Mau Cari Cuan Saham Pekan Depan? Cermati Sentimen Ini

Market - Putra, CNBC Indonesia
07 November 2021 19:10
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Minggu ini pasar keuangan Tanah Air cukup disibukkan dengan rilis data ekonomi dalam negeri dan pengumuman tapering bank sentral AS The Federal Reserves Bank (The Fed).

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 3,51% year on year (yoy) di kuartal III-2021. Produk Domestik Bruto (PDB) RI tumbuh lebih rendah dari perkiraan pasar di 3,62% yoy.

Adanya implementasi PPKM Darurat sejalan dengan serangan Covid-19 gelombang II di bulan Juli-Agustus 2021 membuat output perekonomian melambat.


Di sisi lain normalisasi kebijakan moneter AS berupa pengurangan laju injeksi likuiditas sebesar US$ 15 miliar per bulan di AS yang dikenal dengan tapering resmi diumumkan dan bakal dilakukan mulai bulan ini.

Tak ada reaksi negatif di pasar terkait kebijakan tersebut karena memang tidak ada kejutan dari tapering. Semuanya sudah diperkirakan dan diantisipasi pelaku pasar.

Di dalam negeri, hanya nilai tukar rupiah yang mengalami pelemahan. Mata uang Garuda terdepresiasi terhadap greenback sebesar 0,56% sepanjang pekan ini dan ditutup di Rp 14.325/US$ pada Jumat (5/11).

Hal tersebut merespons adanya aksi jual asing di pasar keuangan RI. Bank Indonesia (BI) mencatat non-residen di pasar keuangan domestik jual neto di saham sebesar Rp 13,1 triliun. Namun asing beli bersih SBN sebesar Rp 0,42 triliun sehingga posisi net sell asing total mencapai Rp 12,66 triliun.

Kendati asing jual bersih di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menguat 0,44% ke level 6.581,79 di akhir perdagangan minggu ini.

Selaras dengan penguatan harga saham, harga obligasi pemerintah RI berdenominasi rupiah untuk tenor 10 tahun juga naik. Hal ini tercermin dari penurunan imbal hasil (yield) sebesar 0,34% ke level 6,21%.

Menurut Ekonom MNC Sekuritas Tirta Citradi, selain adanya aksi beli asing di pasar SBN, yield yang turun juga merespons pembatalan lelang SBN di sisa akhir tahun ini sehingga menurunkan supply risk instrumen pendapatan tetap tersebut.

Untuk pekan depan ada berbagai sentimen yang patut dicermati oleh investor. Pertama adalah keputusan DPR AS untuk meloloskan RUU Infrastruktur.

Salah satu isi aturan tersebut adalah persyaratan pelaporan pajak mata uang kripto. Hal ini jelas menjadi sentimen negatif untuk pasar token kripto.

Selain itu pelaku pasar juga masih perlu mencermati perkembangan kasus gagal bayar surat utang emiten properti di China.

Otoritas Bursa setempat memutuskan untuk menghentikan perdagangan saham developer properti Kaisa Holdings akibat gagal bayarnya kupon obligasi ke investor lokal.

Berdasarkan catatan Reuters, Kaisa memiliki utang sebesar US$ 3,2 miliar yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan mendatang.

Sementara itu dalam waktu dekat Kaisa memiliki utang senilai US$ 400 juta yang jatuh tempo pada 7 Desember nanti. Ditambah lagi Kaisa juga memiliki kewajiban untuk membayar kupon senilai US$ 59 juta pada pekan depan tepatnya pada 11 November 2021.

Dari pasar komoditas, harga energi seperti minyak, batu bara dan gas alam naik cukup signifikan di akhir perdagangan minggu ini. Penyebabnya masih sama, kecemasan investor akan supply and demand gap di pasar yang belum mereda.

Harga komoditas terutama yang masih tetap tinggi dikhawatirkan bakal memicu inflasi akan tetap berada di atas level sasaran target bank sentral hingga 2022.

Dalam jangka pendek, kenaikan harga komoditas terutama batu bara yang melesat 10% lebih sepekan dapat membuat harga saham-saham emiten tambang batu hitam dalam negeri mendapatkan tenaga untuk menguat.

Namun untuk jangka yang lebih panjang ketakutan akan setan inflasi bisa memicu reli harga emas. Harga emas kembali melesat 1% lebih pekan ini dan menyentuh level US$ 1.816/troy ons.

Adanya antisipasi inflasi tinggi turut direspons pelaku pasar. Berdasarkan data Commodity Futures Trading Commission (CFTC), posisi net long (beli bersih) trader untuk kontrak berjangka COMEX naik signifikan di bulan Oktober mencapai 701 ton dibandingkan dengan 537 ton di akhir September.

Meskipun ketakutan akan inflasi dan bahkan stagflasi masih menghantui pasar, harga saham dan obligasi pemerintah AS masih lanjut naik. Di akhir perdagangan Jumat (5/11), tiga indeks saham Paman Sam kompak menguat lebih dari 0,2%.

Sementara itu yield obligasi pemerintahnya drop 7 bps ke level 1,45%. Sebagai informasi penurunan yield mengindikasikan bahwa harga mengalami kenaikan.

Kenaikan harga aset keuangan AS bisa menjadi katalis positif untuk aset finansial dalam negeri. Namun hal ini cenderung bersifat temporer saja.

Terakhir, faktor yang perlu diperhitungkan investor adalah perkembangan pandemi. Di dalam negeri kondisi pandemi terus membaik. Tren kasus infeksi harian konsisten di bawah angka 1.000 dan di minggu ini saja tambahan kasus baru turun 5,4%.

Namun di negara Eropa, kenaikan kasus infeksi Covid-19 kembali terjadi. Reuters melaporkan bahwa kasus infeksi Covid-19 di Eropa naik 6% secara mingguan di awal November. Di Benua Biru setidaknya ada tambahan 1,8 juta kasus baru. Pada saat yang sama angka kematian juga meningkat 12% secara mingguan.

Secara keseluruhan sentimen penggerak pasar pekan depan cenderung mixed. Bagaimanapun juga investor perlu bersiap diri akan adanya potensi volatilitas harga yang meningkat.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading