Makin Suram, Pengembang China Mati-Matian Lunasi Utang

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
14 January 2022 15:10
abrik Baja dan Besi Guofeng yang telah dinonaktifkan dan sebuah gedung apartemen yang sedang dibangun di Tangshan, provinsi Hebei, China, August 22, 2018. Picture taken August 22, 2018.  REUTERS/Thomas Peter

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah beberapa perusahaan pengembang properti utama di China gagal membayar kewajibannya kepada kreditur, satu per satu perusahaan lain mulai mengindikasikan kondisi serupa.

Terbaru, Shimao Group pekan lalu mengatakan perusahaan telah melewatkan pembayaran trust loan senilai US$ 101 juta (Rp 1,45 triliun). Lembaga pemeringkat S&P, yang kembali menurunkan peringkat perusahaan menjadi B- minggu ini, mengatakan pada hari Kamis bahwa pihaknya telah menarik pemeringkatan atas permintaan perusahaan.

Sebaliknya, anak perusahaan Shimao Group, Shanghai Shimao co mengkonfirmasi pada Kamis malam bahwa pihaknya telah mentransfer dana untuk membayar kembali obligasi 4,65% denominasi yuan dengan pokok pinjaman 1,9 miliar yuan (Rp 4,28 triliun) yang jatuh tempo pada hari Sabtu.


Tetapi perusahaan belum mengatakan apa pun terkait pembayaran kupon luar negeri senilai US$ 28 juta yang jatuh tempo pada hari yang sama. Shimao juga memiliki kupon luar negeri lainnya sebesar US$ 13 juta (Rp 401,8 miliar) yang akan jatuh tempo pada hari Minggu dan kupon dalam negeri sebesar 22,5 juta yuan (Rp 50,66 miliar) yang akan jatuh tempo pada hari Rabu depan.

Shimao Group yang berbasis di Shanghai dikabarkan akan mengadakan pertemuan untuk membahas proposal perpanjangan pembayaran, yang mana pada kesempatan terpisah taktik ini mampu dimanfaatkan Evergrande setelah pemegang obligasi setuju memberikan ekstensi tenggat waktu.

Secara terpisah, Yuzhou Group, yang didirikan di kota pesisir timur Xiamen, mengumumkan penawaran penukaran terhadap dua obligasi dolar 2022 yang jatuh tempo akhir bulan ini - senilai total US$ 582 juta (Rp 8,35 triliun) - untuk memperpanjang masa jatuh tempo selama satu tahun demi menghindari gagal bayar.

Yuzhou menyebutkan perusahaan kemungkinan akan menunda pembayaran kupon senilai US$ 110 juta (Rp 1,58 triliun) yang akan jatuh tempo pada Januari dan Februari, katanya dalam sebuah pengajuan. Perusahaan juga disebutkan mencari persetujuan dari pemegang obligasi dolar lain dengan total nilai US$ 4,5 miliar (Rp 64,57 triliun) untuk mengubah persyaratan yang akan membantunya menghindari cross default.

Ancaman besar ke depan

Nomura memperkirakan krisis kas sektor properti dan perumahan akan semakin meningkat, dengan perusahaan yang perlu memenuhi jatuh tempo dalam dan luar negeri berjumlah sekitar 210 miliar yuan (Rp 472,83 triliun) pada kuartal pertama dan kedua tahun ini, naik dari 191 miliar yuan (Rp 430 triliun) pada kuartal keempat tahun 2021 lalu.

Pengembang saat ini juga sedang mati-matian mengumpulkan dana untuk membayar utang.

Pemain utama Sunac China Holdings Ltd mengatakan pada hari Kamis akan mengumpulkan US$ 580,1 juta (Rp 8,32 triliun) dari penjualan saham.

Sumber Reuters mengatakan bahwa Sunac tidak memiliki rencana lebih lanjut dalam waktu dekat untuk menempatkan saham di unit Sunac Services untuk meningkatkan modal, menambahkan bahwa mereka memiliki dana yang cukup untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang yang jatuh tempo dalam jangka pendek dan untuk pengembangan proyek.

Guangzhou R&F Properties, yang memiliki sejumlah proyek di kota-kota global seperti London, telah mengumumkan unitnya di Hong Kong mengalami kondisi 'default selektif' pada hari Kamis setelah melalui penundaan pembayaran obligasi.

Pengembang yang lebih kecil Agile Group menjanjikan 65,6 juta saham unit manajemen propertinya, A-Living Smart City Services, pada 6 Januari untuk jumlah yang tidak ditentukan, menurut pengajuan bursa.


[Gambas:Video CNBC]

(fsd/fsd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading