Tanpa Basa Basi, Asing Ramai-ramai Kabur dari RI

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
20 May 2022 16:45
muhammad sabqi
Attachments
3:47 PM (5 minutes ago)
to redaksi, me

   
Translate message
Turn off for: Indonesian
Barang bukti uang palsu ditunjukkan saat press release pengungkapan kejahatan uang palsu di Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis, 23/10/2021. Karopenmas Mabes Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan pengungkapan tindak pidana ini dilakukan di wilayah Jabodetabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Polisi mengamankan uang palsu pecahan Rp 100.000. Selain mata uang rupiah, ada juga ratusan lembar mata uang dolar. Selain uang polisi juga mengamankan sejumlah mesin cetak pencetak uang palsu. Tersangka itu dijerat dengan Pasal 244 KUHP dan atau Pasal 245 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP untuk mata uang asing. Serta pasal 36 ayat (1), ayat (2), ayat (3), pasal 37 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang jo 55 KUHP dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun penjara (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Pada kuartal I tahun ini, transaksi finansial yang terdiri dari investasi langsung dan portofolio tercatat defisit sebesar US$ 1,7 miliar, lebih kecil dibandingkan kuartal IV-2022 sebesar US$ 2,25 miliar.

Investasi langsung masih mencatat surplus US$ 4,47 miliar, lebih tinggi dibandingkan US$ 3,79 miliar yang tercatat pada kuartal IV-2021. Namun, kinerja investasi portofolio di pasar keuangan pada kuartal I-2022 jeblok dan mencatat defisit US$ 2,9 miliar.

Ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina dan rencana percepatan normalisasi kebijakan moneter di negara maju menyebabkan aliran keluar investasi portofolio.Selain itu, transaksi investasi lainnya mencatat defisit yang lebih besar dari kuartal sebelumnya antara lain disebabkan oleh peningkatan piutang dagang dan penempatan ke aset valas sejalan dengan masih tingginya aktivitas ekspor.



Bank Indonesia mencatat defisit pada investasi portofolio disebabkan maraknya net outflow di sisi kewajiban sebesar US$ 1,9 miliar.
"Penduduk Indonesia tercatat melakukan pembelian neto surat berharga di luar negeri (net outflow) sebesar US$ 1 miliar, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar US$ 0,5 miliar," tulis Bank Indonesia dalam laporannya.

Investor asing juga menjual Surat Utang Negara (SUN) sebesar US$ 2,9 miliar di kuartal I-2022. Banyaknya aksi jual oleh investor asing tercermin dari kepemilikan investor asing pada SUN. Posisi kepemilikan asing pada SUN turun menjadi US$ 58 miliar di kuartal I-2022 sementara pada kuartal IV-2021 tercatat US$ 61,2 miliar. Secara prosentase, kepemilikan asing turun menjadi 20,9% di kuartal I-2022 dari 22,9% di kuartal IV-2021.

Sama seperti SUN, asing juga ramai-ramai melepas Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Total dana asing kabur pada instrumen tersebut mencapai US$ 0,8 miliar baik berdenominasi rupiah atau valas.

Namun, aksi jual oleh investor asing tidak terjadi pada surat utang milik perusahan swasta. Pada sektor swasta, masih terjadi net inflow sebesar US$ 0,5 miliar.


Pasar saham juga masih tercatat net inflow dari investor asing sebesar US$ 2 miliar pada kuartal I-2022, lebih tinggi dibandingkan kuartal IV-2021.


"Defisit portofolio pada triwulan I-2022 disumbang oleh sektor publik yang mencatatkan arus keluar neto sebesar US$ 3,5 miliar. Sementara, investasi portofolio sektor swasta mencatat surplus," tulis Bank Indonesia.



Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan surplus pada transaksi berjalan masih akan berlanjut. Namun, angkanya akan mengecil sejalan dengan tingginya permintaan dalam negeri dan impor.


"Kabar baiknya, pemerintah akan membuka ekspor CPO (crude palm pil) dan turunannya kembali," tutur Andry dalam Macro Brief.

Diperbolehkannya ekspor CPO dan produk turunannya akan meningkatkan ekspor mengingat komoditas tersebut menyumbang sekitar 14-15% total ekspor Indonesia.

Bank Mandiri memperkirakan transaksi berjalan pada tahun ini akan membukukan surplus 0,28% dari PDB. Proyeksi ini lebih tinggi dibandingkan surplus 0,03% dari PDB yang diperkirakan sebelumnya.

Namun, transaksi financial  masih harus menghadapi downside risks yang akan menghalangi inflow.  Risiko datang dari lonjakan inflasi, gangguan pasokan hingga kebijakan moneter hawkish di negara-negara maju.


"Kabar baik mungkin datang dari investasi langsung yang tetap kuat terutama untuk sektor pertambangan dan perkebunan," tutur Andry.



[Gambas:Video CNBC]

(mae/mae)
HALAMAN :
1 2
Artikel Selanjutnya

RI Mau Beli Jet Tempur Rp 300 Triliun, Current Account Aman?

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading