Tumben nih Saham Properti 'Dibanting' Pagi-pagi, Ada Apa?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
20 September 2021 09:56
Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau sebanyak 619.868 unit, sementara rumah non-MBR yang terbangun sebesar 30 persen, sebanyak 145.252 unit.
Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, sekitar 20 persen merupakan rumah yang dibangun oleh Kementerian PUPR berupa rusunawa, rumah khusus, rumah swadaya maupun bantuan stimulan prasarana dan utilitas (PSU), 30 persen lainnya dibangun oleh pengembang perumahan subsidi yang mendapatkan fasilitas KPR FLPP, subsisdi selisih bunga dan bantuan uang muka. Selebihnya dipenuhi melalui pembangunan rumah non subsidi oleh pengembang.
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengungkapkan, rumah tapak masih digemari kelas menengah ke bawah.
Kontribusi serapan properti oleh masyarakat menengah ke bawah terhadap total penjualan properti mencapai 70%.
Serapan sebesar 200.000 unit ini, akan terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 250.000 unit.

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas saham-saham properti ambles ke zona merah pada awal perdagangan pagi ini, Senin (20/9/2021), melanjutkan pelemahan setidaknya pada Jumat minggu lalu.

Berikut pergerakan saham properti, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.35 WIB.

  1. DMS Propertindo (KOTA), saham -3,57%, ke Rp 216/saham


  2. Sentul City (BKSL), -2,94%, ke Rp 66/saham

  3. Lippo Cikarang (LPCK), -2,65%, ke Rp 920/saham

  4. Bumi Serpong Damai -2,04%%, ke Rp 960/saham

  5. Surya Semesta Internusa (SSIA), -1,92%, ke Rp 510/saham

  6. Alam Sutera Realty (ASRI), -1,70%, ke Rp 173/saham

  7. PP Properti (PPRO), -1,33%, ke Rp 74/saham

  8. Agung Podomoro Land (APLN), -0,76%, ke Rp 131/saham

  9. Intiland Development (DILD), -0,59%, ke Rp 168/saham

  10. Pakuwon Jati (PWON), -0,42%, ke Rp 476/saham

Saham KOTA menjadi yang paling ambles, yakni 3,57% ke Rp 216/saham, usai ambles hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 6,67% pada Jumat pekan lalu. Dalam sepekan, saham ini naik 9,71%, sementara dalam sebulan terkerek 5,61%.

Kedua, saham BKSL merosot 2,94% ke Rp 66/saham, setelah stagnan pada perdagangan Jumat. Dalam sepekan saham BKSL turun 4,35%, sementara dalam sebulan melesat 20,00%.

Mengenai rapor keuangan, BKSL berhasil membalikkan kinerja dari sebelumnya rugi Rp 234,49 miliar menjadi laba Rp 294,46 miliar pada semester pertama tahun ini.

Mengacu laporan keuangan yang dipublikasikan, pendapatan BKSL naik 1.420 persen menjadi Rp 2,42 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp 159,30 miliar.

Di bawah saham BKSL, ada saham Grup Lippo LPCK yang tergerus 2,65% ke Rp 920/saham. Dalam sepekan saham ini naik 2,81%, sementara dalam sebulan menanjak 3,98%.

Keempat, saham Grup Sinar Mas BSDE yang merosot 2,04% ke Rp 960/saham. Dengan ini, dalam seminggu saham BSDE turun 1,03%, sedangkan dalam sebulan naik 1,05%.

Sebelumnya, BSDE mencetak laba bersih sebesar Rp 680 miliar pada semester pertama tahun ini, berkebalikan dari periode yang sama di tahun sebelumnya yang merugi Rp 192,68 miliar.

Sampai dengan 30 Juni 2021, emiten properti Grup Sinarmas ini mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 39% menjadi senilai Rp 3,25 triliun dari sebelumnya Rp2,33 triliun.

Kendati saham-saham properti sedang lesu, terdapat sejumlah sentimen positif bagi sektor properti akhir-akhir ini, mulai dari tanda mulai membaiknya kinerja emiten, semakin gencarnya vaksinasi masyarakat, bunga pinjaman yang ringan, dan pengembangan bidang infrastruktur yang terus berlanjut.

Tidak hanya itu, pemerintah juga memperpanjang stimulus ekonomi dari pemerintah terhadap sektor properti seperti DP 0% (down payment). Diskon PPN 100% untuk sektor properti ini diberikan pemerintah untuk pembelian rumah tapak atau rusun baru yang sudah tersedia dan bukan inden dengan harga jual maksimal Rp 2 miliar. Serta diskon 50% untuk pembelian rumah tapak atau rusun baru dengan harga jual Rp 2 miliar - Rp 5 miliar.

Dalam riset terbarunya lembaga pemeringkat global Moody's menjelaskan, permintaan untuk properti residensial (tempat tinggal) Indonesia akan meningkat, yang pada gilirannya akan meningkatkan penjualan para pengembang di tahun 2021 dan metrik kredit utama lain--meskipun akan tetap lebih lemah dan berada di bawah level pra-pandemi.

"Laju pertumbuhan pinjaman perumahan telah meningkat sejak awal 2021, didorong oleh pemulihan permintaan untuk properti residensial dan peningkatan pinjaman oleh bank," kata Jacintha Poh, Wakil Presiden dan Senior Credit Officer Moody.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading