Analisis

Utang Amerika Tembus 125% dari PDB, kok Gak Ribut Kayak RI?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
22 September 2021 15:30
Joe Biden. (AP/Peter Klaunzer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Utang Amerika Serikat (AS) 'menggunung', tetapi Menteri Keuangan AS Janet Yellen masih mau menambah lagi. Meski demikian, di sana tidak ada "ribut-ribut" masalah utang seperti di Indonesia. Kok bisa?

Kementerian Keuangan Indonesia mencatat posisi utang pemerintah per akhir Juli sebesar Rp 6.570,17 triliun dengan rasio lebih dari 40% atau tepatnya 40,51% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Rasio tersebut sebenarnya masih di bawah rasio maksimal utang pemerintah sebesar 60% dari PDB berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, tetapi banyak yang mengatakan sudah berada di lampu kuning, alias berhati-hati.


Sementara itu berdasarkan US Debt Clock yang melihat secara real time, utang Amerika Serikat saat ini senilai US$ 28,788 triliun atau jika dirupiahkan menjadi sekitar Rp 410.299 triliun (kurs 14.250/US$). Nilai utang tersebut sekitar 60 kali lipat dari utang Indonesia.

Jika dilihat rasionya, utang Paman Sam saat ini sebesar 125% dari PDB. Artinya, nilai utang sudah lebih besar dari output perekonomian. Rasio tersebut sebenarnya sudah membaik, pada kuartal II-2020 bahkan sempat hingga 136% dari PDB.

Dengan rasio sebesar itu, Yellen masih meminta Kongres AS untuk menaikkan batas utang, sebab jika tidak dinaikkan maka pemerintahan terancam mengalami shutdown atau penutupan sementara karena kehabisan anggaran.

Yellen juga mengatakan Amerika berisiko mengalami gagal bayar di Oktober mendatang, serta krisis finansial bersejarah.

"Jika batas utang tidak dinaikkan, suatu saat di bulan Oktober, sulit untuk memprediksi kapan waktu tepatnya, saldo kas di Departemen Keuangan tidak akan mencukupi, dan pemerintah federal tidak akan mampu membayar tagihannya," tambah Yellen, dilansir CNBC International.

Meski dengan jumlah utang menggunung, ribut-ribut di AS cenderung minim, bahkan saat Yellen meminta menaikkan batas utang.

Partai Republik yang saat ini menolak kenaikan tersebut beralasan bukan karena utang yang tinggi. Senator partai Republik dari Lousiana, Bill Casssidy mengatakan Partai Demokrat ingin menaikkan batas utang tersebut untuk membiayai rencana proyek triliunan dolar AS yang disebut "Democrat wish list".

Jika dilihat, meski utang Amerika Serikat begitu besar, tetapi mereka punya kemampuan untuk membayar. Amerika Serikat tidak pernah gagal bayar (default).

Pendapat negara yang besar membuat Paman Sam selalu bisa melunasi utang-utangnya.

Di tahun 2020, pendapatan negara yang dipimpin Presiden Joe Biden ini sebesar US$ 3,42 triliun. Selain itu, selama satu dekade terakhir AS diuntungkan dengan beban bunga utang yang rendah. Sebab, pasca krisis finansial 2008, bank sentral AS (The Fed) menerapkan suku bunga acuan yang sangat rendah.

"Rasio utang terhadap PDB sebesar 100% bukan seperti yang kita pikirkan. Pasar tidak akan khawatir, sebab tingkat bunganya rendah," kata Joe LaVorgna, mantan kepala ekonom di perusahaan aset manajemen Natixis.

Di tahun 2020, total utang pemerintah AS mencapai US$ 21 triliun, meroket lebih 130% dari tahun 2010 yakni US$ 9 triliun. Tetapi beban bunga utang yang harus dibayarkan AS pada tahun lalu sebesar US$ 523 miliar, naik 25% dari 2020 sebesar US$ 414 miliar.

Bisa dilihat, meski utang AS naik 130%, tetapi beban bunga utang hanya naik 26% dalam satu dekade terakhir. Rasio beban utang terhadap penerimaan di AS pada tahun 2020 juga sebesar 12,11%.

Sementara dibandingkan dengan PDB dan total belanja APBN 2020, pembayaran beban bunga Amerika sebesar 1,6% PDB, dan 5,3% dari total belanja APBN Amerika Serikat, dikutip dari Congressional Budget Office.

Sementara di Indonesia, meski rasio utang terhadap PDB sebesar 40% jauh di bawah AS yang mencapai 125%, tetapi rasio-rasio lainnya jauh lebih tinggi.

Rasio beban bunga terhadap penerimaan negara misalnya, sekitar 19%, jauh lebih tinggi dari standar Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar 7% - 10%. Bunga utang yang harus dibayarkan di tahun 2020 mencapai Rp 314 triliun atau sekitar 17% dari total belanja APBN.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading