Ibarat Politisi, Emas Bakal Curi Panggung di 2021

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
22 January 2022 16:45
Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Emas yang melempem pada tahun lalu di tahun ini bakal mencuri panggung di pasar finansial global di tahun ini. Tanda-tanda tersebut terlihat setelah emas mampu bertahan di atas US$ 1.800/troy ons meski bank sentral Amerika Serikat (AS) akan agresif dalam mengetatkan kebijakan moneternya.

Pada perdagangan Rabu (19/1) emas bahkan mampu meroket nyaris 1,5% US$ ke kisaran US$ 1.839/troy ons. Level tersebut merupakan yang tertinggi dalam dua bulan terakhir.

Dalam dua hari terakhir, emas kembali turun meski tipis-tipis. Dalam sepekan, logam mulia ini sukses mencatat penguatan 0,88% ke US$ 1.833/troy ons.


Seperti diketahui dalam notula rapat kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) bulan Desember terungkap, beberapa pejabat teras melihat nilai neraca (balance sheet) bisa segera dikurangi setelah suku bunga dinaikkan.

Artinya, The Fed jauh lebih agresif dari perkiraan pasar. Sebelumnya, pelaku pasar melihat The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak 3 kali di tahun ini, dan paling awal di bulan Maret.

Kenaikan suku bunga merupakan musuh utama emas yang bisa membuat nilainya merosot. Tetapi nyatanya emas sukses mencatat penguatan dua pekan beruntun dan kembali ke atas US% 1.800/troy ons.

Status emas sebagai aset aman (safe haven) serta lindung nilai terhadap inflasi akan menjadi penopang kenaikan di tahun ini, bahkan ada yang memprediksi akan memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa lagi.

Di awal tahun ini saat harga emas sedang tertekan dan kembali ke bawah US$ 1.800/troy ons, Byron Wien, mantan kepala investasi Morgan Stanley memprediksi emas bisa memberikan pergerakan yang mengejutkan dengan melesat 20% dan mencapai US$ 2.160/troy ons di tahun ini. Level tersebut tentunya merupakan rekor tertinggi sepanjang masa. Wien kini kini menjabat wakil presiden Blackstone, perusahaan dengan aset under management sekitar US$ 650 miliar.

Wien melihat meski The Fed menormalisasi kebijakan moneternya dengan agresif, tetapi inflasi masih akan tetap tinggi. Permintaan emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi akan meningkat.

"Harga emas reli 20% ke rekor tertinggi baru. Meski pertumbuhan ekonomi AS kuat, investor mencari aset aman dan lindung nilai dari inflasi di emas. Emas akan mendapatkan kembali statusnya sebagai safe haven bagi miliader baru, bahkan saat mata uang kripto menggerogoti pasarnya," kata Wien, sebagaimana dilansir Kitco, Selasa (4/1).

Potensi kenaikan harga emas dunia juga disebutkan oleh Jeffrey Gundlach, triliuner yang dijuluki "raja obligasi". Ia masih tetap bullish terhadap emas untuk jangka panjang. Apalagi, saat ini Gundlach melihat adanya risiko resesi akibat kenaikan suku bunga di AS, serta tingginya inflasi.

"Tekanan inflasi sedang meningkat, jika kita melihat perekonomian, tidak bisa dipungkiri ditopang oleh quantitative easing dan ekspansi neraca The Fed. Dan karena hal itu akan hilang, maka di tahun 2022 akan ada tantangan yang dihadapi untuk aset berisiko dan tentunya perekonomian. Sinyal dari pasar obligasi mulai terlihat seperti pra-resesi," kata Gundlach, sebagaimana diwartakan Kitco, Rabu, (12/1).

Untuk jangka pendek pada pekan depan, analis maupun pelaku pasar kompak memprediksi emas akan melesat lagi.

Dalam survei mingguan yang dilakukan Kitco, sebanyak 16 dari 18 analis di Wall Street memberikan proyeksi bullish (tren naik) untuk emas di pekan depan. 2 analis lainnya memberikan proyeksi bearish (tren turun).

Sementara survei terhadap pelaku pasar yang disebut Main Street, dengan 1.134 partisipan hasilnya sebanyak 71% memberikan proyeksi bullish, 17% bearish dan sisanya netral.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Emas Disebut Undervalue 12%, tapi Jangan Buru-buru Borong!


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading