Ramai 'Dikeroyok' Asing, 5 Saham Batu Bara Ini Bonyok!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
28 October 2021 16:50
FILE PHOTO: A tug boat pulls a coal barge along the Mahakam River in Samarinda, East Kalimantan province, Indonesia, March 2, 2016. REUTERS/Beawiharta/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles hingga meninggalkan level psikologis 6.600, saham emiten batu bara ramai-ramai dilego investor hingga beberapa di antara menjadi top losers pada perdagangan hari ini, Kamis (28/10/2021).

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG anjlok 1,18% ke posisi 6.524,076, dengan nilai transaksi mencapai Rp 13,49 triliun dan volume perdagangan mencapai 21,40 miliar saham.

Investor asing pasar saham keluar dari Indonesia dengan catatan jual bersih asing mencapai Rp 467,60 miliar di pasar reguler. Sementara, asing mencatatkan jual bersih di pasar negosiasi dan pasar tunai sebesar Rp 37,10 miliar.


Indeks sektor energi (IDXENERGY) menjadi indeks sektoral dengan kinerja paling jeblok hari ini, yakni turun 2,68%. Kemudian, di posisi kedua dan ketiga, ada indeks sektor industri (IDXINDUST) dan indeks barang baku (IDXBASIC), yang masing-masing tergerus 2,22% dan 1,94%.

Tercatat, hanya indeks sektor teknologi (IDXTECHNO) yang berhasil menghijau di antara indeks lainnya, yakni sebesar 0,77%.

Berikut ini 5 saham batu bara dengan penurunan terbesar hari ini (28/10).

  1. Indo Tambangraya Megah (ITMG), saham -6,94%, ke Rp 22.475, jual bersih asing (net sell) Rp 44,00 M

  2. ABM Investama (ABMM), -6,75%, ke Rp 1.450/saham, net sell Rp 2,17 M

  3. United Tractors (UNTR), -6,12%, ke Rp 23.000, net sell Rp 75,29 M

  4. Adaro Energy (ADRO), -5,78%, ke Rp 1.630, net sell Rp 33,00 M

  5. Bumi Resources (BUMI), -5,33%, ke Rp 71/saham, net sell Rp 196,81 juta

Menurut data di atas, kelima saham batu bara tersebut ramai-ramai dilego oleh investor asing di tengah koreksi pada hari ini. Tercatat, beberapa saham batu bara membukukan nilai net sell terbesar di bursa hari ini.

Saham ITMG menjadi yang paling ambles, hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 6,94%. Pelemahan saham ITMG hari ini melanjutkan koreksi 4,17% pada perdagangan kemarin.

Investor asing melakukan jual bersih Rp 44,0 miliar di saham ITMG hari ini, terbesar kelima di bursa.

Dengan ini, dalam sepekan saham ITMG sudah ambles 7,22% dan dalam sebulan masih melesat 15,11%.

Kedua, saham ABMM yang juga menyentuh ARB 6,75%, diwarnai aksi jual oleh asing Rp 2,17 miliar. Dalam sepekan saham ABMM terjungkal 7,35%, sedangkan dalam sebulan melesat 20,83%.

Kemudian, saham Grup Astra UNTR anjlok 6,12% hari ini. Di tengah koreksi ini, asing ramai-ramai menjual saham UNTR senilai Rp 75,29 miliar, terbesar di BEI hari ini.

Saham emiten milik pengusaha Garibaldi 'Boy' Thohir ADRO juga tersungkur dengan jatuh 5,78% ke Rp 1.630/saham. Asing tercatat melakukan jual bersih saham ADRO Rp 33,00 miliar, salah satu dari 10 besar saham dengan net sell tertinggi hari ini.

Terakhir, saham Grup Bakrie BUMI yang ambles 5,33% ke Rp 71/saham. Asing pun melakukan jual bersih saham BUMI sebesar Rp 198,81 juta.

Pelemahan saham-saham batu bara hari ini tampaknya masih berkaitan dengan aksi ambil untung investor, setelah setidaknya dalam sebulan belakangan harga saham-saham batu bara menjulang tinggi. Selain itu, harga kontrak berjangka batu bara pun kembali melorot.

Kemarin, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) tercatat US$ 183,15/ton. Ambles 8,88% dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Setidaknya ada dua faktor yang membuat harga batu bara anjlok. Pertama adalah profit taking.

Maklum, harga komoditas ini sudah melonjak gila-gilaan. Dalam sebulan terakhir, harga batu bara masih membukukan kenaikan 9,08% secara point-to-point. Sejak akhir 2020 (year-to-date), harga meroket 177,45%.

Di samping itu, pemerintah China terus menggencarkan upaya untuk mengendalikan harga batu bara. Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional China (NDRC) sedang mempelajari upaya intervensi yang efektif untuk mengontrol harga.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggerebek lokasi yang ditengarai sebagai tempat penimbunan batu bara ilegal. Menurut NDRC, banyak tempat seperti itu di wilayah-wilayah penghasil batu bara utama seperti Provinsi Shaanxi dan Inner Mongolia.

NDRC bersumpah akan memburu berbagai aktivitas ilegal demi keuntungan pribadi seperti penimbunan. Oleh karena itu, pemerintah akan terus melakukan penutupan terhadap lokasi penyimpanan batu bara ilegal.

China memang sangat merasakan dampak lonjakan harga batu bara. Sekitar 60% pembangkit listrik di Negeri Tirai Bambu menggunakan batu bara sebagai sumber energi primer. Mahalnya harga dan menipisnya pasokan membuat sejumlah wilayah di China terpaksa melakukan pemadaman listrik bergilir.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading