Internasional

Gokil! Gunung Utang AS Rp 400.000 T, Awas Gagal Bayar Oktober

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
22 September 2021 07:00
President Joe Biden speaks about the end of the war in Afghanistan from the State Dining Room of the White House, Tuesday, Aug. 31, 2021, in Washington. (AP Photo/Evan Vucci)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Joe Biden membuat geger pemberitaan global dengan rencana menaikkan batas utang Negeri Adidaya ini.

Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, pun meminta Kongres AS untuk menaikkan batas utang yang saat ini sebesar US$ 28,4 triliun atau sekitar Rp 404.000 triliun (kurs Rp 14.250/US$).


Yellen mengatakan, jika batas tersebut tidak dinaikkan maka pemerintahan AS akan mengalami shutdown atau penutupan sementara akibat kehabisan anggaran pada Oktober mendatang.

Tidak hanya shutdown, Negara Adikuasa dikatakan juga terancam mengalami gagal bayar (default) hingga krisis finansial.

"Jika batas utang tidak dinaikkan, suatu saat di bulan Oktober, sulit untuk memprediksi kapan waktu tepatnya, saldo kas di Departemen Keuangan tidak akan mencukupi, dan pemerintah federal tidak akan mampu membayar tagihannya," tambah Yellen, dilansir CNBC International.

"Amerika Serikat tidak pernah mengalami default, tidak sekalipun. Jika terjadi default maka akan memicu krisis finansial yang bersejarah. Default bisa memicu kenaikan suku tajam suku bunga, penurunan tajam bursa saham, dan gejolak finansial lainnya," tegas Yellen.

Lantas berapa utang AS saat ini?

Berdasarkan data data dari Statista, per Agustus lalu, nilai utang AS sebesar US$ 28,427 triliun, nyaris sama dengan bulan sebelumnya, tetapi turun cukup jauh dari bulan Juni US$ 28,529 triliun.

Dari total tersebut, lebih dari US$ 7 triliun atau setara dengan Rp 99.750 triliun AS berutang kepada asing, salah satu yang terbesar yakni China, yang kerap dilawan berseteru.

Berdasarkan data dari Departemen Keuangan AS, China memiliki surat utang atau obligasi (Treasury) senilai US$ 1,07 triliun atau setara Rp 15.247 triliun pada akhir Juli lalu. China menjadi negara kreditor terbesar kedua Amerika setelah Jepang.

US Household Debt Balance, CNBCFoto: US Household Debt Balance, CNBC
US Household Debt Balance, CNBC

Di urutan pertama ada Jepang yang memiliki Treasury AS (obligasi AS) senilai US$ 1,3 triliun atau Rp 18.525 triliun.

Jepang menjadi pemegang Treasury AS terbesar sejak pertengahan 2019 lalu mengalahkan China. Pasca perang dagang antara Amerika Serikat dan China berkobar, pemerintah Tiongkok cenderung melepas kepemilikan Treasury, sementara Jepang terus bertambah.

Kemudian melengkapi lima besar kreditur AS ada Inggris, Irlandia, dan Swiss.

Pemegang Surat Utang AS, data Departemen Keuangan AS, Juli 2021Foto: Pemegang Surat Utang AS, data Departemen Keuangan AS, Juli 2021
Pemegang Surat Utang AS, data Departemen Keuangan AS, Juli 2021

Hanya saja, Kendati AS terancam mengalami shutdown hingga risiko default, tetapi Partai Republik menolak mendukung kenaikan batas utang tersebut.

Senator partai Republik dari Lousiana, Bill Casssidy mengatakan Partai Demokrat ingin menaikkan batas utang tersebut untuk membiayai rencana proyek triliunan dolar AS yang disebut "Democrat wish list".

Shutdown juga pernah terjadi berkali-kali. Sebelum isu kenaikan plafon utang terjadi di era Presiden AS ke-45, Donald Trump. Saat itu pemerintahan Amerika Serikat mengalami shutdown selama 35 hari pada periode Desember 2018 hingga Januari 2019.

Shutdown tersebut menjadi yang terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat. Sebanyak 300 ribu pegawai pemerintah dirumahkan. Selain itu, PDB juga terpangkas.

Pada kuartal IV-2018, PDB terpangkas sebesar 0,1%, sementara di kuartal I-2019 sebesar 0,2%, berdasarkan analisis Congressional Budget Office, sebagaimana dikutip CNBC International.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading