Tak Ada Keraguan! BI Bakal Tahan Lagi Suku Bunga di 3,5%

Market - MAIKEL JEFRIANDO, CNBC Indonesia
23 June 2022 07:30
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo Memberikan Keterangan Pers Mengenai Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2022 (Tangkapan Layar Youtube Kemenkeu RI) Foto: Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo Memberikan Keterangan Pers Mengenai Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2022 (Tangkapan Layar Youtube Kemenkeu RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) periode Juni 2022 akan berakhir pada hari ini. Siang nanti, pukul 14.00 WIB, Dewan Gubernur akan mengumumkan nasib BI 7 days reverse repo rate (BI7RRR).

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro membaca sinyal yang disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam beberapa kesempatan terakhir memang amat jelas. Suku bunga acuan kembali di tahan di level 3,5%.


"Narasi BI selalu menyampaikan acuannya di inflasi, walaupun 4,2% sudah di range atas, kalau dari tone belum bergerak," ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (22/6/2022)

Diketahui dalam dua kesempatan terakhir, Perry memberi kode keras soal suku bunga. Kode pertama disampaikan Perry ketika menghadiri acara seminar INDEF bertajuk Managing Inflation to Boost Economic Growth, pekan lalu.

Menurut Perry, inflasi Indonesia masih terkendali. Dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Mei 2022 berada di level 3,55% (year on year/yoy). BI memperkirakan inflasi hingga akhir tahun mencapai 4,2%. Sehingga tidak perlu ada kenaikan suku bunga.

"BI tentu saja tidak harus terpaksa menaikan suku bunga," kata Perry.

Mandiri Economic Outlook, dok MandiriFoto: Mandiri Economic Outlook, dok Mandiri
Mandiri Economic Outlook, dok Mandiri

Kode kedua disampaikan Perry kemarin, dalam acara Bank Dunia yang bertajuk Indonesia Economic Prospects: Financial Deepening for Stronger Growth and Sustainable Recovery. Bertepatan dengan jadwal Rapat Dewan Gubernur (RDG).

Dengan alasan yang sama, Perry merasa tidak perlu ada kenaikan suku bunga yang kini di level 3,5%.

"Kebijakan moneter akan terus pro-stability. Dengan inflasi yang rendah, kita tidak perlu terburu-buru untuk menaikkan suku bunga," ungkap Perry.

Suku bunga rendah sangat diperlukan dalam kondisi sekarang. Sehingga pemulihan ekonomi selepas hantaman pandemi covid-19 dapat berjalan sesuai harapan.

Kebijakan ini juga sekaligus sejalan dengan pemerintah yang sudah menahan harga bahan bakar minyak (BBM), LPG 3 kg dan listrik lewat subsidi.

"Kita percaya pemulihan ekonomi dapat berjalan terus hingga menuju ekonomi yang kuat," tegasnya

Meski demikian, Perry melanjutkan, langkah normalisasi moneter tetap terjadi. Adalah lewat kebijakan giro wajib minimum (GWM. Kewajiban GWM rupiah untuk bank umum konvensional, yang saat ini sebesar 5% naik menjadi 6% mulai 1 Juni 2022, dan naik bertahap menjadi 7,5% mulai 1 Juli 2022, dan 9% mulai 1 September 2022.

Kemudian kewajiban GWM rupiah untuk bank umum syariah dan unit usaha syariah, yang saat ini sebesar 4% menjadi 4,5% mulai 1 Juni 2022, 6% mulai 1 Juli 2022, dan 7,5% mulai 1 September 2022. Adanya kebijakan GWM ini akan membuat likuiditas perbankan susut hingga Rp 110 triliun.

Mandiri Economic Outlook, dok MandiriFoto: Mandiri Economic Outlook, dok Mandiri
Mandiri Economic Outlook, dok Mandiri

Andry menilai ke depan situasinya akan berubah. Terutama dari sisi Bank Sentral AS Federal Reserve (the Fed) yang semakin mendorong kenaikan suku bunga acuan lebih agresif. Proyeksinya suku bunga BI akan naik 50-75 bp di paruh kedua 2022.

"BI kemungkinan mendorong kenaikan suku bunga di semester II," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

BI Tahan Bunga Acuan 3,5%, Sudah 15 Bulan Beruntun


(mij/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading