Jos! Rupiah Libas Dolar AS dan Jadi Juara 2 di Asia!

Market - Annisa Aflaha, CNBC Indonesia
23 June 2022 11:24
FILE PHOTO: An Indonesian Rupiah note is seen in this picture illustration June 2, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo Foto: REUTERS/Thomas White

Jakarta, CNBC Indonesia - Kurs rupiah berhasil melibas dolar Amerika Serikat (AS), hingga di pertengahan perdagangan Kamis (23/6). Terkoreksinya indeks dolar AS dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS memberi jalan bagi rupiah untuk menapaki jalur hijau.

Melansir Refinitiv, rupiah di sesi awal perdagangan menguat cukup tajam 0,27% ke Rp 14.825/US$. Kemudian, rupiah memangkas penguatannya menjadi 0,18% ke Rp 14.838/US$ pada pukul 11:00 WIB.

Hari ini, pukul 11:00 WIB, indeks dolar AS terkoreksi sebanyak 0,04% ke posisi 104,157.

Dengan begitu, sejak Jumat (17/6) dolar AS telah terkoreksi 0,46% dan melemah 1,56% dari rekor tertingginya selama dua dekade di 105,79 pada 15 Juni lalu.

Selain itu, peluang rupiah untuk menguat cukup terbuka karena yield obligasi tenor 2 tahun turun menjadi 3,056%, sedangkan acuan yield obligasi tenor 10 tahun berada di 3,156% dan menjadi posisi terendah sejak dua pekan.

Pasar semakin khawatir bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan mengadopsi jalur yang agresif dan menyebabkan resesi. Kekhawatiran tersebut mengirim yield obligasi tenor 10 tahun berada ke level terendah hampir dua pekan.

Spread yield obligasi antara tenor 2 tahun dengan 10 tahun berada hanya 9 basis poin(bps) setelah sempat berbalik pekan lalu. Pasar masih mengawasi ketat kurva tersebut karena dipandang sebagai indikator resesi yang mungkin terjadi dalam satu hingga dua tahun mendatang.

Semalam, ketua Fed Jerome Powell menyatakan bahwa The Fed berkomitmen penuh untuk meredam inflasi dan mengakui jika AS berisiko mengalami perlambatan ekonomi.

"Itu (resesi) mungkin saja terjadi dan bukan hasil yang kami inginkan. Terus terang peristiwa di beberapa bulan terakhir di seluruh dunia telah membuat lebih sulit bagi kami untuk mencapai apa yang kami inginkan yaitu inflasi di 2% dengan pasar tenaga kerja yang tetap kuat," tuturnya dikutip dari CNBC International.

Dia juga menambahkan bahwa untuk mencapai pendaratan lembut (soft landing) tanpa keadaan ekonomi yang parah seperti resesi, akan menjadi sulit.

Namun, di Asia hanya tiga mata uang saja yang berhasil menguat terhadap sang greenback. Yen Jepang memimpin penguatan mata uang di Asia yang terapresiasi 0,67% terhadap dolar AS. Disusul oleh rupiah dan dolar Hong Kong.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dolar AS Mulai Gak 'Sakti' Lagi, Rupiah Berhasil Juara!


(aaf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading