Newsletter

Wall Street Longsor, IHSG Masih Kuat Nanjak Hari Ini?

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
25 May 2022 06:10
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Selasa (24/5) kemarin dengan apresiasi 1,07% ke level 6.914,14.

IHSG konsisten bergerak di zona hijau sepanjang perdagangan. Asing net buy mini di pasar reguler Rp 17 miliar. Sementara itu di pasar negosiasi dan tunai, asing net sell Rp77,8 miliar.


IHSG menjadi jawara kemarin dengan bursa Asia-Pasifik utama lainnya malah ditutup di zona merah di tengah pasar global masih berjuang untuk mempertahankan relinya.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menjadi dua saham paling banyak diborong asing dengan net buy Rp 167 miliar dan Rp 74,3 miliar

Sedangkan saham paling banyak dilepas asing adalah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), dengan net sell Rp 165 miliar dan Rp 90 miliar.

Tidak hanya IHSG, rupiah mampu mempertahankan penguatan melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin. Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang kembali mengerek Giro Wajib Minimum (GWM) mampu membuat rupiah mempertahankan penguatan.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,14% ke Rp 14.650/US$. Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah tidak pernah melemah, bahkan sempat menguat lagi 0,21%.

Di penutupan perdagangan, rupiah berada di Rp 14.655/US$, menguat 0,1% di pasar spot.

Kemarin, BI secara resmi mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG). Hasilnya sesuai ekspektasi, suku bunga acuan masih belum diutak-atik.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 23-24 April untuk mempertahankan BI7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,5%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%," sebut Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam jumpa pers secara virtual.

Dengan demikian, BI 7 Day Reverse Repo Rate tidak pernah berubah selama 15 bulan. Suku bunga acuan 3,5% adalah yang terendah sepanjang sejarah Indonesia.

Namun, BI juga mengambil langkah-langkah guna menjaga stabilitas rupiah dengan mempercepat normalisasi kebijakan likuiditas dengan menaikkan GWM secara bertahap.

Sementara itu dolar AS sedang mengalami koreksi akibat penurunan yield Treasury AS. Pada perdagangan Senin kemarin, indeks dolar AS jeblok lebih dari 1%, melanjutkan penurunan 1,35% sepanjang pekan lalu.

Selain penurunan yield Treasury, dolar AS juga tertekan setelah salah satu pejabat elit bank sentral AS (The Fed) menyatakan suku bunga bisa kembali diturunkan ketika inflasi sudah sukses dikendalikan.

Gara-gara Snap dkk, Wall Street Ditutup Melemah
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading