Booming Commodity, Ekspor Rekor & Rupiah yang Perkasa

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
16 September 2021 11:20
Bongkar Muat Peti Kemas di Terminal Tanjung Priok. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2021 kembali membukukan surplus sebesar US$ 4,74 miliar, menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa. Angka ini mengalahkan konsensus pasar yang memperkirakan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 2,32 miliar.

Menurut catatan CNBC Indonesia, rekor sebelumnya tercipta pada Desember 2006 yaitu US$ 4,64 miliar.

Rekor surplus dagang ini terutama ditopang ekspor Indonesia yang melonjak tinggi pada Agustus 2021.


Pada Rabu (15/9/2021), Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi ekspor US$ 21,42 miliar, naik 20,95% dibandingkan Juli 2021 (month-to-month/mtm). Sementara ekspor naik 64,1% dari Agustus 2020 (year-on-year/yoy), lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 36,1%.

Sementara, nilai impor Indonesia pada Agustus 2021 mencapai US$ 16,68 miliar atau naik 10,35% jika dibandingkan realisasi Juli 2021 mom. Kemudian, impor naik 55,26% jika dibandingkan realisasi Agustus 2020 yoy, lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 45,0%.

Capaian ini besar dipengaruhi oleh peningkatan nilai ekspor minyak kelapa sawit hingga hasil pertambangan seperti batubara, biji tembaga dan lignit.

Menurut riset Bahana Sekuritas yang dirilis pada Rabu (15/9), angka tersebut menjadi latar belakang kinerja mata uang rupiah yang menguat baru-baru ini, yang mana perusahaan minyak sawit (crude palm oil/CPO) mungkin menjadi konverter valuta asing terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Peneliti Bahana Sekuritas berpendapat, aset mata uang lokal, terutama obligasi, akan mengungguli aset berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) seiring meningkatnya daya tarik carry trade.

Secara sederhana, carry trade merupakan strategi investasi dengan meminjam dana di negara dengan suku bunga rendah, dan menginvestasikannya di negara dengan suku bunga yang tinggi.

"Apresiasi 1,7% mata uang Indonesia secara quarter-to-date adalah salah satu yang terbaik di dunia, bahkan mengalahkan mata uang DM seperti Yen atau Euro," jelas peneliti Bahana, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (16/9/2021).

Selain itu, lanjut peneliti Bahana, kesepakatan Bank Indonesia (BI) dan People's Bank of China (PBC) baru-baru ini terkait penyelesaian transaksi bilateral dengan mata uang lokal (Local Currency Settlement/LCS) antara Indonesia dan Tiongkok akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan eksposur ke ekonomi Negeri Paman Sam dalam jangka menengah panjang.

Catatan saja, mengutip Bahana, saat ini penggunaan dolar AS untuk perdagangan masih tinggi, yakni sebesar 93,8% untuk ekspor dan 82,0% untuk impor berkat efisiensinya (risiko rendah dan biaya pertukaran lebih murah).

Seperti yang telah dijelaskan di atas, kinerja ekspor Indonesia yang moncer ditopang oleh lonjakan harga komoditas atau commodity boom yang memainkan peran besar, khususnya untuk CPO.

Ekspor CPO--yang termasuk dalam kode HS15--melonjak 62,1% secara mom dan 168,3% secara yoy atau tahunan menjadi US$ 4,05 miliar pada bulan Agustus di tengah volume penjualan yang lebih tinggi dan harga yang meningkat (6,8% secara bulanan).

Menurut catatan Bahana, sebagian besar pengiriman CPO dikirim ke India, yakni melonjak sekitar 84% mom tau setara dengan 850 ribu mt (metrik ton) seiring tingkat stok yang rendah dan bea masuk yang lebih tinggi dari perkiraan pasar.

"Tren ini kemungkinan akan berlanjut di beberapa bulan mendatang, menurut Solvent Extractors Association dan kami memprediksi persediaan berada di level terendah secara historis pada bulan Juli di 170 ribu mt," kata Bahana.

Menurut data BPS yang dikutip Bahana, besi-baja dan timah mencatat lompatan besar masing-masing 56,3% dan 11,4% secara bulanan, yang mendorong ekspor manufaktur (20,7% mom dan 52,6% yoy).

Ekspor pertambangan juga meningkat sebesar 27,2% mom lantaran penjualan batubara yang tinggi sebesar 22,0% secara bulan berkat peningkatan permintaan dan kenaikan harga sebesar 11,0%.

"Kami memprediksi ekspor tetap kuat, selaras dengan perbaikan PMI [Purchasing Managers' Index] dan kenaikan harga komoditas yang berkelanjutan," imbuh Bahana.

Kenaikan Impor Jadi Sinyal Pemulihan Ekonomi 

Di sisi lain, kenaikan impor selama Agustus 2021 menjadi sinyal pemulihan ekonomi RI.

Seperti yang telah disebutkan di atas, impor mencapai US$ 16,7 miliar sepanjang Agustus, naik 10,3% secara mom dan 55,2% yoy.

Impor manufaktur juga meningkat, dengan pertumbuhan dua digit yang kuat dalam pembelian barang modal domestik, yakni sebesar 16,4% mom dan 34,5% yoy dan bahan baku (8,4% m-m dan 59,6% y-y).

Menurut data BPS yang disitir Bahana, impor barang industri dan peralatan elektronik yang masing-masing tumbuh 16,7% dan 9,7% secara bulanan masing-masing, menandakan pemulihan ekonomi yang kuat ke depan.

Sementara, impor barang konsumsi pada Agustus 2021 mencapai US$ 1,89 miliar atau naik 16,34% dibandingkan Juli 2021 dan naik 58,23% dibandingkan Agustus 2020. Kenaikan ini sebagian karena impor buah yang melonjak, naik 84,3% secara bulanan.

Sebelumnya, pihak BPS sendiri menjelaskan, "Impor pada Agustus menggambarkan terjadinya kebutuhan industri yang semakin bagus, karena bahan baku/penolong dan barang modal meningkat."

"Menandakan permintaan industri bagus dan barang modal menggambarkan kebutuhan kapasitas industri juga makin bagus," jelas kepala BPS Margo Yuwono.

Lebih lanjut, impor minyak dan gas (migas) tumbuh 14,7% mom karena mobilitas ritel meningkat menjadi -12,4% di bulan Agustus dari -20,0% sebulan sebelumnya. Hal ini terjadi, jelas Bahana, kendati harga minyak mentah Indonesia lebih rendah US$ 67,8/barrel (atau -6,1% mom).

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading