Menanti Raksasa Teknologi dari RI, Siapa yang Jadi Penguasa?

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
28 September 2021 15:05
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar ekonomi digital dan teknologi di Asia Tenggara masih terus berkembang. Pandemi Covid-19 bahkan turut mendorong percepatan digitalisasi dengan sekitar 80% populasi di kawasan Asia Tenggara diprediksi akan beralih memanfaatkan teknologi digital pada akhir 2021.

Indonesia merupakan pasar terbesar baik dari segi potensi ekonomi maupun jumlah perusahaan rintisan (startup) yang juga paling banyak.

Ukuran pasar yang terus berkembang menjadikan perusahaan rintisan teknologi di Indonesia berpeluang besar tumbuh secara organik, sementara itu perusahaan teknologi raksasa pun masih dapat tumbuh secara anorganik dengan melakukan merger maupun akuisisi untuk melengkapi ekosistem bisnis mereka. Keberadaan konglomerasi baru ini bisa menjadi pesaing bagi emiten kakap di pasar modal tanah air.


Potensi ekonomi yang luar biasa ini menjadikan sejumlah konglomerasi besar tanah air gencar melakukan ekspansi ke sektor teknologi maupun ekosistem digital. Sektor yang sedang moncer ini ditengarai memiliki prospek yang cukup baik di masa mendatang.

Di Bursa Efek Indonesia, indeks teknologi atau IDXTECHNO yang membawahi emiten di sektor teknologi yang belum lama ini diluncurkan melaju cukup kencang. Sejak awal tahun, indeks teknologi BEI sudah menguat 418% kala Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya naik tipis 0,25%.

Saham TeknologiFoto: Perbandingan pertumbuhan sejak awal tahun indeks sektor teknologi dengan IHSG dan sektor lainnya (Sumber: Google Finance)

CNBC Indonesia mencatat, terdapat sejumlah konglomerasi yang melakukan ekspansi ke bisnis digital antara lain Salim Grup melalui Anthoni Salim yang belakangan memborong saham emiten data center yang baru IPO di awal tahun ini. Selain itu Grup Djarum dan Emtek juga melakukan ekspansi besar-besar ke sektor teknologi.

Selain pembelian saham perusahaan teknologi yang sudah melantai di bursa, konglomerasi bisnis besar di Indonesia banyak yang lebih fokus untuk melakukan investasi dan menyuntik modal di perusahaan rintisan. Salah satu contohnya adalah Grup Lippo yang melalui PT Multipolar TBK (MLPL) menyuntik modal di perusahaan startup edukasi Ruangguru dengan nilai investasi mencapai Rp 700 miliar.

Aksi ini memperluas portofolio Grup Lippo yang sebelumnya sudah memiliki OVO, Mbiz, Linknet, Matahari, Hypermart, Bank Nobu, dan beberapa lainnya.

Prospek yang cerah ini tentu juga didorong oleh animo masyarakat yang tidak ingin ketinggalan di pasar new economy. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi menyebut bahwa transaksi ekonomi dan keuangan digital yang terus meningkat merupakan salah satu peluang untuk mendorong perekonomian Indonesia agar lebih baik di tengah pandemi Covid-19.

Menurut Rosmaya kemajuan teknologi ini dapat menjadi tumpuan untuk melakukan lompatan ke depan khususnya dalam sumber pertumbuhan baru yang mengedepankan kreativitas dan inovasi.



Calon Konglomerasi Raksasa di new economy
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading