Prediksi Bursa Saham

Pekan Ini akan Ramai, Perhatikan Sentimen Penggerak Pasar Ini

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
16 January 2022 21:20
Harga saham emiten bank digital PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) melonjak pada awal perdagangan hari ini, Selasa (11/1/2022). Kenaikan saham BBHI terjadi seiring pengusaha nasional Chairul Tanjung (CT), yang merupakan ultimate shareholder Allo Bank, membuka perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,12% ke 6.693,40 sepanjang pekan ini di tengah kekhawatiran perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) secara drastis. Pekan ini, sentimen pasar berimbang dari dalam dan luar negeri.

Sentimen pertama muncul dari China, yang pada Senin (17/1/2022) merilis pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2021. Menurut konsensus Tradingeconomics, ekonomi Negeri Panda tumbuh 3,6% secara tahunan, melambat dari kuartal III-2021 yang naik 4,9% (secara tahunan).

Namun secara kuartalan, Produk Domestik Bruto di China diprediksi tumbuh 1,1%, atau melesat dari kuartal III-2021 yang secara kuartalan tumbuh hanya 0,2%. Rilis tersebut bakal mempengaruhi psikologi pelaku pasar di Asia, termasuk Indonesia.


Pada hari yang sama, Negeri Panda akan merilis data produksi industri dan penjualan ritel per Desember. Keduanya diprediksi masih tumbuh, meski melambat dibandingkan dengan posisi November.

Di Indonesia, pada hari yang sama akan dirilis data neraca perdagangan. Ia bakal menjadi agenda kedua yang mempengaruhi sentimen pasar pekan ini. Badan Pusat Statistik Statistik (BPS) dijadwalkan merilis neraca perdagangan periode Desember 2021.

Kinerja perdagangan Indonesia per Desember 2021 diperkirakan masih kuat, di mana ekspor tumbuh lebih tinggi ketimbang impor sehingga berujung pada surplus neraca perdagangan. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan ekspor tumbuh 40,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).

Sementara itu, impor diperkirakan tumbuh 39,7% yoy. Dibandingkan dengan bulan sebelumnya, pertumbuhan ekspor dan impor memang melambat. Per November 2021, ekspor melonjak 49,7% dan impor melesat 52,62%. Surplus neraca perdagangan saat itu mencapai US$ 3,51 miliar atau lebih tinggi dari proyeksi surplus neraca perdagangan Desember sebesar US$ 3,05 miliar.

Sentimen ketiga bakal muncul dari Jepang, di mana bank sentral mereka (Bank of Japan/BoJ) bakal menggelar rapat dewan gubernur yang akan menentukan arah kebijakan moneter Negeri Matahari Terbit itu.

Sejauh ini, pasar memperkirakan suku bunga acuan tak akan diubah di level -0,1%. Artinya, belum ada kebijakan ekstra ketat yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Jika tak ada kejutan, maka pasar akan kian nyaman bertransaksi di pasar saham negara berkembamg.

Inggris bakal menarik perhatian pelaku pasar, dan menjadi sentimen keempat yang perlu dicermati menyusul pengumuman angka inflasi Desember. Saat ini pasar memantau sejauh mana inflasi di negara maju bakal bergerak meninggi.

Menurut konsensus Refinitiv, Negeri Big Ben itu masih akan mencetak inflasi tinggi, sebesar 5,2% pada Desember 2021, atau menguat dibandingkan dengan posisi November.

Kenaikan inflasi yang terjadi bersamaan di negara maju akan memicu kekhawatiran pelaku pasar akan adanya transisi kebijakan moneter secara drastis, yang bisa memicu tekanan di pasar keuangan dunia. Jepang akan mengikuti, dengan rilis inflasi pada Jumat.

Suku Bunga Acuan BI

Sentimen pasar kelima bakal berasal dari dalam negeri dengan pengumuman penetapan suku bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate) yang saat ini berada di level 3,5%. Sejauh ini konsensus pasar memperkirakan tak akan ada perubahan suku bunga acuan dari level tersebut.

Namun pasar menanti apakah stimulus masih akan disediakan sepanjang tahun ini, seperti misalnya pembebasan pajak pembelian kendaraan bermotor dan pelonggaran moneter terkait uang muka kredit, guna menopang pemulihan agar berjalan lebih cepat.

Sentimen keenam bakal berasal dari Amerika Serikat (AS) di mana emiten raksasa bakal antri merilis kinerja keuangan per kuartal IV-2022, dan berpeluang memicu penguatan saham-saham siklikal yang diuntungkan dari pemulihan ekonomi dan saham berbasis nilai.

Beberapa emiten yang akan merilis kinerja mereka adalah Goldman Sachs, Bank of America, Netflix, Procter & Gamble, dan United Airlines. Menurut Credit Suisse, laba bersih emiten konstituen indeks S&P 500 akan meningkat 11%, kebanyakan ditopang saham siklikal.

Sentimen terakhir yang patut dicermati adalah klaim tunjangan pengangguran baru di AS yang akan dirilis pada Kamis, diikuti data manufaktur Fed Philadelphia, serta data penjualan rumah siap huni. Ketiganya menunjukkan sejauh mana traksi pemulihan ekonomi dan efek Omicron mempengaruhi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Simak Nih! Deretan Kabar 'Hot' buat Pekan Depan


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading