Nasib...Nasib! Harga Emas Sepekan Drop, Cek Ramalan Bulan Ini

Market - adf, CNBC Indonesia
18 September 2021 09:43
FILE PHOTO: An employee shows gold bullions at Degussa shop in Singapore June 16, 2017. REUTERS/Edgar Su/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia melemah dalam sepekan ini, di tengah tekanan dari nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat.

Menurut data Refinitiv, dalam seminggu harga emas dunia di pasar spot turun 1,86% ke posisi US$ 1.754,16/troy ons.



Sumber: Refinitiv

Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan masa depan harga emas masih suram. Menurutnya, harga akan jatuh lebih dalam saat menembus titik support US$ 1.782/troy ons.

"Hanya penembusan di atas US$ 1.807/troy ons yang akan menjadi sinyal tren pelemahan ini akan berbalik. Kalau melihat grafik harian, harga emas bahkan bisa turun hingga ke dekat dengan US$ 1.684/troy ons," tulis Wang dalam risetnya.

Sementara, Shrea Paul, Analis Refinitiv, memperkirakan gerak harga emas hingga akhir bulan ini tidak akan terlalu signifikan. Kemungkinan harga komoditas ini akan bergerak dekat dengan US$ 1.800/troy ons.

"Setelah flat pada Agustus, harga emas turun sedikit di atas 1% pada September hingga sejauh ini. Investor tetap waspada, terus memantau berbagai data ekonomi terbaru dan berbagai selentingan mengenai rencana pengetatan kebijakan moneter (tapering) di Amerika Serikat (AS).

"Ke depan, dengan lonjakan kasus positif corona akibat varian delta akan mengancam pemulihan ekonomi sehingga emas punya peluang untuk dipilih oleh pelaku pasar karena statusnya sebagai aset aman (safe haven). Namun penguatan nilai tukar mata uang dolar AS, aksi ambil untung (profit taking), dan belum jelasnya arah kebijakan moneter AS akan membatasi kenaikan harga emas," papar Paul dalam risetnya.

Untuk bulan ini, Paul memperkirakan titik support harga emas akan berada di US$ 1.717/troy ons. Sedangkan titik resistance akan berada di dekat US$ 1.858/troy ons.

Harga emas dan dolar AS punya hubungan yang berbanding terbalik. Saat dolar AS terapresiasi, harga emas akan terkoreksi.

Ini karena emas adalah komoditas yang dibanderol dengan dolar AS. Kala dolar AS menguat, maka emas jadi mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Permintaan emas turun, harga pun mengikuti.

Pada Jumat (17/9) kemarin, misalnya, tekanan terhadap harga emas datang dari penguatan nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Pada pukul 05:59 WIB, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) naik 0,34%.

Keperkasaan dolar AS ditopang oleh data penjualan ritel yang mengejutkan. Pada Agustus 2021, penjualan ritel di Negeri Adidaya tumbuh 0,7% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Jauh membaik ketimbang Juli 2021 yang minus 1,8% mtm. Juga jauh lebih baik dari konsensus pasar yang dihimpun Reuters dengan perkiraan minus 0,8% mtm.

Pertumbuhan penjualan ritel tersebut memberi gambaran bahwa konsumsi di Negeri Adikuasa tetap kuat. Artinya, tekanan inflasi itu nyata dan stabil.

Tekanan inflasi, yang menunjukkan pemulihan ekonomi yang kuat setelah dihantam pandemi virus corona, membuat pasar kembali meyakini bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) bisa segera melakukan pengetatan kebijakan atau tapering. Ini diawali dengan mengurangi pembelian surat berharga (quantitative easing) yang sekarang bernilai US$ 120 miliar setiap bulannya.

Pengurangan quantitative easing akan membuat pasokan dolar AS tidak lagi berlimpah seperti sekarang. Seperti barang, pasokan yang berkurang akan membuat harga naik.

Penguatan dolar AS tentu akan memakan korban. Bukan hanya mata uang lain, harga emas juga sepertinya bakal tertekan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Emas Masih Terguncang Pekan Ini, Tanda-tanda Apa Ya?


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading