Jual Aset IKEA Sentul City Rp 280 M, HERO Dicecar Bursa

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
16 September 2021 19:28
IKEA

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten pengelola supermarket, PT Hero Supermarket Tbk (HERO), memberikan tanggapan atas pertanyaan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait penjualan portofolio aset properti toko perdagangan IKEA, yaitu IKEA Sentul City.

Penjualan itu dilakukan kepada pihak terafiliasinya, PT Archipelago Property Development (APD), dengan total nilai transaksi keseluruhan mencapai Rp 280 miliar.

APD yang didirikan tahun 2016 ini sahamnya dipegang oleh Mulgrave Corporation B.V. (25%) dan The Dairy Farm Company Ltd. (75%), yang mana juga merupakan pemegang saham mayoritas dan pengendali HERO.


Selain itu dua anggota direksi HERO juga merangkap sebagai direktur dan komisaris pada APD.

Direktur HERO, Hadrianus Wahyu Trikusumo melalui keterangan yang terbit di keterbukaan informasi BEI mengatakan bahwa alasan dilakukannya transaksi afiliasi dengan APD dan bukan dengan pihak non-afiliasi salah satunya karena setelah penjualan selesai, perseroan akan menjadi penyewa tanah dan bangunan di Sentul City melalui PT Rumah Mebel Nusantara sebagai anak perusahaan perseroan.

"Perseroan memiliki sejumlah aset berupa properti pada neracanya, perseroan menjajaki penjualan properti kepada semua pihak, termasuk pihak terafiliasi. Hasil dari penjualan aset akan memberi Perusahaan fleksibilitas keuangan tambahan," tulis Hadrianus, dikutip CNBC Indonesia Kamis (16/9).

Selain itu Hadrianus juga menjabarkan bahwa penjualan ini dilakukan karena "masih ada ketidakpastian yang signifikan seputar tingkat dan durasi Covid-19 dan dampaknya terhadap operasi perseroan dan kinerja keuangan di masa depan," katanya.

Pihak manajemen juga mengatakan transaksi tersebut memberikan kepastian bagi perseroan dan memungkinkan monetisasi aset secara tepat waktu untuk memperkuat posisi neracanya dan memberikan fleksibilitas keuangan tambahan.

Pihak HERO juga mengatakan bahwa alasan lain tidak melakukan transaksi dengan pihak non-afiliasi adalah karena properti merupakan aset yang sangat tidak likuid dan ketidakpastian yang disebabkan oleh Covid-19 membuat penjualan properti sulit diselesaikan tepat waktu.

Pihak manajemen juga menyampaikan ketidakpastian terkait Covid-19 serta durasi dan dampaknya menyebabkan transaksi non-afiliasi mungkin memerlukan waktu tambahan untuk dijalankan, yang bisa berdampak buruk pada fleksibilitas dan posisi keuangan perseroan.

Terkait pertanyaan bursa mengapa ini bukan termasuk transaksi material, Hadrianus mengatakan bahwa transaksi tersebut sudah tepat mengacu pada peraturan OJK No. 17/POJK.04/2020 di mana suatu transaksi dikategorikan sebagai transaksi material apabila nilai transaksi sama dengan atau lebih dari 20% ekuitas perusahaan terbuka.

"Jumlah ekuitas perseroan berdasarkan laporan keuangan yang berakhir pada 31 Desember 2020 yang telah diaudit oleh KAP Tanudireja, Wibisana, Rintis & Rekan adalah Rp 1.854.688.000.000. Nilai transaksi adalah sebesar Rp 280 miliar, atau sebesar 15,1% dari nilai ekuitas perseroan. Sehingga, nilai transaksi tidak mencapai 20% dari ekuitas perseroan, dan oleh karenanya transaksibukan merupakan transaksi material," ungkapnya.

Terkait dampak transaksi terhadap kinerja keuangan perseroan, Hadrianus menyebutkan kas yang diperoleh dari pelepasan aset dapat digunakan untuk mengurangi fasilitas pinjaman dan mendukung kebutuhan modal kerja dan kas operasional, yang diharapkan dapat memperkuat posisi keuangan perseroan dan mengurangi utang bersih.

"Transaksi ini diharapkan dapat mengurangi outstanding hutang perseroan dan pada gilirannya, beban bunga pada tahun-tahun berjalan dan tahun-tahun berikutnya. Oleh karena itu, profitabilitas perseroan diharapkan dapat meningkat mulai tahun 2022 dan seterusnya," jelasnya.

Hingga akhir Juni 2021 HERO mencatatkan kenaikan kerugian bersih yang fantastis, naik menjadi Rp 550,89 miliar, atau membengkak 173% dari kerugian pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 202,08 miliar.

Hal ini sebagian diakibatkan oleh pendapatan HERO yang tercatat menyusut 26% dari semula mencapai Rp 4,95 triliun, kini menjadi Rp 3,66 triliun.

Kondisi buruk ini terjadi ketika emiten ritel lain seperti MAPI (Mitra Adiperkasa), MAPA (MAP Aktif), RALS (Ramayana Lestari) dan LPPF (Matahari Departement Store) berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan melaporkan perbaikan kinerja dengan membukukan laba bersih pada semester pertama tahun ini.

Liabilitas HERO tercatat naik dari posisi akhir Desember tahun lalu sebesar Rp 2,98 triliun menjadi sebesar Rp 3,62 triliun pada Juni 2021, yang mana sebagian besarnya atau lebih dari 85% merupakan kewajiban jangka pendek.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Duh! Semua Gerai Giant Tutup Permanen Juli, Ini Alasan HERO


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading