Newsletter

Wall Street to The Moon, IHSG Bisa Tahan di Level 6.600?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
15 October 2021 06:10
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level 6.600 dan mendekati level tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Kamis kemarin (14/10/2021). Sementara itu, nilai tukar rupiah juga ditutup menguat di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), bahkan sempat menyentuh level Rp 14.000-an/US$.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG melesat 1,36% ke level 6.626,11 pada perdagangan Kamis (14/10). Posisi IHSG sudah dekat dengan level penutupan tertinggi sepanjang sejarahnya di angka 6.689 yang dicapai IHSG di tahun 2018 silam.


Apresiasi indeks dibarengi dengan penguatan 305 saham. Di saat IHSG terkerek naik sebanyak 225 saham melemah dan 129 saham stagnan. Data perdagangan mencatat transaksi hari ini mencapai Rp 16,76 triliun.

Asing juga masih getol untuk memburu saham-saham dalam negeri. Di pasar reguler asing mencatatkan net buy sebesar Rp 1,44 triliun.

Saham big cap masih menjadi buruan investor asing dengan net buy di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 219,8 miliar dan saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) senilai Rp 184 miliar.

Di sisi lain asing melego saham PT Casa Financial Indonesia Tbk (CASA) senilai Rp 410,6 miliar dan saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) sebesar Rp 36,5 miliar.

Dengan penguatan yang terjadi pada Kamis, IHSG berhasil mencatatkan hat trick karena finish di zona hijau tiga hari beruntun.

IHSG sukses menguat di dua minggu pertama kuartal ke-IV. Di saat yang sama sentimen global juga bisa dibilang kurang terlalu mendukung untuk penguatan yang tinggi.

Risalah rapat bank sentral AS the Fed menunjukkan bahwa para pengambil kebijakan sepakat untuk mulai melakukan tapering di pertengahan November atau pertengahan Desember meskipun mereka tetap bersilang pendapat atas seberapa besar ancaman inflasi yang tinggi dan seberapa cepat mereka mungkin perlu menaikkan suku bunga.

Risalah pertemuan tersebut menunjukkan, para anggota merasa The Fed telah hampir mencapai tujuan ekonominya dan segera dapat mulai menormalkan kebijakan dengan mengurangi laju pembelian aset bulanannya.

Sentimen dari luar negeri lain yang masih akan terus dipantau oleh investor adalah terkait kasus likuiditas perusahaan properti China, Evergrande, dan krisis energi yang melanda sejumlah negara.

Sementara, dolar AS yang sedang terpuruk membuat rupiah mampu leluasa menguat pada perdagangan Kamis kemarin.

Melansir data Refinitiv, selepas tengah hari, sempat melesat hingga 0,91% ke Rp 14.085/US$. Level terkuat sejak 25 Februari lalu.

Adapun pada penutupan perdagangan posisi rupiah terpangkas ke Rp 14.115/US$ menguat 0,7% di pasar spot.

Dolar AS kembali terpuruk pada Kamis . Hingga Kamis sore indeks dolar AS melemah 0,2% setelah kemarin jeblok 0,46%. Rupiah pun mulus di zona hijau, tanpa pernah mencicipi zona merah.

Jebloknya dolar AS terjadi meski inflasi berada di level tertinggi dalam 13 tahun terakhir.

Pemerintah AS kemarin melaporkan inflasi yang dilihat dari consumer price index (CPI) di bulan September dilaporkan tumbuh 0,4% dari bulan sebelumnya, lebih tinggi dari hasil polling Reuters terhadap para ekonom sebesar 0,3%. Sementara itu dibandingkan September 2020, inflasi melesat 5,4%, lebih tinggi dari pertumbuhan bulan Agustus 5,3% year-on-year (YoY).

Sementara itu inflasi inti yang tidak memasukkan sektor makanan dan energi, tumbuh 0,2% month-on-month (MoM), dan 4% YoY.

Inflasi merupakan salah satu acuan utama bank sentral AS (The Fed) dalam menerapkan kebijakan moneter, untuk saat ini adalah kapan waktunya tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) dan kenaikan suku bunga.

The Fed sebenarnya lebih melihat inflasi berdasarkan personal consumption expenditure (PCE) yang akan dirilis akhir bulan ini. Tetapi, CPI yang masih menanjak bisa memberikan gambaran jika PCE juga masih akan naik lagi.

Apalagi, inflasi berdasarkan PCE saat ini sudah berada di level tertinggi dalam 30 tahun terakhir.

Tingginya inflasi di AS kini dikatakan akan bertahan dalam waktu yang cukup lama, tidak lagi sementara seperti kata The Fed. Sehingga pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga di bulan September tahun depan, lebih cepat dari perkiraan sebelumnya bulan Desember 2022.

Kinerja Perbankan Ciamik, Bursa Saham AS Kompak Menghijau
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading