Gokil! Bank Mini Unstopable, Kolesterol Tinggi Ga?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
09 December 2021 09:31
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia/ IHSG, Senin (22/11/2021) (CNBC Indonesia/Muhammad sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham emiten bank mini, dengan modal inti di bawah Rp 6 triliun, kembali menguat pada awal perdagangan hari ini, Kamis (8/12/2021), melanjutkan kecenderungan kenaikan setidaknya sejak 3 hari lalu atau Senin (6/12).

Berikut penguatan saham bank mini, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.09 WIB.

  1. Bank Ganesha (BGTG), saham +4,58%, ke Rp 320/saham


  2. Bank Amar Indonesia (AMAR), +3,89%, ke Rp 374/saham

  3. Bank Victoria International (BVIC), +2,94%, ke Rp 210/saham

  4. Bank Neo Commerce (BBYB), +2,32%, ke Rp 2.650/saham

  5. Bank Jtrust Indonesia (BCIC), +1,68%, ke Rp 242/saham

  6. BPD Banten (BEKS), +1,59%, ke Rp 64/saham

  7. Bank Ina Perdana (BINA), +1,25%, ke Rp 4.050/saham

  8. Bank Aladin Syariah (BANK), +1,21%, ke Rp 2.510/saham

  9. Bank MNC Internasional (BABP), +0,98%, ke Rp 2060/saham

  10. Bank Bisnis Internasional (BBSI), +,93%, ke Rp 4.330/saham

  11. Bank Artha Graha Internasional (INPC), +0,71%, ke Rp 141/saham

  12. Bank Capital Indonesia (BACA), +0,68%, ke Rp 298/saham

  13. Allo Bank Indonesia (BBHI), +0,65%, ke Rp 7.725/saham

  14. Bank QNB Indonesia (BKSW), +0,53%, ke Rp 190/saham

Selama 4 hari pertama dalam minggu ini, investor tampaknya terus memborong saham bank bermodal cekak tersebut, di tengah menghijaunya Indeks Harga Saham Gabungan setidaknya dalam sepekan belakangan (+0,64%), kendati pasar masih terus dibayangi sentimen negatif galur baru Covid-19 Omicron.

Selain itu, emiten bank mini juga saat ini sedang berlomba-lomba memburu tambahan dana untuk memenuhi ketentuan modal minimum yang diwajibkan oleh regulator.

Saham emiten BGTG memimpin kenaikan 4,58% ke Rp 320/saham, melanjutkan kenaikan selama 4 hari terakhir. Dalam sepekan, saham BGTG melejit 60,40% dan dalam sebulan melesat 47,27%.

Kedua, ada saham AMAR tercatat naik 3,89% ke Rp 374/saham, melanjutkan kenaikan sejak Senin. Alhasil, dalam sepekan saham ini terkerek 17,09%, sedangkan dalam sebulan mencuat 27,59%.

Setali tiga uang, saham BVIC juga naik 2,94%, setelah reli dalam 3 hari beruntun. Ini membuat saham BVIC melesat 19,54% dalam seminggu belakangan.

Kabar terbaru, Bank Victoria bakal merealisasikan rencananya untuk melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD/private placement) dengan target dana Rp 121,13 miliar. PT Victoria Investama Tbk (VICO) akan menyerap saham baru yang akan diterbitkan ini.

Dalam keterbukaan informasi yang dirilis perusahaan, dijelaskan bahwa rencana private placement ini akan dilakukan pada Desember 2021.

Hingga saat ini Victoria Investama, yang juga merupakan pemegang saham pengendali Bank Victoria, akan masih belum menetapkan porsi saham yang akan diambil dalam aksi korporasi ini. Saat ini Victoria Investama memiliki saham BVIC sebanyak 43,59%.

Private placement ini dilakukan untuk meningkatkan modal perusahaan untuk memenuhi ketentuan modal inti minimum senilai Rp 2 triliun di akhir tahun nanti.

Hingga akhir September 2021 lalu, nilai modal inti perusahaan baru sebesar Rp 1,77 triliun.

Sebagai informasi, OJK menyebutkan bahwa seluruh pemilik bank mini alias bank dengan modal inti (tier 1) di bawah Rp 2 triliun telah berkomitmen untuk memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan otoritas untuk memenuhi modal minimum Rp 2 triliun hingga akhir tahun ini.

Akhir 2021 ini memang OJK mengharuskan bank untuk memiliki modal minimal Rp 2 triliun jika tak mau turun kasta menjadi BPR alias Bank Perkreditan Rakyat.

Untuk tahun depan, modal minimal mencapai Rp 3 triliun sebagaimana termaktub dalam Peraturan OJK (POJK) Nomor 12/POJK.03/2020 tentang Konsolidasi Bank Umum.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa keuangan (OJK) Heru Kristiyana menjelaskan, proses bank-bank tersebut meningkatkan modal inti terus berjalan.

Heru menambahkan, upaya meningkatkan modal inti tersebut dilakukan oleh bank dengan melakukan konsolidasi atau mencari partner strategis."Semua bank itu sudah mengarah ke sana, saya yakin benar, pasti mereka akan memenuhi aturan kita. Kalau tidak penuhi sanksi berat, turun kelas menjadi BPR," kata Heru Kristiyana, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Kamis (25/11/2021).

Berdasarkan data CNBC Indonesia, setidaknya masih terdapat 13 bank yang saat ini belum memenuhi ketentuan permodalan minimal ini. Untuk menyebut beberapa, ada Bank Ina, Bank Ganesha, Bank Capital Indonesia, Bank MNC Internasional, dan Bank Aladin Syariah.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Habis Manis Sepah Dibuang, Saham Bank Mini Diobral & ARB


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading