Tok! LPS Pertahankan Tingkat Bunga Penjaminan 3,5%

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
28 January 2022 17:38
Ketua Dewan Komisoner LPS, Purbaya Yudhi Sadewa

Jakarta, CNBC Indonesia - Rapat Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan untuk tetap mempertahankan tingkat suku bunga penjaminan di bank umum dalam Rupiah sebesar 3,5%.

Sementara itu, tingkat bunga penjaminan bank umum dalam valuta asing tetap dipertahankan di level 0,25%. Sedangkan, tingkat bunga penjaminan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) tetap di level 6%.

"Rapat Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan menetapkan untuk mempertahankan tingkat bunga penjaminan untuk simpanan dalam Rupiah di bank umum dan BPR serta untuk simpanan dalam valuta asing di bank umum," kata Ketua DK LPS Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers, Jumat (28/1/2022) petang.


Tingkat bunga penjaminan tersebut akan berlaku untuk periode 29 Januari 2022 sampai dengan 27 Mei 2022.

Terdapat beberapa pertimbangan LPS tetap mempertahankan kebijakan suku bunga penjaminan tersebut.

Pertama, suku bunga menunjukkan tren penurunan dengan laju yang lebih lambat di tengah kondisi likuditas perbankan yang masih cukup longgar.

Suku bunga simpanan Rupiah tercatat turun terbatas 9 basis poin (bps) menjadi 2,5% pada periode observasi pada 22 Desember 2021 sampai dengan 14 Januari 2022. Jika diakumulasi dengan periode sebelumnya, suku bunga pasar simpanan dalam Rupiah mengalami penurunan 34 basis poin (bps).

"SBP valas periode observasi tetap 0,22%, jika diakumulasi sebelumnya, SBP valas turun sebesar 1 bps," katanya.

Kedua, dari sisi prospek likuiditas perbankan masih cukup terjaga longgar dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang stabil, diiringi dengan permodalan dan membaiknya fungsi intermediasi.

LPS mencatat, sepanjang 2020, kredit bank umum tumbuh membaik 5,24% secara tahunan dengan DPK yang tumbuh 12,21% secara tahunan. Adapun, CAR perbankan berada di level 25,67%.

Di sisi lain, LPS juga mencermati masih adanya risiko ketidakpastian yang tinggi akibat merebaknya varian Covid-19 Omicron.

"Kami menilai, fungsi intermediasi perlu terus didorong dengan kebijakan stimulus perbankan terukur dan mempertimbangkan stabilitas sistem keuangan," katanya.

Tak hanya Covid-19, Purbaya juga menyebut, dampak dari kebijakan tapering off The Federal Reserve yang akan dimulai pada kuartal pertama di tahun ini dinilai sudah diantisipasi pasar, sehingga dampaknya diyakini tidak akan menimbulkan dampak volatilitas yang cukup drastis terhadap pasar keuangan domestik.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

LPS Mengaku Salah! Terlambat Turunkan Bunga Penjaminan


(sys/dhf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading