Emas Masih Terguncang Pekan Ini, Tanda-tanda Apa Ya?

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
09 October 2021 11:40
FILE PHOTO: An employee shows gold bullions at Degussa shop in Singapore June 16, 2017. REUTERS/Edgar Su/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas emas dunia melemah selama sepekan, di tengah kemungkinan akan menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) seiring rencana pengurangan pembelian aset (tapering off) oleh bank sentral AS yang akan dimulai pada akhir tahun ini.

Menurut data Refinitiv, harga emas dunia di pasar spot turun 0,21% ke posisi US$ 1.756,67/troy ons dalam sepekan. Setelah sempat melesat ke US$ 1.769,51 pada Senin (4/10), harga emas cenderung melorot pekan ini.


Kemungkinan menguatnya nilai tukar mata uang dolar AS menjadi penekan harga emas. Dua aset ini memang punya hubungan yang bertolak belakang.

Emas adalah aset yang dibanderol dalam dolar AS. Ketika dolar AS menguat, emas jadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Permintaan emas turun, harga pun mengikuti.

Dollar Index (yang mengukur posisi greenback AS di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat tipis 0,03% selama sepekan. Dalam sebulan terakhir, indeks ini melesat 2,21%.

Penguatan dolar AS ditopang oleh rilis data ketenagakerjaan Negeri Paman Sam. ADP mencatat perekonomian AS menciptakan 568.000 lapangan kerja pada September 2021. Naik dibandingkan Agustus 2021 yaitu 340.00 dan menjadi yang tertinggi dalam tiga bulan terakhir.

Data ADP adalah 'pemanasan' jelang rilis resmi dari US Bureau of Labor Statistics besok malam waktu Indonesia. Konsensus yang dihimpun Reuters memperkirakan lapangan kerja non-pertanian (non-farm payroll) tercipta sebanyak 488.000 bulan lalu. Melonjak dibandingkan bulan sebelumnya yang sebanyak 235.000.

Sementara, bulan lalu bos The Fed Jerome Powell telah mengindikasikan bahwa pemangku kebijakan di bank sentral terkuat dunia tersebut sepakat pengurangan pembelian aset bisa dimulai secepatnya pada November, selama angka tenaga kerja September "bagus."

Namun, Kathy Lien, Managing Director di BK Asset Management di New York, berpendapat bahwa The Fed akan tetap mulai melakukan tapering terlepas data pekerjaan tidak sebagus yang diharapkan.

"Saya pikir Federal Reserve (The Fed) menjelaskan dengan sangat jelas bahwa mereka tidak memerlukan laporan pekerjaan blockbuster untuk mulai melakukan tapering pada bulan November," kata Kathy Lien, kepada Reuters, dikutip CNBC Indonesia, Sabtu (9/10/2021).

Kathy melanjutkan, menurutnya, The Fed akan tetap di jalurnya alias bakal tetap melakukan tapering mulai akhir tahun ini.

Asal tahu saja, kebijakan tapering merupakan kebijakan The Fed untuk mengurangi suntikan likuiditasnya ke pasar, dengan mengurangi pembelian obligasi yang dilakukannya selama ini senilai US$120 miliar/bulan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Turun Lagi, Begini Ramalan Mengerikan Harga Emas Dunia


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading