Saham Teknologi Global dan Lokal Terus Longsor.. Gegara Ini?

Market - Putra, CNBC Indonesia
28 April 2022 07:25
Layar monitor menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan saham. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun 2022 menjadi masa kelam bagi saham-saham teknologi terutama perusahaan startup global yang belum lama meraih pendanaan lewat penawaran umum perdana saham (IPO).

Nilai kapitalisasi perusahaan teknologi kenamaan dunia yang merupakan pendatang baru di dunia pasar modal justru terus tergerus. Median return dari 11 saham teknologi global di sepanjang tahun ini minus 60%.

Padahal tahun 2022 baru berjalan satu kuartal lebih satu bulan. Namun kerugian dari investor yang membeli 11 saham startup tersebut secara kumulatif ditaksir mencapai US$ 185 miliar atau setara dengan Rp 2.682 triliun.


Rivian sebagai startup pembuat kendaraan listrik dengan valuasi terbesar (US$ 66,5 miliar saat IPO) justru yang paling mengenaskan. Di sepanjang tahun 2022, harga saham Rivian telah anjlok 69%.

Kemudian di posisi kedua ada Didi yang merupakan startup asal China yang nilai kapitalisasi pasarnya anjlok 64% sepanjang tahun.

Selanjutnya ada saham Grab Holdings yang merupakan perusahaan internet asal Singapura dengan bisnis yang mirip dengan startup decacorn Tanah Air yakni GoTo yang sahamnya ambles 62%.

Harga saham SEA Group sebagai induk e-commerce Shopee juga ambruk 61% sepanjang tahun ini.

Namun saham SEA sempat merasakan kenaikan yang fantastis karena listing sudah sejak lama dan sejak IPO masih mencatatkan kenaikan sebesar 434%, jauh berbeda dengan startup lain yang sudah boncos 66% sejak debutnya melantai di bursa global.

Startup

Tanggal IPO

Skema IPO

Proceeds IPO (US$ Miliar)

Performance since IPO

YTD Performance

Rivian

10-Nov-21

SPAC

11.90

-68%

-69%

Coupang

11-Mar-21

Direct

4.60

-73%

-54%

Grab

02-Dec-21

SPAC

4.50

-77%

-62%

Didi

30-Jun-21

Direct

4.40

-87%

-64%

Nubank

09-Dec-21

Direct

2.60

-37%

-31%

Aurora

04-Nov-21

SPAC

2.50

-55%

-60%

SoFi

01-Jun-21

SPAC

2.40

-41%

-61%

ironSource

29-Jun-21

Direct

2.30

-66%

-48%

Bumble

11-Feb-21

Direct

2.15

-66%

-30%

SEA Group

20-Oct-21

Direct

0.88

434%

-61%

BUKA

6-Aug-21

Direct

1,51

-56%

-13%

GOTO

11-Apr-22

Direct

0.95

-14%

-14%

Di dalam negeri, kasus saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) juga dapat menjadi pelajaran. Meskipun secara year to date (ytd) nilai kapitalisasi pasar saham BUKA hanya melemah 13%, tetapi sejak listing harga saham BUKA sudah anjlok 56%.

Untuk GOTO yang belum genap sebulan melantai di bursa saham domestik, harga sahamnya sudah melemah 14%.

Seperti yang diketahui bersama, saham-saham teknologi memang memiliki pertumbuhan yang pesat. Namun 'bensin' yang digunakan untuk mendorong pertumbuhan tersebut adalah dengan cara bakar uang yang dihimpun dari berbagai seri pendanaan.

Saking besarnya nilai bakar uang yang dilakukan, kinerja keuangan para startup ini juga masih merugi dan kerugiannya pun jumbo.

Ekonom MNC Sekuritas Tirta Citradi membeberkan sejumlah alasan mengapa saham-saham startup teknologi ini banyak yang ambles secara signifikan. Menurut Tirta ini ada kaitannya dengan kebijakan moneter dan arah suku bunga.

"Saham tech memang cenderung lebih sensitif terhadap suku bunga. Ketika suku bunga naik maka cost of borrowing juga naik. Investor cenderung akan memilih saham yang memiliki arus kas lancar dan positif dan memendekkan horizon investasi mereka sehingga menghindari atau bahkan melego saham startup," kata Tirta saat dihubungi CNBC Indonesia.

Lebih lanjut Tirta menuturkan bahwa karakteristik saham tech layaknya aset berdurasi panjang.

"Saham tech kan masih rugi, untuk balik modal kan butuh waktu, sementara ongkos untuk investasi naik jadi ada mismatch appetite di sana. Karena kalau biaya yang digunakan untuk investasi lebih mahal maka imbal hasil yang ditawarkan juga harus lebih tinggi. Sedangkan saham tech valuasinya sudah cenderung premium dan banyak yang belum bisa membuktikan model bisnisnya dari sisi profitabilitas, jadi wajar kalau kurang dilirik di tengah isu pengetatan moneter seperti sekarang ini," pungkas Tirta.

Inflasi yang mulai dirasa mencekik di AS memang membuat bank sentralnya the Fed akan lebih agresif dalam menaikkan suku bunga acuan.

Yield obligasi pemerintah AS 10 tahun juga sudah naik mendekati 3% di level tertingginya 3 tahun terakhir cukup menjadi pertanda bahwa sekarang saatnya untuk kembali ke saham-saham value stock yang lebih tahan banting terhadap berbagai guncangan ekonomi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Omicron & Tapering Off, IHSG Melemah di Awal Perdagangan


(trp/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading