Neraca Dagang RI Memang Surplus 20 Bulan Beruntun, Tapi...

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
17 January 2022 15:00
Ilustrasi Ekspor- Impor (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca perdagangan Indonesia kembali surplus pada Desember 2021, yakni sebesar US$ 1,02 miliar. Hal ini menandai tren surplus dalam 20 bulan terakhir.

"Surplus ini terjadi selama 20 bulan beruntun," ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono dalam konferensi pers, Senin (17/1/2022).

Memang, kali terakhir neraca perdagangan berada di teritori negatif adalah pada April 2020.


Menurut catatan Tim Riset CNBC Indonesia, terakhir kali RI mengalami tren surplus dagang selama 20 bulan berturut-turut adalah pada periode Agustus 2010 sampai Maret 2012.

Di samping itu, surplus pada Desember lalu menggenapi surplus dagang tanpa henti alias tanpa defisit sepanjang 2021. Rekor reli surplus dagang selama satu tahun kalender (12 bulan) sebelumnya diraih pada periode Januari-Desember 2016.

Kepala BPS Margo Yuwono juga menyebutkan, dari data BPS maka sepanjang 2021, surplus neraca dagang mencapai US$ 35,34 miliar atau tertinggi sejak 5 tahun terakhir.

Meleset dari Konsensus

Adapun, angka surplus dagang Desember itu sendiri sebenarnya meleset dari konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia.

Sebelumnya, konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan, neraca perdagangan bakal mengalami surplus US$ 3,05 miliar.

Sebagai perbandingan, 12 ekonom dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan surplus dagang RI mencapai $3,13 miliar pada Desember 2021.

Penyebab Ekspor Desember Loyo

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Senin (17/1), ekspor pada Desember 2021 sebesar US$ 22,38 miliar atau tumbuh 35,30% (year-on-year/yoy). Angka pertumbuhan ekspor ini lebih rendah dari konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia sebesar 40,3%.

Sementara, dibandingkan dengan bulan sebelumnya (month-on-month/mom) ada penurunan 2,04%.

Penurunan ekspor Desember 2021 dibandingkan dengan November 2021 disebabkan oleh menurunnya ekspor nonmigas 1,06%, yaitu dari US$ 21.512,0 juta menjadi US$21.284,4 juta. Demikian juga ekspor migas turun 17,93% dari US$ 1.332,4 juta menjadi US$ 1.093,4 juta.

Sebagai informasi, mengacu pada data BPS, ekspor nonmigas berkontribusi sebesar 94,70% terhadap ekspor RI selama Januari-Desember 2021. Jadi, ekspor migas hanya menyumbang 5,30% dari total ekspor pada periode tersebut.

Penurunan terbesar ekspor nonmigas Desember 2021 terhadap November 2021 terjadi pada komoditas bahan bakar mineral sebesar US$ 880,4 juta (21,32%), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada lemak dan minyak hewani/nabati sebesar US$428,8 juta (16,84%).

Adapun, secara sektoral, ekspor nonmigas dari produk pertambangan dan lainnya turun paling signifikan, yakni 21,20% secara bulanan (mom) yang disebabkan oleh menurunnya ekspor batu bara. Adapun secara tahunan (yoy), ekspor sektor pertambangan telah melonjak 74,92%.

Penurunan Ekspor Batu Bara Bakal Berlanjut?

Penurunan ekspor batu bara pada Desember 2021 diprediksi bakal berlanjut pada Januari 2022. 

Melansir Reuters, Jumat (14/1), analis Nomura mengatakan, larangan ekspor batu bara sebulan penuh pada Januari ini dapat mengurangi ekspor sebesar US$ 4 miliar, yang dapat membuat Indonesia kembali terjerumus dalam defisit perdagangan. Sementara, broker Bahana Sekuritas memperkirakan nilai ekspor batu bara Januari sekitar US$ 3 miliar.

Kabar teranyar, pemerintah pada pekan lalu sudah melonggarkan larangan tersebut, dengan mengizinkan 37 kapal batu bara untuk berangkat.

Namun di sisi lain, pemerintah menyebut, izin ekspor batu bara belum sepenuhnya dicabut, melainkan hanya akan mengizinkan perusahaan batu bara yang sudah memenuhi kewajiban.

Asal tahu saja, kontribusi ekspor sektor pertambangan dan lainnya terhadap total ekspor 2021 sebesar 16,38%. Persentase tersebut hanya kalah dari ekspor sektor industri pengolahan yang mencapai 76,49% dari total ekspor sepanjang Januari-Desember 2021.

Kemudian impor di Desember mencapai US$ 21,36 miliar, naik 47,93% yoy (lebih rendah dari konsensus CNBC Indonesia +39,7% yoy) dan 10,52% secara bulanan (mom).

Dibandingkan dengan bulan sebelumnya (MoM), pertumbuhan ekspor maupun impor memang melambat. Pada November 2021, ekspor melonjak 49,7% yoy dan impor melesat 52,62% yoy.

Surplus neraca perdagangan Desember 2021 pun agak mengendur, karena pada November 2021 tercatat US$ 3,51 miliar. 

Hal ini terjadi setelah surplus dagang menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa pada Oktober 2021 sebesar US$ 5,74 miliar.

Adapun, surplus dagang pada Desember 2021 merupakan yang paling rendah sejak Juni 2021 yang mencapai US$ 1,32 miliar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Top! Neraca Dagang RI Agustus 2021 Surplus USD 4,74


(vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading