AS-Venezuela Mesra, Harga Minyak Ambrol 5% Sepekan!

Market - Annisa Aflaha, CNBC Indonesia
13 March 2022 11:45
FILE PHOTO: A maze of crude oil pipes and valves is pictured during a tour by the Department of Energy at the Strategic Petroleum Reserve in Freeport, Texas, U.S. June 9, 2016.  REUTERS/Richard Carson/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia bergerak fluktuatif pekan ini, di mana pada awal pekan sempat turun dan kemudian pulih kembali hingga akhir pekan. Memanasnya situasi perang Rusia-Ukraina masih menjadi sentimen utama yang membuat harga si "emas hitam" ini bergejolak.

Pada perdagangan Jumat (4/3), harga minyak jenis brent ditutup di US$ 112,67/barel. Loncat 3,05% dibandingkan hari sebelumnya. Secara mingguan, harga minyak jenis brent masih anjlok 4,61% dan naik 62,77% secara tahunan.

Sementara, yang jenis light sweet harganya US$ 109,33/barel. Meroket 3,12%. Namun, membukukan penurunan mingguan sebesar 4,61% yang menjadi penurunan terbesar secara mingguan sejak November.


Investor masih mempertimbangkan upaya untuk membawa lebih banyak pasokan ke pasar melawan kekhawatiran embargo Rusia yang akan segera terjadi. Hal tersebut sejalan dengan potensi peningkatan pasokan dari Venezuela, Iran dan Uni Emirat Arab.

Produksi minyak dari Venezuela dapat naik setidaknya 400.000 barel/hari, jika pemerintah Amerika Serikat (AS) mengizinkan PDVSA (perusahaan migas nasional Venezuela) untuk memperdagangkan minyak mentah Venezuela. Presiden Venezuela Petroleum Chamber Reinaldo Quintero mengatakan bahwa pada Januari, tercatat produksi minyak mentah rata-rata 755.000 barel/hari. Apabila perdagangan disetujui, maka adanya peningkatan produksi mendekati 1,2 juta barel/hari.

Pekan lalu, para pejabat AS telah bertemu dengan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan meminta Venezuela untuk memasok setidaknya sebagian dari ekspor minyak ke AS sebagai bagian dari kesepakatan untuk meringankan sanksi perdagangan minyak yang telah ada sejak 2019.

Rystad Energy AS memperkirakan minyak jenis brent dapat melonjak ke US$240/barel pada musim panas ini jika negara-negara Barat terus memberikan sanksi kepada impor minyak Rusia.

"Volatilitas secara harian yang ekstrim mungkin mengindikasikan tentang beberapa hal: tingkat ketidakpastian, berita, dan beberapa pasar spot yang kacau dan tingkat likuiditas yang relatif rendah," tutur Kepala Penelitian Komoditas Standard Chartered Paul Horsnell dikutip dari Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pekan Pertama 2022, Harga Minyak Dunia Melejit 5%


(aaf/aaf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading