Ujung Perang Ukraina & Harga Amonia: Krisis Pangan Dunia!

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
17 March 2022 11:20
Ilustrasi panen padi. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang antara Ukraina dan Rusia telah membuat harga minyak dan gas (migas) serta komoditas lainnya melambung tinggi beberapa pekan terakhir. Akan tetapi ada ancaman nyata yang jauh lebih mengerikan di depan akibat berkurangnya pasokan salah satu komoditas gas, yakni amonia, imbas konflik tersebut.

Potensi kelangkaan senyawa hidrogen-nitrogen yang digunakan secara luas sebagai pupuk untuk meningkatkan produksi hasil pertanian sejatinya tidak lepas dari liarnya pergerakan harga energi global.

Rusia yang merupakan pemain kunci di pasar energi global, dapat menjadi pemantik krisis pangan dunia. Negara pimpinan Vladimir Putin tersebut diketahui merupakan produsen energi utama dunia, yang mana batu bara, minyak dan gasnya masing-masing menyumbang 18, 11, dan 10% dari ekspor global.


Amonia yang diolah menjadi berbagai macam pupuk seperti diammonium fosfat (DAP), monoammonium fosfat (MAP) hingga beragam pupuk NPK membutuhkan gas alam sebagai bahan baku energi utama untuk sintesis nitrogen, yang mana pabrikan utamanya berada di Eropa dan Amerika Utara.

Harga tinggi di Eropa yang energinya sebagian besar ditopang oleh produksi Rusia dapat memperparah kondisi pasokan pupuk global yang di saat bersamaan harganya ikut naik.

Ketatnya pasokan dan harga amonia yang lebih tinggi tentu menjadi ancaman nyata bagi sektor pertanian global, yang akhirnya dapat menjadi ancaman terjadinya krisis pangan.

Selain itu, Rusia juga merupakan salah satu negara yang memiliki cadangan signifikan untuk kalium dan fosforus yang merupakan komponen utama pupuk NPK.

Lembaga penyedia data pasar, Argus Media, menyebutkan bahwa hingga saat ini dampak awal yang dirasakan masih terbatas dalam hal gangguan pasokan fisik. Akan tetapi dalam jangka panjang, ketakutan tersebut akan meningkatkan profil risiko perdagangan pupuk.

Amonia merupakan salah satu komoditas yang paling dipantau sejak awal konflik. Tahun 2021 lalu, sekitar 2,4 juta ton amonia dikirim dari pelabuhan Pivdenny (Odessa, kota di bagian selatan Ukraina), akan tetapi hanya 150.000 ton yang berasal dari domestik. Sisanya adalah amonia Rusia yang dikirim melalui pipa dari TogliattiAzot dan Rossosh, masing-masing menyuplai 1,8 juta dan 0,5 juta ton/tahun, melalui Pivdenny.

Konflik di Ukraina telah memaksa penutupan pipa amonia Togliatti-Pivdenny dan penghentian pengiriman dari Ukraina. Hal ini berimplikasi pada pasokan dan harga pupuk di beberapa negara, tahun lalu ekspor utama amonia dari Odessa dikirim ke Maroko (800.000 ton), Turki (600.000 ton), India (360.000 ton) dan Tunisia (190.000 ton).

Artinya produsen DAP dan MAP yang tidak terintegrasi (dengan amonia) di Afrika utara akan menjadi yang paling terganggu dalam waktu dekat.

Argus juga mencatat bahwa dampak penghapusan Rusia dari sistem transaksi keuangan SWIFT dan sanksi yang dikenakan terhadap bank Rusia pada penjualan pupuk masih belum dapat diketahui secara pasti tingkat keparahannya.

Meskipun tidak ada sanksi langsung terhadap perdagangan pupuk Rusia dan pelabuhan Uni Eropa tetap terbuka untuk kargo Rusia, sebagian besar produsen Rusia memproses transaksi pupuk melalui anak perusahaan perdagangan Swiss.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dalam laporannya baru-baru ini mencatat bahwa dengan naiknya harga pupuk dan produk padat energi lainnya karena konflik, dapat mengakibatkan daya beli yang lebih rendah bagi petani dan pada akhirnya mengurangi tingkat penggunaan pupuk. Hal ini tentu berimbas pada berkurangnya total produksi di sektor pertanian, yang mana di saat bersamaan juga disertai dengan penurunan kualitas.

Saat ini, harga komoditas utama dunia dari sektor pertanian dan perkebunan juga telah mengalami kenaikan yang cukup signifikan - tidak sepenuhnya atau serta merta dipengaruhi oleh kondisi pasokan amonia dan pupuk - ke level yang tidak diprediksi sebelumnya.

Harga gandum dunia tercatat sudah naik 39% dalam sebulan ke level US$ 11,2/bushels atau sekitar Rp 304.000/kg pada minggu ketiga Maret. Sementara itu berdasarkan data Refinitiv, harga CPO dibanderol di level MYR 5.978/ton pagi ini (17/3), atau secara tahunan telah membukukan kenaikan hingga 57,36%.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Duh... Ekspor-Impor Indonesia Bisa Terganggu Gegara Perang


(RCI)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading