Kasus Heru-Bentjok Puncak Gunung Es Praktik 'Goreng' Saham?

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
09 December 2021 15:30
Heru Hidayat, tersangka kasus Jiwasraya. (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus korupsi dana pengelolaan investasi PT Asabri (Persero) dan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang melibatkan Heru Hidayat dan Benny Tjokrosaputro (Bentjok) merupakan puncak gunung es (the tip of the iceberg) dari praktik manipulasi perdagangan saham di Tanah Air.

Heru Hidayat, yang merupakan komisaris utama perusahaan energi PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), harus menghadapi tuntutan pidana hukuman mati yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pengadilan Tindak Pidana Korupsi atas keterlibatannya di kasus korupsi PT Asabri (Persero).


Dalam tuntutan JPU di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Kelas IA Khusus, Senin (6/12) Heru Hidayat disebut secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi bersama mantan Direktur Utama Asabri, Adam Damiri dan Sonny Widjaja yang menyebabkan negara mengalami kerugian senilai Rp 22,7 triliun. Heru juga dituntut untuk membayar uang pengganti sebesar Rp 12,64 triliun.

Menurut penelusuran CNBC Indonesia, tuntutan hukuman mati ini sendiri merupakan yang pertama kali dalam kasus yang terkait dengan transaksi dan manipulasi di pasar modal. Sebelumnya hanya ada satu narapidana lain yang pernah dituntut pidana mati atas kasus korupsi dan itu terjadi di lembaga keuangan.

Lima belas tahun lalu, Dicky Iskandar Dinata pernah dijatuhi tuntutan hukuman mati karena terlibat dalam kasus pembobol Bank BNI melalui transaksi fiktif senilai Rp 1,7 triliun.

Sementara, di pusaran kasur Jiwasraya, Heru dihukum seumur hidup bersama dengan Benny Tjokrosaputro, yang merupakan Komisaris PT Hanson International Tbk.

Asal tahu saja, Bentjok divonis hukuman seumur hidup karena dinyatakan hakim bersalah melakukan korupsi dan memperkaya diri bekerja sama dengan tiga mantan pejabat Jiwasraya dan menyebabkan kerugian negara senilai lebih dari Rp 16 triliun.

Selain itu, Bentjok juga diharuskan mengembalikan uang negara senilai Rp 6,078 triliun.

Sementara, di kasus Jiwasraya, Heru Hidayat telah dituntut pidana penjara seumur hidup dan diharuskan mengembalikan uang pengganti kerugian negara senilai Rp 10,72 triliun.

Untuk Asabri total nilai kerugian negara diprediksi mencapai Rp 23 triliun, sementara Jiwasraya sebesar Rp 16,8 triliun.

Modus Goreng-Menggoreng Saham

Secara sederhana, dalam kasus Jiwasraya, modus yang dilakukan Heru dan komplotannya adalah dengan manipulasi perdagangan saham supaya harganya naik sangat signifikan, tapi secara fundamental perusahaan tersebut tidak memiliki kinerja baik, merugi bahkan tidak layak investasi.

Nah, Heru-Bentjok dkk melakukan aksi manipulasi saham tersebut menggunakan uang yang berasal dari Jiwasraya.

Sama dengan kasus Jiwasraya, pada skandal korupsi Asabri, komplotan tersebut menempatkan dana ke saham-saham gorengan alias tidak likuid, ini dilakukan dengan harga yang telah dimanipulasi sehingga bernilai tinggi. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa kinerja portofolio investasi Asabri terlihat baik.

Kemudian saham-saham saham-saham non-likuid itu sendiri dimanipulasi sedemikian rupa agar terlihat ramai transaksi dengan cara melakukan transaksi semu, yakni saham dijual dan dibeli oleh pihak yang sama dengan nominee (nama alias) yang berbeda agar tidak terdeteksi oleh regulator.

Aturan Undang-Undang

Istilah 'goreng' saham atau saham 'gorengan' lazim dipakai di antara pelaku pasar modal di Indonesia. 'Menggoreng' saham atau melakukan manipulasi pasar berarti memanipulasi harga suatu saham yang sebenarnya tidak likuid (sepi transaksi) sehingga melonjak di atas kewajaran.

Jadi, saham gorengan dapat diartikan sebagai saham perusahaan yang kenaikannya di luar kebiasaan karena pergerakannya sedang direkayasa oleh pelaku pasar dengan tujuan kepentingan tertentu.

Dalam sejumlah literatur soal hukum pasar modal, seperti dalam Yoyo Arifardhani (2020) dan Mas Rahmah (2019), dijelaskan bahwa ada banyak jenis manipulasi pasar atau aksi goreng saham, mulai dari cornering the market, marking the close, painting the tape, pooling trading, hingga wash selling.

Baca di halaman selanjutnya >>>

Menunggu Beleid soal Market Maker
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading