Analisis

Vietnam Lockdown! Emiten Indonesia Bisa Dapat Berkah Apa?

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
01 October 2021 16:15
Pan Brothers/Dok SPN.or.id

Dampak krisis rantai pasok di Vietnam tersebut memang telah menjalar menjadi rezeki ke Indonesia. Industri-industri dalam negeri dapat kelimpahan order ekspor dari yang ditinggalkan Vietnam.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta mengakui ada limpahan order yang datang akibat berhentinya produksi di negara tersebut akibat pandemi.

Meski kelimpahan pesanan, bukan berarti industri tekstil Indonesia tidak memperoleh tantangan dan ancaman yang datang baik dari dalam maupun luar negeri.


"Ekspor sebulan bisa sampai US$ 2 miliar, potensi limpahannya sebesar itu. Yang jadi masalah seberapa mampu kita nampung, karena kita punya ketergantungan bahan baku sama impor," katanya kepada CNBC Indonesia, Kamis (30/9/21).

Persoalan bahan baku impor itu menjadi kendala ketika garmen di Indonesia siap memproduksi lebih banyak produk di sektor hilir, mengingat setengahnya berasal dari China, dikatakan Gita. Sehingga, kemampuan produksi tidak bisa mengimbangi permintaan yang datang.

Persoalan energi di China membawa dua sisi bagi Indonesia, baik dari sisi kesulitan mengimpor bahan baku, hingga kelimpahan order yang tidak jadi ke negeri Tirai Bambu tersebut.

"Industri hulu di negara lain akan geliat dengan China ada kasus seperti ini, tapi dalam seminggu dua minggu masih belum terasa, karena stok China masih banyak, tapi begitu stok abis, demand di banyak negara akan naik," sebutnya.

Selain itu kenaikan produksi juga tidak bisa serta merta meningkat secara drastis mengingat terdapat hambatan lain seperti batasan kemampuan mesin dan juga jumlah pekerja, meskipun demikian potensi masih cukup besar bagi industri tekstil untuk tumbuh.

"Kemampuan ekspor garmen kita rata-rata sekitar US$ 500 juta per bulan, mungkin bisa naik per bulan 10%-15% sudah bagus, naiknya kita 15% tapi dilihat potensinya masih sangat besar. Meningkat 30% pun memungkinkan," jelasnya.

Pemilihan Vietnam sebagai pemasok salah satunya dikarenakan biaya produksi yang lebih murah dari Indonesia, jika dalam krisis ini Indonesia mampu memanfaatkan limpahan pesanan yang terjadi, pemerintah dan industri tentu tidak boleh hanya bermain pasif.

Pemerintah dan pemangku kepentingan industri tekstil perlu memastikan peningkatan dari sisi komponenskilldan produktivitas guna menambah keunggulan kompetitif dan sehingga mendorong tingkat manufaktur Indonesia memiliki daya saing yang jauh lebih baik.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
HALAMAN :
1 2
Artikel Selanjutnya

Tekstil Diguncang 'Prahara', Begini Kinerja SRIL hingga MYTX

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading