Emas sepekan

Duh! Aksi Ambil Untung Investor Bikin Harga Emas Melorot

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
20 November 2021 11:00
Gold bars are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah sempat melesat pada pertengahan pekan ini, harga emas dunia akhirnya melorot seiring adanya aksi ambil untung (profit taking) investor.

Menurut data Refinitiv, dalam sepekan harga emas dunia di pasar spot turun 1,05% ke posisi US$ 1.844,60/troy ons pada perdagangan Jumat (19/11/2021). Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh US$ 1.866,96/troy ons pada Rabu (17/11/2021).

Namun, koreksi pada pekan ini tidak menghapus fakta bahwa harga emas sedang dalam tren meningkat. Dalam sebulan terakhir, harga komoditas ini melesat lebih dari 4,28% secara point-to-point.


Akhir-akhir ini, emas mencoba kembali mendaki ke atas setelah sempat menyentuh US$ 1.726,11/troy ons pada 29 September 2021. Bahkan, emas dunia sempat terbenam di posisi terendah setidaknya dalam setahun terakhir di US$ 1.681,24/troy ons pada 8 Maret 2021.

Ke depan, rasanya tren kenaikan harga emas masih akan berlanjut. Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan harga emas berpotensi naik hingga US$ 1.878/troy ons dan setelah itu masih bisa menanjak lagi.

"Hal ini terkonfirmasi dengan kenaikan yang tinggi pada Rabu lalu. Dalam waktu dekat, target harga emas berada di kisaran US$ 1.887-1.908/troy ons," sebut Wang dalam risetnya.

Sementara titik support harga emas, lanjut Wang, sepertinya ada di US$ 1.859/troy ons. Penembusan di bawah titik ini akan membawa harga terkoreksi, tetapi tidak terlalu jauh, ke US$ 1.849/troy ons.

Kemudian titik resistance diperkirakan berada di US$ 1.885/troy ons. Jika tertembus, maka harga emas akan melesat ke US$ 1.916/troy ons.

Harga Emas Bisa ke US$ 2.000/troy ons Tahun Ini?

Masa depan emas pun cerah. Sebab emas mampu menguat meski dibayangi tapering yang dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed), bahkan ekspektasi kenaikan suku bunga yang agresif di tahun depan.

Tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) dan kenaikan suku bunga The Fed merupakan musuh utama emas. Tapering pernah terjadi di tahun 2013 diikuti dengan ekspektasi kenaikan suku bunga, saat itu harga emas terus menurun hingga tahun 2015.

Namun, kali ini berbeda, inflasi yang tinggi di Amerika Serikat dan banyak negara lainnya membuat emas kembali berkilau. Tanda-tandanya, berdasarkan data dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) spekulator meningkatkan posisi beli bersih (net long) di pasar futures dan option menjadi 146.319 kontrak pada pekan yang berakhir 9 November lalu.

Beberapa analis memprediksi harga emas dunia akan reli di sisa tahun ini, dan berlanjut hingga tahun depan.

Analis dari Societe Generale dalam proyeksi terbarunya memperkirakan emas akan reli hingga tiga bulan pertama tahun depan. Bank yang berbasis di Prancis tersebut kini memprediksi rata-rata harga emas berada di kisaran US$ 1.950/troy ons pada kuartal I-2021.

Sebelumnya, Damian Courvalin, kepala riset energi di Goldman Sachs, yang memberikan pernyataan bullish terhadap emas. Dalam wawancara di Bloomberg TV yang dikutip Kitco, Courvalin menyebutkan, akan terjadi peningkatan demand emas dari bank sentral dan negara emerging market.

Courvalin juga melihat harga emas bisa melewati lagi US$ 2.000/troy ons, yang tentunya bisa mengerek harga emas di Pegadaian.

"Perkiraan dasar kami emas di US$ 2.000/troy ons, setelah itu tercapai peluang untuk naik lebih tinggi ke depannya seharusnya akan terbuka," kata Courvalin sebagaimana dilansir Kitco, Jumat (12/11).

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading