China Lockdown dan Jokowi Gelisah, Rupiah pun Melemah

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
27 October 2021 15:33
Pidato Presiden Joko Widodo pada ASEAN Business and Investment Summit, 25 Oktober 2021. (Tangkapan Layar Youtube/BPMI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah akhirnya melemah lagi melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (27/10). Saat pelaku pasar menanti rilis data pertumbuhan ekonomi AS, China yang kembali melakukan karantina wilayah (lockdown) menjadi sentimen negatif bagi rupiah.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan stagnan di Rp 14.150/US$. Sempat menguat 0,07%, Mata Uang Garuda malah berbalik melemah hingga nyaris mencapai Rp 14.200/US$, dan tertahan di zona merah sepanjang hari.

Di penutupan perdagangan, rupiah berada di Rp 14.170/US$ atau melemah 0,14% di pasar spot.


China kembali mengalami kenaikan kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19). Dalam sepekan terakhir, rata-rata pasien positif bertambah 44 orang per hari. Melonjak dibandingkan rerata tujuh hari sebelumnya yaitu 28 orang saban harinya.

Secara nominal, angka penambahan kasus di Negeri Tirai Bambu memang kecil. Namun pemerintah China menganut kebijakan tiada toleransi untuk urusan Covid-19 (zero Covid-19 strategy).

Jadi walau angka kecil, tren kenaikan sudah cukup buat pemerintah memberlakukan lockdown.

Hal tersebut tentunya membuat sentimen pelaku pasar cukup memburuk, mengingat China merupakan negara dengan perekonomaian terbesar kedua di dunia.

Tetapi di sisi lain, lockdown yang dilakukan membuat harga batu bara kembali menanjak.

Sejumlah kota kini tengah memberlakukan lockdown seperti Erenhot, Ejina, Xian, hingga Yinchuan.

Xian adalah ibu kota Provinsi Shaanxi. Sementara Erenhot dan Ejna adalah wilayah di Inner Mongolia. Dua provinsi ini merupakan penghasil batu bara utama di China.

Alhasil, pasokan batu bara China berisiko berkurang, dan harga batu bara mencatat kenaikan 3 hari beruntun dengan total sekitar 10%.

Batu bara merupakan salah satu komoditas ekspor utama Indonesia, Kenaikan harganya membuat neraca perdagangan mencatat surplus, dan pendapatan pajak negara melonjak, sehingga memberikan dampak positif ke rupiah.

Sementara itu dari dalam negeri, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar para kepala daerah berhati-hati dan mewaspadai kenaikan kasus Covid-19 sekecil apapun di daerahnya.

Berdasarkan catatan Jokowi, ada sekitar 105 kabupaten kota di 30 provinsi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia yang kasus positifnya naik.

Hal tersebut dikemukakan Jokowi saat memberikan pengarahan kepada para kepala daerah se-Indonesia secara virtual di Istana Merdeka, Jakarta, seperti dikutip, Selasa (26/10/2021).

"Meskipun kecil merangkak naik, tetap harus diwaspadai. Artinya apa? Kenaikan itu ada meskipun kecil," tegas Jokowi.

"Oleh sebab itu, saya minta Gubernur, Pangdam, Kapolda mengingatkan kepada Bupati, Wali Kota, kepada Kapolres dan juga Dandim, Danrem agar tetap meningkatkan kewaspadaan, memperkuat tracing dan testing, dan juga tes betul-betul kontak eratnya dengan siapa," katanya.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading