Pasar Tunggu The Fed, Harga Tembaga Melorot

Market - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
25 January 2022 17:39
Indonesia lewat PT Indonesia Alumunium (Inalum) menguasai 51% saham PT Freeport Indonesia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, melakukan kunjungan kerja ke tambang Freeport di Timika, Papua pada 2-3 Mei 2019.

Dalam acara, Jonan mengunjungi tambang emas legendaris milik Freeport Indonesia, yaitu Grasberg, yang lokasinya 4.285 meter di atas permukaan laut.

Tambang Grasberg ini akan habis kandungan mineralnya dan berhenti beroperasi pada pertengahan 2019 ini. Sebagai gantinya, produksi meas, perak, dan tembaga Freeport akan mengandalkan tambang bawah tanah yang lokasinya di bawah Grasberg.

Dalam kunjungan tersebut, Jonan didampingi Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas, Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin, serta sejumlah pejabat Kementerian ESDM.

Perjalanan menuju Grasberg dilakukan menggunakan bus khusus, dan sempat disambung dengan menggunakan kereta gantung atau disebut tram yang mengantarkan hingga ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut, dan disambung dengan bus lagi hingga ke puncak Grasberg.

Cuaca gerimis serta oksigen yang tipis menyambut kedatangan Jonan dan rombongan di lokasi puncak Grasberg.

Dalam kunjungannya Jonan mengatakan, tantangan saat ini adalah membuat operasional Freeport terus berjalan dengan baik, dan produksi, keselamatan kerja, serta lingkungan dapat terjaga dengan baik.

Jonan meminta agar tidak ada hambatan dalam pengelolaan tambang Freeport pasca pengambilalihan 51% saham oleh Inalum.

Jonan juga meminta agar ke depan peranan Freeport terhadap masyarakat Papua makin besar, lewat pembangunan sarana dan prasarana seperti sekolah serta rumah sakit atau puskesmas. (CNBC Indonesia/Wahyu Daniel)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga tembaga melemah pada perdagangan hari ini jelang pengumuman kebijakan moneter The Fed.

Pada Selasa (25/1/2021) pukul 15:03 WIB harga tembaga dunia tercatat US$ 9.673,5/ton, turun 0,56% dibandingkan posisi kemarin.


Investor menanti pengumuman kebijakan moneter The Fed pada Rabu (26/1/2022) waktu setempat. Investor mencemaskan tentang berapa kali suku bunga akan dinaikkan tahun ini dan kapan kenaikan akan dimulai.

Ekonomi Amerika Serikat (AS) yang terlalu panas mendesak The Fed untuk segera mengambil kebijakan untuk menahan laju inflasi. Pada bulan Desember, inflasi AS mencapai 7% year-on-year tertinggi sejak Juni 1982.

Analis dari Goldman Sachs melihat The Fed mengatakan bahkan tidak menutup kemungkinan lebih banyak lagi akibat tingginya inflasi di Amerika Serikat.

"Prediksi dasar kami The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak 4 kali di bulan Maret, Juni, September dan Desember. Tetapi kami melihat risiko The Fed ingin menaikkan suku bunga di setiap pertemuan sampai proyeksi inflasi berubah," kata David Mericle, ekonom di Goldman Sachs kepada nasabahnya yang dikutip CNBC International, Minggu (23/1).

Melihat jumlah pertemuan The Fed sebanyak 8 kali pada tahun ini, dan seandainya suku bunga mulai dinaikkan bulan Maret, artinya ada kemungkinan suku bunga bisa dinaikkan sebanyak 7 kali, jika melihat risiko yang dipaparkan Goldman Sachs.

Sementara pasar memperkirakan suku bunga akan naik pertama kali pada bulan Maret. Berdasarkan data CME Fedwatch, pelaku pasar mengantisipasi bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga acuan paling cepat 25 bps pada Maret 2022 dengan probabilitas 88,7%.

Kenaikan suku bunga lebih cepat dapat memangkas likuiditas di pasar keuangan dan memperlambat pemulihan di ekonomi.

Ketika pemulihan ekonomi melambat, permintaan tembaga akan ikut menyusut. Ini karena tembaga digunakan oleh berbagai sektor strategis dalam pertumbuhan ekonomi negara. Sektor peralatan sehari-hari, konstruksi, infrastruktur, transportasi, dan industrial adalah konsumen tembaga. Sehingga permintaan untuk tembaga akan menjadi lesu, harga pun mengikuti.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Warning! JP Morgan Bilang Harga Tembaga Bearish


(ras/ras)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading