Rusia-China Vs Indonesia, Siapa yang Utangnya Lebih Besar?

Market - Teti Purwanti, CNBC Indonesia
28 June 2022 08:55
FILE - In this March 28, 2014 file photo, a Russian national flag flies on a hilltop near the city of Bakhchysarai, Crimea. The Group of Seven major industrialized countries on Thursday March 18, 2021, issued a strong condemnation of what it called Russia's ongoing “occupation” of the Crimean Peninsula, seven years after Moscow annexed it from Ukraine. (AP Photo/Pavel Golovkin, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Rusia-Ukraina membawa banyak dampak buruk pada berbagai negara. Namun tidak begitu dengan Indonesia.

Indonesia menjadi salah satu negara yang beruntung dalam kondisi sekarang. Lonjakan harga komoditas internasional memberikan tambahan penerimaan negara yang besar, bahkan bisa membantu cicilan utang pemerintah.

Salah satunya batu bara. Harga batu bara kembali menggila dalam dua pekan terakhir. Harganya terus menanjak akibat peningkatan permintaan hingga sempat menyentuh US$ 400/ton. Yang menarik, harga minyak mentah justru merosot dalam dua pekan beruntun, padahal keduanya merupakan komoditas energi.


Harga batu bara yang tinggi, plus minyak mentah yang merosot tentunya memberikan keuntungan bagi Indonesia. Pendapatan dari ekspor batu bara meningkat, sebaliknya beban impor minyak mentah berkurang.

Sepanjang pekan lalu harga batu bara kontrak 2 bulan di Ice Newcastle Australia melesat nyaris 8% ke US$ 387/ton. Sementara dalam dua pekan terakhir total kenaikannya sebesar 12,2%.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di pekan lalu tercatat turun 1,8% ke US$ 107,62/barel, setelah sebelumnya sempat jeblok nyaris ke bawah US$ 100/barel.

Dalam dua pekan, total minyak WTI jeblok lebih dari 10%. Sementara itu minyak jenis Brent merosot 7,3%. Hal ini disebabkan tingginya inflasi membuat Eropa hingga Amerika Serikat terancam mengalami resesi.

Tahun ini diperkirakan pemerintah mendapatkan tambahan penerimaan sebesar Rp 420 triliun. Tentu tidak hanya batu bara, namun juga sederet komoditas lain memiliki kontribusi, seperti nikel, bauksit, tembaga, emas hingga minyak kelapa sawit.

Dana tersebut kemudian dialihkan lagi untuk subsidi energi, baik itu bahan bakar minyak (BBM), LPG 3 kg dan listrik di bawah 3.000 VA. Sehingga masyarakat tidak perlu menerima beban di saat baru beranjak pulih dari pandemi Covid-19.

Pemerintah juga mampu mengurangi defisit anggaran, dari yang tadinya 4,85% PDB menjadi 4,5% PDB. Tentu ini menjadi kabar baik, karena pemerintah tidak perlu menambah utang lebih banyak.

Pembayaran cicilan utang pemerintah juga lancar. Meskipun utang tahun ini jatuh tempo sebesar Rp 400 triliun, namun pemerintah tidak ada kesulitan pembayaran. Sesuatu yang kini sedang diderita oleh beberapa negara di Asia Selatan dan Afrika.

Kementerian Keuangan melaporkan hingga 31 Mei 2022, posisi utang mencapai Rp 7.002,24 triliun, dengan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 38,88%.

Realisasi utang yang sebesar Rp 7.002,24 triliun hingga 31 Mei 2022 naik 9,1% dibandingkan realisasi posisi utang utang Mei 2021 yang sebesar Rp 6.418,5 triliun. Adapun dibandingkan April 2022 turun 0,54% yang mencapai Rp 7.040,32 triliun.

"Dengan penerimaan yang kuat dari commodity boom, rasio utang kita terhadap PDB sebenarnya telah turun," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Sementara itu di tengah perang, Rusia telah gagal (default) membayar utang luar negerinya untuk pertama kali. Ini terjadi pasca negara itu melewatkan tenggat waktu pada Minggu untuk membayar bunga US$ 100 juta.

Beberapa media melaporkan bahwa pemegang obligasi Rusia belum menerima pembayaran. Mengutip sumber Reuters misalnya, hingga Senin (27/6/2022), beberapa pemegang eurobond Rusia di Taiwan belum juga menerima pembayaran bunga yang jatuh tempo.

Hal itu menunjukkan bahwa Rusia mungkin memasuki default utang luar negeri pertama sejak 1918. Meskipun memiliki cukup uang dan kemauan untuk membayar, sanksi Barat membuat hal tersebut tampak tak mungkin.

Dengan ini bisa dikatakan Rusia menjadi negara-negara yang melakukan wanprestasi. Menurut BBC ini akan membuat Rusia tidak mungkin untuk meminjam uang lagi, meski sebenarnya sanksi Barat juga telah "mengebiri" kemampuan itu.

Sementara itu, Rusia sendiri sebelumnya mengatakan telah mengirimkan uang ke Euroclear, sebuah institusi sebagai penyedia jasa keuangan yang memfokuskan pada aktivitas clearing dan settlement pasar uang dan pasar modal. Bank yang kemudian akan mendistribusikannya ke investor.

Namun sayang, menurut Bloomberg News, uang telah berhenti di sana dan kreditur tak menerimanya. Euroclear sendiri tidak mengatakan apakah pembayaran telah diblokir, tetapi mengatakan bahwa pihaknya mematuhi semua sanksi. 

Sedangkan untuk China, pada akhir 2021, rasio utang pemerintah China diperkirakan ada di kisaran 60% dari PDB, India sekitar 88%, dan Korea Selatan di kisaran 49%. Rasio utang tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia. 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

'Jebakan Batman' Utang China Makan Korban Baru, RI Waspada!


(vap/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading