Khawatir Omicron 'Meledak', Saham Properti Ambles Berjamaah

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
14 December 2021 15:54
Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau sebanyak 619.868 unit, sementara rumah non-MBR yang terbangun sebesar 30 persen, sebanyak 145.252 unit.
Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, sekitar 20 persen merupakan rumah yang dibangun oleh Kementerian PUPR berupa rusunawa, rumah khusus, rumah swadaya maupun bantuan stimulan prasarana dan utilitas (PSU), 30 persen lainnya dibangun oleh pengembang perumahan subsidi yang mendapatkan fasilitas KPR FLPP, subsisdi selisih bunga dan bantuan uang muka. Selebihnya dipenuhi melalui pembangunan rumah non subsidi oleh pengembang.
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengungkapkan, rumah tapak masih digemari kelas menengah ke bawah.
Kontribusi serapan properti oleh masyarakat menengah ke bawah terhadap total penjualan properti mencapai 70%.
Serapan sebesar 200.000 unit ini, akan terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 250.000 unit.

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham emiten properti ditutup melorot ke zona hijau pada perdagangan hari ini, Selasa (15/12/2021). Pelemahan saham tersebut terjadi di tengah perkembangan baru varian Covid-19 Omicron yang dikhawatirkan bisa menghambat upaya pemulihan yang sedang berlangsung, sebab lebih mudah menyebar ketimbang varian lainnya. 

Indeks sektor properti (IDXPROPERT) tercatat menjadi salah satu yang paling ambles, yakni sebesar 1,32% ke posisi 797,18 hari ini.

Berikut kinerja saham properti berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI).


  1. Pollux Properties Indonesia (POLL), saham -6,31%, ke Rp 1.485/saham

  2. DMS Propertindo (KOTA), -5,81%, ke Rp 81/saham

  3. Lippo Cikarang (LPCK), -5,22%, ke Rp 1.270/saham

  4. Sentul City (BKSL), -3,23%, ke Rp 60/saham

  5. Ciputra Development (CTRA), -2,37%, ke Rp 1.030/saham

  6. Agung Podomoro Land (APLN), -2,31%, ke Rp 127/saham

  7. Royalindo Investa Wijaya (INDO), -1,82%, ke Rp 108/saham

  8. Pakuwon Jati (PWON), -1,60%, ke Rp 492/saham

  9. PP Properti (PPRO), -1,45%, ke Rp 68/saham

  10. Summarecon Agung (SMRA), -1,10%, ke Rp 895/saham

  11. Lippo Karawaci (LPKR), -0,68%, ke Rp 146/saham

  12. Alam Sutera Realty (ASRI), -0,58%, ke Rp 171/saham

  13. Bumi Serpong Damai (BSDE), -0,48%, ke Rp 1.035/saham

Menurut data di atas, saham POLL menjadi yang paling jeblok hingga minus 6,31%. Dengan ini, dalam sebulan terakhir, saham POLL hanya menghijau 3 kali dengan sisanya memerah.

Dalam sepekan, saham POLL turun 4,19%, sedangkan dalam sebulan anjlok 29,62%.

Setali tiga, saham KOTA juga merosot 5,81%, usai melejit 11,69% pada perdagangan kemarin. Adapun lonjakan pada Senin kemarin tersebut terjadi usai saham KOTA mengalami rentetan koreksi yang signifikan selama 9 hari beruntun.

Saham LPCK dan BKSL juga sama-sama ambles 5,22% dan 3,23% hari ini.

Sentimen pasar secara keseluruhan memang cenderung negatif hari ini, terutama soal perkembangan teranyar Omicron. Inggris sudah melaporkan ada 1 korban jiwa yang terinfeksi oleh varian baru ini.

Selain itu dari China, pemerintah setempat melaporkan kasus pertama Covid-19 varian Omicron di negaranya pada Senin kemarin, seperti yang dilaporkan oleh Reuters dan media lokal setempat.

Infeksi Omicron pertama di Negeri Panda tersebut terindikasi dari imported case yakni dari wisatawan asing yang tiba di kota Tianjin dari luar negeri pada 9 Desember lalu. Saat ini, pasien tersebut sedang dirawat dan diisolasi di rumah sakit setempat.

Perkembangan yang tidak menggembirakan terkait Omicron tersebut membuat investor kembali dihantui perlambatan pemulihan (baik kesehatan maupun ekonomi) secara global.

Kendati sahamnya memerah, masih terdapat sentimen positif untuk sektor properti, salah satunya adalah sejumlah insentif dari pemerintah seperti pelonggaran LTV 0% bagi uang muka pembelian rumah menjadi katalis positif bagi emiten di sektor ini.

Namun, memang, seperti dijelaskan di atas, pandemi Covid-19 tampaknya masih menahan pertumbuhan penjualan properti Tanah Air.

Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia yang terbit pada 12 November mengindikasikan harga properti residensial dan komersial tumbuh terbatas pada triwulan III 2021.

Hal ini tercermin dari kenaikan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) triwulan III 2021 sebesar 1,41% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 1,49% (yoy). Pada triwulan IV 2021, BI memprakirakan, harga properti residensial primer masih tumbuh terbatas sebesar 1,19% (yoy).

Kemudian, dari sisi penjualan, hasil survei mengindikasikan, penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan III 2021 masih tertahan. Hal ini tercermin dari penjualan properti residensial pada triwulan III 2021 yang terkontraksi 15,19% (yoy). Penurunan penjualan properti residensial terutama terjadi pada tipe rumah kecil.

Sementara, pertumbuhan permintaan properti komersial per kuartal III tahun ini mulai menunjukkan perbaikan meskipun masih tumbuh terbatas. Indeks Permintaan Properti Komersial secara tahunan tumbuh positif 0,13% (yoy) dan lebih tinggi dibandingkan 0,06% (yoy) pertumbuhan pada kuartal II 2021.

Namun, menurut data BI, kategori sewa properti komersial cenderung melambat, dipengaruhi oleh permintaan pada segmen perkantoran dan hotel yang melambat sebagai dampak dari kebijakan pembatasan pergerakan masyarakat ala pemerintah.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Saham Properti Receh Naik Daun, Bergerak Liar Saat IHSG Merah


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading