Berikut Emiten Yang Kena Dampak Larangan Ekspor Batu Bara!

Market - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
02 January 2022 20:15
Batu bara, Kalimantan

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) mengeluarkan baru saja mengeluarkan kebijakan yang melarang perusahaan pertambangan batu bara untuk melakukan kegiatan ekspor batu bara dari 1 Januari 2022 sampai 31 Januari 2022.

Kebijakan itu tertuang dalam surat dengan NomorB-1605/MB.05/DJB.B/2021yang diterbitkan pada tanggal 31 Desember 2021.

Hal ini akan jadi sentimen negatif bagi emiten batu bara yang mayoritas penjualannya dari ekspor. Itu karena emiten tersebut harus rela pendapatannya berkurang.


Beberapa emiten yang berpotensi terkena dampak negatif yaitu HRUM, ITMG, ADRO, dan INDY. Kontribusi penjualan ekspor batu-bara dari keempatnya, rata-rata mencapai sepertiga dari total pendapatan.

PT Harum Energy Tbk (HRUM) diperkirakan jadi emiten yang terkena dampak terbesar dari kebijakan tersebut. Pasalnya, ekspor jadi tulang punggung pendapatan perusahaan. Kontribusinya sangat signifikan yaitu mencapai 94,8% dari total keseluruhan pendapatan.

Pada periode Januari-September 2021, pendapatan ekspor HRUM mencapai US$ 194,93 juta. Mayoritas penjualan ekspor HRUM ke Asia Timur seperti China, Korea Selatan, dan Jepang. Dari Asia Timur, HRUM berhasil meraih pendapatan sebesar US$ 180,8 juta.

Pendapatan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) tak luput dari dampak kebijakan larangan ekspor batu bara selama sebulan. Hal itu lantaran kontribusi pendapatan dari ekspor mencapai 77% dari total keseluruhan.

Pada periode Januari-September 2021, pendapatan ITMG dari ekspor mencapai US$ 1,02 miliar. Asia Tenggara, India dan Pakistan jadi kontributor pendapatan dari ekspor terbesar dengan US$ 408,7 juta. Jumlah ini setara dengan 39,9% dari total ekspor ITMG.

Berikutnya adalah PT Adaro Energi Tbk (ADRO) yang mayoritas pendapatan berasal dari ekspor. Kontribusinya mencapai 76% dari total pendapatan.

Pada periode Januari-September 2021, pendapatan ADRO dari ekspor mencapai US$ 1,96 miliar. China jadi kontributor pendapatan dari ekspor terbesar dengan US$ 607 juta. Jumlah ini setara dengan 28% dari total ekspor ADRO.

Sementara itu, PT Indika Energy Tbk (INDY) merasakan goncangan pendapatan dari eskpor melalui anak usahanya Kideco. Kideco sendiri merupakan produsen batu bara terbesar ketiga di Indonesia.

Saat ini INDY memiliki saham Kideco sebesar 91% sejak 2017. Pada periode Januari-September 2021, Kideco berkontribusi sebesar 64,3% terhadap pendapatan INDY.

Dari keseluruhan penjualan batu bara Kideco, 66% dijual ke luar negeri alias ekspor. Negara tujuan terbesar adalah China dengan kontribusi sebesar 32% dari total penjualan Kideco.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Indonesia Setop Ekspor Batu Bara, China Bakal Gelap Gulita?


(ras/ras)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading