoreksi 0,17% di hadapan dolar AS. Sementara indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama dunia lainnya, juga terkoreksi 1,2% ke posisi 106,73.

Namun, Kepala Strategi FX CIBC Capital Markets Toronto Bipan Rai mengatakan bahwa pelemahan dolar AS hanya sementara. Rai juga menyebut pelemahan ekonomi yang terjadi di kawasan lain mencerminkan kondisi keuangan yang ketat, sehingga potensi permintaan akan dolar AS masih ada di kemudian hari.

Pelemahan rupiah sebenarnya sudah terlihat pada bulan Juni yang mana rupiah melemah 2,1% pada medio tersebut, sedangkan secara year to date rupiah tertekan lebih dalam yakni 5,2%. Hal tersebut dipicu sikap hawkish bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang secara ajgresif menaikkan suku bunga acuannya.

Langkah tersebut berbeda 180 derajat dengan keputusan BI yang memilih untuk menjadi 'merpati' di saat bank sentral dunia lainnya berlomba-lomba untuk menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi yang kian menggigit. Setidaknya 75 bank sentral dunia telah menaikkan suku bunga acuannya tahun ini, dan di antara negara anggota G-20, selain Indonesia hanya Jepang dan China yang belum menaikkan suku bunga acuan sejak pandemi dua tahun lalu.

Wall Street dan Bursa Eropa Pesta Pora
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading