Varian Covid Delta Plus Mengintai, Bikin IHSG Kebakaran

Market - Putra, CNBC Indonesia
22 October 2021 09:14
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di awal perdagangan dengan depresiasi 0,19% ke level 6.620,65. Selang 10 menit IHSG lanjut terkoreksi 0,64% ke level 6.589,74 pada perdagangan Jumat (22/10/21) di tengah kabar mutasi virus Covid-19 varian Delta Plus serta aksi profit taking setelah IHSG naik pesat dalam sepekan terakhir.

Nilai transaksi hari ini sebesar Rp 1,4 triliun dan terpantau investor asing membeli bersih Rp 119 miliar di pasar reguler.

Asing melakukan pembelian di saham PT Baank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 31 miliar dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) Rp 25 miliar.


Sedangkan jual bersih dilakukan asing di saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang dilego Rp 5 miliar dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang dijual Rp 3 miliar.

Sentimen negatif datang dari Rusia yang dilaporkan menemukan sebuah mutasi Covid-19 Varian Delta. Mutasi itu dilabeli sebagai Delta Plus atau AY.4.2.

Kantor beritaRIA, melaporkan peneliti senior pengawas konsumen negara Kamil Khafizov bahkan menyebut ada kemungkinan varian AY.4.2 akan menyebar luas. Sebelumnya, varian ini juga diyakini lebih menular dibandingkan virus corona varian Delta biasa, di mana varian ini dikatakan cukup berperan terhadap lonjakan kasus infeksi di Rusia, yang saat ini memang sudah mencapai rekor tertinggi.

Dari dalam negeri terkait pengumuman kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) memperkirakan transaksi berjalan di kuartal III-2021 akan mengalami surplus. Sehingga bisa memperkuat fundamental Indonesia.

Untuk sepanjang 2021, transaksi berjalan diperkirakan masih akan defisit tetapi lebih baik dari proyeksi sebelumnya.

Selain itu, BI juga memutuskan untuk melanjutkan kebijakan akomodatif berupa DP nol persen maksimal untuk penjualan properti dan kendaraan bermotor.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading